Kamis, 18 September 2014

GO TO CHINAAAA

Amazing... setelah cek-cek di blog ane sendiri ternyata salah satu trip terbesar ane (yaelah..) ke china belum ane bikin catpernya. Jadilah ane bikin sekarang. Smoga bermanfaat.
So begini ceritanya............




Trip kali ini diikuti 11 orang anggota rombongan. Semula ada 13 orang namun karena berbagai hal 2 orang akhirnya gagal berangkat dengan kondisi tiket dan hotel udah di booking untuk 13 orang. So.. sayang memang tiket pesawat jadi hangus.

Karena pertimbangan situasi lalulintas yang tidak bisa ditebak maka kami memutuskan untuk segera menuju bandara Soetta pada jam 2 siang walaupun jadwal terbang sebenarnya jam 18.30 sore. Kalau hitungan normal 40 menit dari kantor kita dah sampe ke bandara, namun kalau tiba2 macet-cet-cet parah ga jamin 3 jam sampe juga. Yah mending lama nunggu daripada ketinggalan pesawat.

Ok, sejam kemudian kami sudah duduk manis di ruang tunggu lantai 2 terminal 3 Soetta. Pak Gultom dah mulai traktir donat karena yang lain merasa masih kenyang kalo mo makan lagi. Tapi sayang hanya di traktir donat doang pak ga sekalian minumnya hehe...ujung2 nya terpaksa terbirit2 ke store yg jual minuman. Abis shalat Ashar kami segera memasuki gerbang imigrasi dan sempat bikin macet pas bayar airport taxnya karena mbak2 bagian cek dokumen kerepotan ngurusin 11 orang berbarengan.

Kelar urusan airport tax dan pemeriksaan barang2 yang ruwet karena harus buka jaket dan ikat pinggang segala (untung ga disuruh buka celana) kita duduk manis lagi sampe pegel nunggu panggilan boarding.

Ketika panggilan boarding tiba para penumpang pun turun kebawah dan ternyata tidak seperti biasa para penumpang bisa langsung berjalan kaki menuju pesawat Air Asia yang menunggu di seberang terminal, biasanya kan jauh dan para penumpang harus naik bus menuju pesawat.

Sekitar jam sembilan waktu singapore kami pun sampai di singapore, pesawat mendarat di terminal 1 . Sehabis sholat di prayer room terminal 1 kami segera melewati pemeriksaan imigrasi dan melanjutkan perjalanan menaiki monorail menuju terminal 2, disana segera mencari lokasi cek in pesawat Scoot air tujuan Tianjin. Ternyata kounternya terletak di deretan paling ujung yaitu raw 12 dan satu deret dengan kounter pesawat Tiger. Selesai urusan cek in kami segera turun menuju gerai MC D yang berada pas di bawah tempat cek in tadi. Untuk Mc D disini tidak disediakan nasi jadi semua anggota rombongan hanya makan dengan dua pilihan yaitu burger atau ayam plus kentang.

Selesai makan buru2 lagi  masuk ke daerah pemberangkatan, untuk itu kami harus melewati cek imigrasi lagi dan berjalan menyusuri tempat2 boarding yang puluhan jumlahnya dan jauh jaraknya . Setelah tempat boarding di temukan ternyata room nya belum buka karena itu beberapa orang anggota rombongan langsung duduk lesehan di salah satu sudut ruangan, sementara para smokers ( pak gultom, pak agus dan pak sartono) memasuki sebuah smooking room untuk ngebul2.

Jadwal terbang kami jam 01.30, dan jam 01.00 para penumpang sudah berbaris memasuki boarding room, sekali lagi barang bawaan diperiksa oleh petugas. Mulai dari sini bahasanya udah rada2 ga ngerti yah..soale pake bahasa negeri tujuan. Paling2 taunya " Ni hao ma ".






Scoot air merupakan pesawat air bus dengan kapasitas angkut lebih dari 300 orang. Kursi di posisi 3 deret kanan, 4 deret di tengah dan 3 deret di kiri. Jadi satu baris ada 10 kursi. Hampir smua penumpang tertidur pulas pada perjalanan itu karena hari sudah larut malam dan baru terbangun ketika cahaya matahari pagi menembus kaca pesawat. Jam 7 an waktu China kami mendarat di Tianjin Airport. China....we are here...






Kesan pertama?........ dingiiiiin.
Ketika keluar dari bandara nyari bus yang akan mengantarkan kami menuju tianjin railway station udara dingin yang menusuk tulang langsung menyergap. Mula2 ane pikir ga akan lebih dingin dari udara di puncak bogor, tapi lama2 kok ya tangan dan pipi jadi nyeri kedinginan. Dan sebelum kena hipotermia atau apalah itu kami segera memakai perlengkapan perang yang sudah di siapkan dari rumah : jaket tebal, sarung tangan, topi kupluk, dan syal (sebelumnya juga dah make long jhon ).
Bus yang mengantarkan kami ini berjalan berdasarkan jadwal yang sudah tersedia, yaitu setiap setengah jam sekali sehingga kami harus menunggu dulu beberapa saat sebelum bus berangkat.

Setiba di perhentian bus dekat station tianjin kami masih harus tanya kanan kiri dulu pakai bahasa english, indonesia, sunda, padang dan bahasa tubuh sampai akhirnya mendapatkan secarik tiket kereta tujuan Beijing. Kabut pagi yang dingin mengiringi perjalanan kami dengan kereta jenis bullet train berhidung mancung menuju beijing yang hanya memakan waktu gak lebih dari 35 menit.
Di beijing kita sewa bus untuk nganterin rombongan ke hotel yang telah kita booking jauh-jauh hari. Hotel tersebut berlokasi tidak jauh dari situs sejarah yang terkenal di Beijing yaitu Forbidden city (kota terlarang) yaitu bekas istana kekaisaran China dulu dan juga dekat ke Wangfujin street sebuah jalan tempat nongkrong beijing citizen.

Sehabis cek in dan bersih2 diri sesuai rencana kami segera berjalan kaki menuju Tiananmens square, untuk menuju lokasi kami sempat tanya2 lagi sama orang di jalan, sempat juga rada khawatir ketika ada seseorang yang ngajak ngobrol rada lama sama salah satu teman, takut ada scam.., tapi untung ga lama kemudian kami udah menemukan jalan yang benar (alah....)

Foto2 dulu di depan tiananmen square sebelum memasuki sebuah lorong yang menuju lokasi istana terlarang (forbidden city ) , untuk menuju pintu masuknya kami harus berjalan cukup jauh melewati sebuah gerbang besar.
Ternyata pintu masuk ke istana itu memang berlapis lapis membentuk benteng benteng besar.Untuk menghemat waktu kami hanya berjalan lurus dari pintu masuk istana sampai  pintu akhir di belakang istana, itu saja menghabiskan waktu sekitar 1 ,5 jam. Kalau pakai belok-belok melipir kesudut2 istana mungkin ga cukup waktu 4 jam disana.

Dari pintu keluar forbidden city kami menumpang bus kota nomor 103 yang melewati wangfujin, bus rute ini penuh sesak namun kami berhasil masuk semua kedalamnya berdesakan dengan penumpang lain. Untung ga begitu lama bus sudah melewati wangfujin dan kami bisa turun. Biaya per penumpang hanya 1 yuan (Rp 1.650)

Di Wangfujin nyari restaurant halal ga ketemu akhirnya kita terdampar di McD. Abis dari sana yang rombongan ibu2 mulai survei toko2 disepanjang jalan wangfujin sementara yang cowok2 duduk dan foto2 sambil menikmati suasana jalan yang ditutup dari sore sampai malam hari itu.
Semakin malam udara semakin dingin (sekitar 3 C ) rombongan kami dengan perlahan berjalan kaki menuju hotel yang berada tidak jauh dari jalan wangfujin. Kami melewati deretan stall yang menjual segala macam jajanan dari sate buah yang dilumuri manisan, sate gurita, sate kecoa, lipan, bakso2an, sayur2an sampe bebek peking2an ( ane sempat beli bebek2an ini kena 50 yuan , mahal amit dengan daging bebek secuil yang ga begitu enak ).  Sempat terjadi accident ketika beberapa orang anggota rombongan tidak terlihat lagi. Sempat khawatir kalau mereka tersesat, namun ternyata dikarenakan udara yang sudah mulai menggigit kulit teman2 tersebut sudah pulang duluan menuju hotel.

Esoknya sesuai dengan perjanjian jam setengah tujuh kami sudah berkumpul di lobby hotel menunggu mobil tour yang kami sewa untuk kegiatan city tour. Jam 7 tepat miss Lily guide kami telah datang dan segera mengarahkan kami menuju bus yang sudah menunggu di seberang jalan. Pagi itu udara dingin masih terasa. Saya sendiri lupa bawa sarung tangan sehingga selama perjalanan harus menyelipkan tangan ke saku jaket, kalau ga tangan terasa nyeri karena kedinginan.




Pertama kali kami mengunjungi Summer Palace, tiket kalau ga salah 20 atau 30 yuan. Summer palace terdiri dari  bangunan2 untuk pertemuan, kemudian ada bangunan utama diatas bukit bekas permaisuri kaisar menginap, selasar panjang untuk permaisuri jalan2, danau besar, ada marble boat yaitu sebuah kapal dari batu yang ga bisa berlayar sebagai representasi kekuasaan kaisar yg ga bakal tenggelam dan taman2 yang luas. Di pintu keluar kami sempat melihat kegiatan lansia2 di China yang mengadakan dansa bersama di sebuah lapangan. Jadi di hari tertentu para lansia yang tidak saling kenal sebelumnya mengadakan pertemuan disana untuk melakukan berbagai kegiatan dengan dansa bersama sebagai menu utamanya. Disana sempet beli jagung rebus yang ga manis sama sekali dan ubi manis seperti cilembu seharga 3 yuan.

Dari Summer palace kami naik bus lagi menuju mesjid Niu Ji, Karena ini hari jum'at para lelaki menyempat sholat Jum'at disana. Mesjid Niu Ji berbentuk bangunan tradisional china tanpa ada kubah. Jum'atan diisi dengan Khotbah pendek dengan bahasa Arab dengan sebelumnya ada semacam wejangan yang panjang dengan bahasa China. Intinya kami ga ngerti apa saja yang di sampaikan hehe...piss.

Kelar dari sana kami menuju Temple of Heaven.
Menurut Lily guide kami Temple of Heaven adalah sebuah tempat pemujaan kaisar kepada dewa yang hanya kaisar aja yang tahu nama dewanya. Dan di tempat yang luasnya sekian hektar itu HANYA kaisar seorang diri saja yang beribadat dan tak seorangpun yang boleh masuk. Disana kaisar beribadat dengan memberikan korban belasan hewan2. Hewan2 Korban itu di potong dan kemudian di bakar.




Biaya masuk temple of heaven 35 yuan (kalo ga salah ingat) untuk 3 gerbang masuk dan satu untuk mengunjungi house tea. Tiket pertama hanya untuk masuk ke tamannya dimana banyak para lansia kumpul2 untuk bermain kartu, domino dll. sedangkan tiket berikutnya ke temple utama yang berbentuk bundar. Sehabis dari sana kami digiring menuju house tea dimana kita diperkenalkan dengan bermacam2 jenis teh dan ujung2nya di tawari untuk membelinya. Salah satu teh yang ditawarkan dan teman2 minati adalah teh poer'e. Teh untuk kesehatan dan melangsingkan badan. Harganya yang kotak kecil 300 yuan dan yang besar 500 yuan plus gratis gelas dan patung kecil shincan.

Tujuan berikutnya adalah sebuah pasar seperti ITC mangga dua dimana kita bisa beli oleh2/suvenir. Disana wajib tawar menawar dengan pedagangnya karena mereka memberikan harga yang tidak masuk akal bagi para pengunjung, contohnya untuk sepotong kaos tipis ditawarkan seharga 150 yuan (Rp. 240 rb), padahal di Tembok China kami dapat membelinya jauh lebih murah. Prinsipnya tawar saja 20% dari harga yg di sebut.

Dari sana sekitar jam setengah tujuh kami berangkat menuju Red Theatre dimana diselenggarakan pertunjukan Shaolin Kungfu. Tiket yang kami dapatkan melalui miss Lily seharga 145 yuan, lebih murah daripada yang ditawarkan hotel yaitu 200 yuan. Pertunjukannya lumayan bagus. Sayang  kami kebagian duduk di lantai 2 jadi pemandangannya kurang luas.

Keluar dari gedung Red Theatre udara dingin malam kembali merasuki kami, dan meminta pak driver untuk segera mengantar kami kembali ke hotel. Akhirnya malam itu semua anggota rombongan tepar di kamar masing2.

Ntar lanjut lagi ya untuk hari kedua...
Jempolnya manna....


Sabtu, 23 Agustus 2014

Yang Pertama





Yang pertama memang selalu teringat, apapun itu  :)

Nah sekarang cerita tentang pengalaman pertama ane nge trip ke luar negeri, tujuan pertama apa lagi kalau ga negara tetangga terdekat  :   .. Cingapuul....en Kuala Lumpul..

Ada beberapa hal yang ane inget saat itu.

1. Yang pertama waktu cek in di loket penerbangan, si mba2 nya  meliat lama paspor ane yang masih perawan, belum ada satupun cap2 an dari negara manapun disana bahkan cap dari negara sendiri. Si mbaknya nanya apakah sudah punya tiket untuk kembali ke indonesia dan ane pun harus memperlihatkan tiket kembali tersebut untuk meyakinkan si mba kalau ane punya tiket kembali karena tiket yang ane punya bukan tiket return (pulang pergi) tapi terpisah alias tiket one way masing2nya. Si mbanya takut kali ane mau jadi TKI Ilegal di sana.

2. Yang kedua karena waktunya masih lama maka ane duduk dulu di selasar depan sebelum masuk ke boarding room, setelah duduk beberapa saat trus di samping ane duduk lagi seorang cowok bule make kemeja. Ane lirik2 dia..... setelah itu ane mikir si bule ama ane emang beda jauh.., liat aja  :
ane megang boarding pass budget airline... si bule megang boarding pass Singapore Airlines  !!!
Ane pake baju canvas ala indian jones.... si bule pake kemeja rapi...
Pas kita sama2 buka bekel buat ngemil si bule makan sandwich,.. ane....... makan gorengan bakwan !!!

3. Pas waktunya untuk boarding udah merasa dekat ane dengan pasti memasuki ruangan boarding, sebelumnya di pintu masuk mba2 yang jaga priksa boarding pass dan mempersilahkan masuk. Ok ane masuk dan duduk tenang di dalam. Tik.... tak....tik...tak.... waktu berjalan. Lama-lama ane ngerasa sedikit aneh kok ya ini boarding room  masih sepi2 aja ya... ah kali ada pengumuman delay cuman ane ga tau.... ane mencoba berpikir begitu. Maklum baru pertama mau ke LN kan ane ga tau juga prosedurnya gimana.  Eh tiba-tiba ane jadi waspada, berbagai kemungkinan berkelebat di otak ane ketika seorang petugas penerbangan melangkah cepat ke arah ane... What !....   dan ketika si petugas bertanya : ke singapur mas ?..ane menggangguk.... daaaan.. ketika si petugas nanya lagi : boleh liat tiketnya mas ? ............bwaaa.......... baru ane ingeeet..... Ane salah masuk ruangan boarding !!!
Jadi ketika boarding pass ane tunjukin ke petugas ane udah tau kata2 berikutnya : mas salah gate......
Ane langsung ngibrit ke gate sebelaaah ninggalin si petugas .... takut telat mas...
Alhamdulillah sampai di gate yang bener proses boarding baru akan mulai..

4. Pas di dalam pesawat ane khawatir banget gimana cara mencari transportasi ke hostel yang ane udah pesan. Mau tanya-tanya ke tetangga sebelah kok ya malu, gengsi ah.... apalagi pas ada yang nanya : mas ke singapura lagi dines ya ? dan ane jawab iya sambil senyum lebar. Tetangga itu nanya pasti gara gara jaket kantor yang ane pakai karna ane takut ntar di tanyain imigrasi di Singapur punya kerjaan apa di tanah air.

5. Pas di imigrasi ga di tanyain apa-apa malah petugasnya bilang : selamat siang , pakai bahasa indonesia.

6. Keluar dari MRT bingung arah ke hostel yang mana, lebih satu jam muter2 disana dan ga satupun orang yang memberikan info jelas tentang hostel itu. Bahkan kakek2 penjual es krim belum ane tanya udah nolak duluan. Namun sepasang bapak ibu Indian akhirnya mau memberikan sedikit info lokasi jalan dimana hostel ane berada dan si hostel akhirnya ane temukan.

7. Beli aqua botol di sentosa island bikin ane rada shock.... waktu itu 14 rebu rupiah untuk sebotol air mineral lumayan bikin ane tergoncang hehe..... namun akhirnya terbiasa setelah beberapa trip ke depan.

8. Ane terlambat lagi sampai ke pool bus Singapore - Kuala Lumpur !!!  gegara ane lupa no bus yang menuju kesana.. Ane tanya hampir sepuluh orang di halte bis ga ada yang tau bahkan sampai ada sepasang remaja India buka2 peta untuk mencari lokasi bus dan akhirnya menyerah.... Sorry uncle can't help you  (ih perasaan ane tua banget yak di panggil uncle ). Dan di ujung keputus asaan Allah selalu nolong ane. Akhirnya ketika ane nanya ke seorang petugas parkir beliau bisa memberikan petunjuk jelas nomor us dan dimana harus menunggunya..... really2 last minute.....

9. Ketika nyari2 hostel di daerah bukit bintang ane sempet masuk ke sebuah hostel dimana ane ngerasa di diskriminasi ama yang punya hostel. Ceritanya saat ane nanya2 harga kamar eh ada bule masuk dan si pemilik hostel nyuekin ane dan lebih fokus ngelayanin tu bule... ya udah ane langsung aja cabut tuk nyari hostel laen, mentang2 ane malayu di pikir ga bisa bayar apa............

10. Ane mikir ini mungkin yang pertama dan terakhir ane ngunjungin Kuala Lumpur, jadi ane nyoba nikmatin betul langkah ane di sini.  Dan ternyata.............  sampe sekarang udah ada 10 an kali lagi ane berada di KL baik buat nge trip di sana atau cuman buat transit doang.

Kamis, 17 April 2014

UMROH SEMI BACKPACKER (2)

                      *Antri di depan imigrasi Jeddah, Arab Saudi


MADINAH

Perjalanan dari Jeddah ke Madinah memakan waktu 6 jam. Rombongan kami berhenti satu kali di sebuah "rest area" untuk sholat Zuhur dan makan.

                * Ini mesjid tempat kita sholat Zuhur yang berlokasi di samping sebuah restauran Arab

 * Muttawif (guide) kami memesankan nasi ayam yang tampak seperti di foto untuk semua anggota
  rombongan. Satu piring dimakan berdua.



                                          * Kartu Imigrasi Arab Saudi



 Bus yang membawa kami memasuki kota Madinah saat waktu Ashar tiba, hotel kami berada beberapa blok dari halaman depan masjid Nabawi. Kesan pertama waktu itu terlihat kawasan pertokoan di sekitar hotel  terlihat sangat sepi dan tidak satupun yang buka. Saya sempat berpikir ini adalah hari libur sehingga tidak terlihat orang yang berlalu lalang dan toko yang buka . Ternyata setelah di terangkan oleh Muttawif kami barulah saya mengerti ternyata setiap waktu shalat tiba semua toko dan aktivitas berhenti dan semua orang melakukan sholat ,toko baru kembali dibuka ketika shalat sudah selesai.

Sewakti cek in kami tertahan sebentar karena adanya kesalah pahaman tentang jumlah kamar yang dipesan. Beberapa anggota rombongan yang suami istri telah memesan sebelumnya saat dari Indonesia kalau mereka akan tinggal sekamar dengan pasangannya dan untuk itu mereka sudah membayar lebih ( US$150 per pasang ) akan tetapi pihak travel sini memesan ruangan dengan kapasitas 4 s/d 5 tempat tidur perkamar, alias yang wanita dan yang laki2 tidur di kamar masing2 dan tidak sekamar dengan pasangannya.
Beberapa saat setelah pihak travel di Arab ini berkomunikasi dengan travel di Indonesia akhirnya pasangan yang telah memesan kamar sendiri mendapatkan kamar mereka. Sedangkan saya sendiri mendapatkan kamar dengan 5 tempat tidur yang diisi oleh 4 orang. Saya dan Mas Catur yang single travel dan 2 orang teman lagi yang terpisah dengan istrinya masing-masing karena memang tidak memesan kamar khusus sendiri.

                                    * ini adalah penampakan kamar hotel kami.

Untuk hotel yang kami tempati ada beberapa gambaran yang mungkin harus di ketahui oleh para pengunjung.
Sebelumnya ini adalah penampakan depan hotel yang kami tempati : Hotel Wasel Faraj






Dari penampakan depan bolehlah hotel ini dimasukan kepada hotel bintang 4 atau serendah-rendahnya bintang 3. Ada lobby hotel lengkap dengan porter boy. front office, lift, hotel bertingkat 20 an lantai. Tapi kondisi kamar seperti yang terlihat pada gambar diatas. Beberapa kamar ada tv dengan hanya satu channel, yang lainnya malah tidak tersedia TV, jadi jangan diharapkan ada meja kursi dengan lampu tidur, lemari mulus dengan sandal hotel di dalamnya. Plus tidak ada kamar mandi di dalam kamar alias kamar mandi tersedia di luar. Untuk satu sisi deretan kamar tersedia 3 kamar mandi. Di sebuah blog yang saya baca seorang blogger bilang ini adalah "Hotel dengan rasa Hostel". Dan tampaknya fasilitas seperti ini merupakan hal umum dan terjadi di semua hotel, TAPI "mungkin" di beberapa hotel yang sudah punya nama seperti Hilton , Swissbel dan temannya2 punya standar yang berbeda. Saya bilang "mungkin" karena saya secara pribadi belum pernah juga menginap di hotel2 berstandar Internasional tsb.

Jadi kamar kami ini dilengkapi oleh :
- 5 tempat tidur single
- Tv dengan 1-2 channel.
- Lemari tua
- Tumpukan springbed tua di depan tv
- Kulkas yang kalau tidak salah ingat memang tidak berfungsi

- AC 

Tapi untuk rombongan kami yang memang punya judul "semi backpacker" fasilitas hotel tersebut sudah cukup baik dan juga toh dipergunakan untuk tidur saja karena aktivitas kami akan lebih banyak di mesjid. 

Setelah urusan cek in selesai kami pun masuk kamar masing2 dan beres2 in bawaan . Dan sebentar kemudian saya sendiri lari terbirit2 dengan jantung berdebar2 menuju mesjid Nabawi, Mesjid sang Nabi... untuk mengejar shalat Ashar.

Setelah melewati dua blok bangunan terpampanglah di depan saya Mesjid Nabawi yang selama ini hanya saya lihat fotonya............ yang apabila shalat di dalamnya pahala yang di dapat sama dengan 1000 x shalat di tempat lain.



Kekhasan mesjid ini adalah terdapatnya kuburan Nabi Muhammad SAW di samping tempat imam mesjid, kemudian terdapat Raudah yaitu tempat yang mustajab untuk berdoa. Untuk dapat melihat kuburan nabi dan sholat sunat di lokasi Raudah merupakan perjuangan sendiri karena sangat banyak nya orang yang juga ingin menziarahi kuburan nabi dan sholat di Raudah. Saya sendiri setelah beberapa kali mencoba akhirnya bisa juga sholat di dalam Raudah ,itupun karena diberikan jalan oleh Allah SWT. Ceritanya saya sudah mulai putus asa untuk bisa masuk ke Raudah setelah beberapa kali mencoba gagal terus sehingga suatu saat saya hanya berniat ingin shalat di deretan depan sejajar dengan lokasi Raudah. Baru saja mau duduk dengan niat membaca Al Quran terdengar suara gemuruh orang-orang dibelakang saya yang berebutan menuju  Raudah karena kain pembatasnya dibuka oleh Askar yang menjaga dan saat itu jalan menuju kesana terlihat lapang sekali, maka saya pun ikut masuk dengan rombongan yang bergemuruh tadi. Alhamdulillah bisa sholat disana walaupun awalnya sempat salah lokasi sholat karena ternyata lokasi Raudah yang asli itu tidak dibatasi dengan kain, tapi.......... dibedakan dengan warna karpet mesjid. Apabila warnya hijau berarti itulah lokasi Raudah, kalau masih karpet merah maka itu bukanlah Raudah.

Secara umum kota Madinah sepi2 saja, namun kalau sudah ada di sekitaran masjid Nabawi maka kepadatan akan terlihat. Masjid Nabawi selain dikelilingi oleh hotel2 jangkung juga di penuhi dengan toko2 yang menjual keperluan jamaah termasuk aneka oleh2 souvenir. Di pintu keluar masjid setiap habis sholat akan dipenuhi oleh PKL yang menjajakan aneka rupa souvenir dan minyak wangi, Di pintu keluar wanita malah lebih beraneka ragam lagi jualannya. Ada yang menjual buah-buahan, kurma, makanan dan juga souvenir. Karena banyaknya jemaah berasal dari Indonesia maka para pedagang disana menguasai juga bahasa Indonesia, setidaknya harga dagangannya.  Disebuah deretan pertokoan yang menjual aneka makanan terlihat dua toko yang memakai nama " BAkso Doel" dan sebuah nama indonesia lagi, namun ketika saya masuk ke dalam sebagian besar makanannya adalah makanan India dan Arab, si Bakso sendiri tidak terlihat.

Disana biasanya saya beli jus buah seharga 5 riyal dan kebab seharga 6 riyal. Beberapa blok dari sana ada sebuah restauran yang memasang nama "Indonesia Restaurant" di depan bangunannya, namun di brosur mereka terlihat kalau nama tempat mereka adalah Rumah Makan Al Karat.  Tapi setidaknya beberapa orang pelayan disana adalah orang Indonesia dan beberapa makanannya juga mirip2 makanan Indonesia, dan disini saya lihat mereka juga menjual bakso yang kebanyakan di pesan oleh ibu-ibu (masih mikir kenapa ibu-ibu suka bakso ya ). Harga seporsi nasi dan lauk disana antara 12- 18 riyal.

MADINAH CITY TOUR
Kami sampai di Madinah hari Kamis dan di rencanakan pada hari Minggu baru menuju Makkah.
Jadi hari Jum'at pagi kami diajak sang Muttawif untuk berkeliling kota Madinah dan direncanakan nanti mendekati sholat Jumat sudah sampai kembali ke hotel.

Rombongan kami kembali menaiki bus besar kapasitas 40 orang seperti kemaren. Tujuan pertama kami adalah mesjid Quba. Sang Muttawif menyarankan kami untuk mengambil Wudu dari hotel dan kemudian sholat sunat disana karena pahala orang yang datang ke mesjid tersebut dalam keadaan sudah berwudu sama dengan pahala umroh itu sendiri.

                                                    * mesjid Quba

Kemudian rombongan menuju Kebun kurma. Awalnya saya pikir kami akan melihat2 sebuah kebun luas yang penuh dengan pohon kurma namun ternyata kebun kurmanya tidak dibuka dan pengunjung diarahkan ke tempat penjualan kurma saja. Setelah itu kami diantar ke  pegunungan Uhud dimana pernah terjadi perang Uhud disana. Beberapa orang teman selain foto2 juga sempat mendatangi sebuah tempat penjualan yang menurut informasi menjual rempah2 untuk kesehatan khusus buat wanita namun sayang ternyata penjualnya tidak berada ditempat saat itu sehingga rombongan kami pun segera kembali ke bus dan segera menuju ke hotel.

Setelah melewati 3 hari di Makkah maka pada hari Minggu setelah sholat Zuhur kami bersiap2 menuju Mekkah untuk melaksanakan Umroh.
 



Sabtu, 05 April 2014

UMRAH SEMI BACKPACKER (1 )

" Ingatan.... suatu hari akan hilang.......
  Maka menulislah maka ingatanmu akan kekal "


Sebelumnya saya ingin menyampaikan bahwa niatan menulis post ini pada dasarnya adanya keinginan diri saya supaya pengalaman yang saya tuliskan dapat membantu para pembaca untuk terinspirasi, terinformasi ,berkeinginan atau dapat membantu memberikan informasi pada pembaca yang memang berencana melakukan ibadah umrah ataupun haji baik dengan metode travel reguler, tavel independen atau travel semi backpacker dan real backpacker. Dan juga yang pasti semoga saya dijauhkan dari sifat riya dalam membuat tulisan ini.



AWAL PERJALANAN

Suatu ketika saya di undang atau mendaftarkan diri (lupa juga yg mana) untuk menjadi anggota sebuah komunitas di facebook yang mengkhususkan diri untuk berburu tiket2 murah dari Indonesia ke Jeddah dalam rangka untuk umroh. Setelah beberapa saat hanya menjadi silent reader di komunitas tersebut tiba-tiba di suatu malam saya melihat seorang anggota komunitas yang juga merupakan seorang anggota dari sebuah komunitas backpacker facebook yang juga saya ikuti memuat post menanggapi sebuah postingan tentang adanya penawaran tiket promo dari sebuah maskapai dari Kuala Lumpur tujuan Jeddah. Si pembuat posting yang pertama menawarkan untuk membuat sebuah grup pemberangkatan umroh dengan menyesuaikan tanggal - tanggal promo, yang kemudian ditanggapi oleh anggota backpacker tersebut keinginan untuk ikut bergabung dan langsung searching tiket dengan tanggal-tanggal di bulan yang promo. Terus terang keinginan untuk bergabung dengan grup yang baru posting itu muncul di diri saya karena adanya keinginan dari anggota backpackeran itu untuk bergabung juga. Kenapa demikian ? karena walaupun tidak pernah bertemu ataupun berkomunikasi dengannya baik di komunitas, di forum atau dimanapun tapi karena member tersebut lumayan aktif di forum backpacker yang saya ikuti sehingga record travelnya saya ketahui maka saya merasa ia satu-satunya "teman yang saya percaya" pasti serius untuk ikut mengikuti grup pemberangkatan umroh ini. Setelah beberapa jam sibuk deal-deal kapan waktu yang tepat untuk berangkat dan pulang di forum itu akhirnya empat orang memastikan ikut dengan tanggal yang disepakati. 
Namun berdasarkan info yang didapat dimana untuk membuat grup pemberangkatan harus minimal ada 8 orang maka grup kami tersebut masih tetap menunggu anggota-anggota lainnya yang berminat untuk bergabung . Kami sendiri yang sudah fix mendapatkan tiket berusaha menginformasikan grup keberangkatan ini kepada teman2 kami lainnya baik lewat media sosmed maupun langsung. Untuk yang berminat gabung dapat langsung membeli tiket pesawat sendiri dengan menyesuaikan tanggal keberangkatan dan kepulangannya dengan tiket kami.  Dan Alhamdulillah setelah beberapa hari akhirnya minimal 8 orang yang disyaratkan terkumpul. Mas Catur yang pertama memposting/ membuat grup pemberangkatan kami angkat menjadi ketua rombongan. Dia pun mulai mengumpulkan salinan/foto tiket-tiket pesawat dari kami yang sudah membeli sendiri-sendiri via online. 
Hari- hari pun berlalu dan peserta pun bertambah lagi walaupun harga tiket maskapai penerbangan low budget yang kami beli merangkak naik. Sepasang suami istri dari Batam merupakan peserta terakhir yang bergabung dengan grup kami dengan membeli tiket pesawat termahal. Alasan pasangan tersebut bergabung walau dengan mendapatkan harga tiket yang mahal seharga tiket pesawat reguler ( yang bukan penerbangan budget ) adalah ingin merasakan perjalanan umroh dengan style semi backpacker karena beliau berdua sebelumnya pernah melakukan perjalanan umroh tapi dengan mengikuti paket dari Travel.

Sampai suatu saat anggota kami berjumlah 18 orang terdiri dari 6 orang dari Jakarta, 2 dari Batam, 3 dari Surabaya, 2 Dari Jogja, 1 dari Pekanbaru, 1 dari Makassar, 2 dari Kalimantan dan 1 lagi lupa dari mana :)

Setelah anggota grup jumlahnya sudah fix/pasti berdasarkan tiket penerbangan yang terkumpul maka kemudian kami berunding lewat facebook travel mana yang akan kami datangi untuk menanyakan paket land arrangement ( paket yang hanya menyediakan kebutuhan kita di Arab Saudi yaitu antar jemput dari bandara, transportasi dari Jeddah, Madinah dan Mekkah serta menyediakan hotel dan menjadi penjamin kita ) termasuk bersedia menguruskan visa umroh buat kita. 

Setelah travel yang bersedia mengurus land arrangement dan visa umroh ditemukan dan ditentukan maka kami segera bersiap- siap mengumpulkan dokument2 yang diperlukan untuk pengurusan visa yaitu :

1. Foto copy KTP
2. Kartu kuning suntik Maningitis
3. Paspor asli dengan nama 3 suku kata
4. Foto copy kartu keluarga
5. Foto copy tiket pesawat pulang pergi
6. Surat muhrim untuk wanita yang pergi tanpa suami. (diurus sama travel)

Setelah dokumen terkumpul semua maka travel segera mengurus land arranggement di Arab Saudi dan visa kita.
Karena kami hanya memesan land arragement dan visa maka perlengkapan untuk umroh kami cari sendiri yaitu :

1. Baju ihram
2. tas sandang kecil untuk menaroh dokumen
3. baju selama disana
4. Perlengkapan mandi (handuk,sabun dll)
5. Buku petunjuk pelaksanaan umroh

Dalam perjalanan pengurusan visa ternyata ada beberapa kesalahpahaman antara beberapa orang dari grup kami dengan travel penyelenggara yang berakibat rombongan kami yang semula ada 18 orang terbagi menjadi dua sehingga di grup kami tinggal 13 orang, sedangkan sisanya menggunakan travel lain. Namun karena kita pesan tiketnya barengan maka kita tetap dalam satu pesawat pulang dan pergi.

Here we go...., visa dapat dan waktu pemberangkatan yang ditunggupun tiba.Rombongan kami karena berasal dari banyak daerah sepakat akan berkumpul di Terminal LCC Kuala Lumpur.

Day 1

Pesawat yang membawa saya dari Jakarta menuju Kuala Lumpur akan bertolak jam 8 malam. Jam 3 sore saya sudah berangkat dari Bogor menggunakan bus Damri menuju bandara. Mungkin bukan jam pulang kantor maka perjalanan ke bandara lancar dan tidak terjebak macet yang berlebihan sehingga jam 5 saya sudah berada di terminal 3 bandara Soekarno Hatta. Untuk perjalanan ini saya sudah mengambil cuti 8 hari dari kantor.
Melakukan cek ini lewat alat self cek in yang berada di pelataran bandara, ternyata saya hanya bisa cek in untuk penerbangan Jakarta - Kuala Lumpur - Jeddah saja sedangkan untuk penerbangan pulangnya tidak bisa. Karena waktu berangkat masih lama saya cari makan dulu di sebuah food court yang bergaya jawa di lantai 2 . Saya memesan nasi ayam penyek yang ternyata ngga begitu enak dibanding penjual ayam nyet langganan saya plus sebotol aqua. Semua harus saya bayar seharga 55 ribu rupiah.
Dua jam sebelum waktu keberangkatan saya melewati imigrasi dan masuk ruangan boarding. Di Terminal 3 pintu boarding untuk penerbangan internasional walau kemanapun tujuan kita tetap hanya satu. Sebelum masuk ruangan boarding saya bayar airport tax dulu di desk penerbangan saya. Disini ada kejadian ketika saya sudah selesai membayar airport tax dan menerima kembali paspor salah seorang petugasnya mengejar saya yang sudah terlanjur berjalan menuju ruang boarding. Ternyata ia ingin mengecek kembali paspor saya karena baru "ngeh" kalau tujuan akhir saya adalah Jeddah, tentu yang di cek adalah visa umroh saya. Saya memaklumi tindakan petugas tersebut yang pasti heran karena saya berangkat umroh tapi kok hanya sendirian saja dan juga tidak memakai seragam dari travel seperti yang biasa terlihat pada rombongan umroh.

Setelah yakin saya mengantongi visa umroh maka petugas tersebut mengembalikan paspor saya dan sayapun melenggang menuju ruang boarding.

Sesuai jadwal pesawat ke kuala lumpur berangkat dan mendarat di Terminal LCC Kuala Lumpur, terminal budget yang terpisah dari terminal KLIA Kuala Lumpur. Karena saya memesan tiket Flight true maka saya tidak perlu menuju meja imigrasi tapi saya langsung menuju pintu boarding untuk penerbangan berikutnya. Di pintu  boarding kita akan kembali cek in di meja maskapai penerbangan untuk mendapatkan boarding pass penerbangan berikutnya walaupun sebenarnya saya sendiri sudah mempunyainya ketika cek ini di Jakarta tadi. Disini kembali petugas menatap curiga saya ketika mengetahui saya akan menuju Jeddah, petugas itu menanyakan apakah saya pergi dengan rombongan atau tidak dan kemudian meminta saya menunjukan visa umroh yang saya dapat. Visa umroh saya memang sakti ! setiap petugas melihatnya maka urusan cek in saya akan lancar.
Di dalam ruangan boarding yang besar dengan belasan pintu keberangkatan itu saya harus cari2 an terlebih dahulu sebelum akhirnya ketemu dengan seorang ibu2 anggota rombongan yang juga memakai fasilitas fligh trought , beliau pergi sendirian. Setelah itu baru anggota rombongan lainnya dari Jakarta, Pekanbaru, Jogja, Makassar , Pontianak dan Bangkalan via Surabaya yang tidak memakai fasilitas fligh through bergabung dengan kami. Saat itu mas Catur dari Surabaya yang menjadi kepala rombongan membagikan name tag kita yang berisi foto, nama negara, nama hotel dan penanggung jawab kita di Arab Saudi.
Ketika pengumuman boarding tiba saya akhirnya bertemu dengan peserta dari Batam yang kebetulan buku tuntunan umroh dari travel milik mereka di titipin ke saya dan saya menyerahkannya pada saat itu.
Malam itu jam satu dinihari penumpang tujuan Jeddah mulai memasuki pesawat besar yang akan mengantar kami ke kota Jeddah, terlihat hampir semua kursi penumpang yang tersedia terisi penuh. Ternyata rute Kuala Lumpur - Jeddah ini termasuk rute gemuk dan yang pasti semua penumpangnya adalah pemegang visa umoh. Ketika pramugara/pramugari menunjukan tempat duduk kita mereka memanggil haji untuk laki-laki dan hajjah untuk wanita.
Perjalanan di tempuh sekitar 9 jam dari Kuala Lumpur. Selama di perjalanan di sediakan 2 kali makan. Beda waktu antara Jeddah dan Kuala Lumpur adalah 4 jam sehingga ketika saya sudah terbangun sempurna sesuai dengan jam biologis saya setelah tidur malam ternyata hari masih gelap dan waktu subuh belum tiba, hal serupa juga terjadi dengan penumpang yang lain sehingga malam itu pesawat sudah terdengar gaduh dan lampu kabin juga sudah menyala terang. Pesawat yang mengangkut saya ini ada 9 kursi perbaris jarak 3-3-3 
dengan 2 alley untuk pejalan. Ukuran kursinya menurut saya lumayan kecil sehingga susah untuk meregangkan badan. Saya sempet menyesal tidak membeli bantal leher seperti mas catur yang terlihat nyaman tidur dengan bantal lehernya. Sempat beberapa saat saya merasakan kram di punggung tapi malas untuk bangkit dari tempat duduk.

Jam 7 waktu Jeddah kami sampai di Jeddah. Setelah turun dari pesawat kami dijemput oleh beberapa bus yang mengantar kami ke ruang kedatangan. Sepertinya setiap penumpang pesawat akan diantar ke ruangan berbeda tergantung dari mana pesawatnya berasal karena ruangan kedatangan kami ini berukuran kecil sehingga terlihat padat sekali karena kita juga belum diperbolehkan langsung menuju ruangan imigrasi. Sepertinya ruangan ini dkhususkan untuk pesawat yang datang dari asia tenggara dan Irak atau Iran karena hanya ada dua bangsa itu di ruangan kedatangan kami. Beberapa kali orang-orang yang tidak sabar menunggu dan mencoba menerobos ke ruang imigrasi di usir kembali menuju ruang kedatangan oleh petugas yang bertampang tidak ramah, walaupun terlihat ruang imigrasi kosong dan petugasnya asyik ngobrol saja.

Tak beberapa lama kemudian ruang imigrasi di buka namun kami belum diperbolehkan masuk karena dari pintu kedatangan yang lain yang kami tidak tahu dimana itu terlihat rombongan jamaah umroh berkulit hitam yang pasti dari negara2 di Afrika datang menuju counter2 imigrasi. Mereka terdengar gaduh dan kinclong dengan baju-baju tradisional mereka yang besar dan warna warni kuning, perak dan keemasan.
Selesai jamaah dari afrika itu barulah kami di perbolehkan menuju imigrasi, jamaah perempuan dan laki-laki dipisahkan lajurnya. Belum Selesai kami yang dari Indonesia dan Malaysia ini melalui imigrasi terdengar lagi rombongan masuk dari lantai 2 bandara, mereka kebanyakan berperawakan gendut dan berkumis tebal, berpakaian jas tipis, celana aladin dan pinggangnya dililit dengan kain panjang, beberapa terlihat seperti Saddam Husein mantan presiden Irak itu, yang wanitanya memakai jubah hitam-hitam. Sepertinya mereka berasal dari Turki. Rombongan ini langsung berebutan mengikuti barisan yang paling sedikit di belakang kita dan ribut bercanda sementara kita yang Melayu terliah kalem saja.

Setelah kelar urusan imigrasi teman-teman rombongan segera menuju pengambilan bagasi. Ternyata disana cobaan sudah menanti, 3 orang teman kami yang berbeda travel kehilangan bagasi, mungkin masih nyangkut di Kuala Lumpur.
Karena grup kami yang 13 orang sudah ada yang menjemput akhirnya kami pamit duluan untuk keluar gedung bandara menuju tempat bus jemputan menanti.
Ternyata bus yang menjemput kami itu berukuran bus besar dengan kapasitas 40 orang sedangkan kami hanya 13 orang, maka berleha-leha lah kami di bus itu. Bus berhenti di sebuah persimpangan untuk menjemput Muttawif atau guide kami dan 2 orang anggota rombongan kami yang lain yang tidak berbarengan pesawatnya karena mereka tiba di Terminal Internasional bukan Terminal Haji seperti kami.

Dari Jeddah kami diantar oleh bus menuju Madinah yang memakan waktu 6 jam diselingi berhenti di suatu tempat untuk shalat Zuhur dan makan.



Jumat, 28 Februari 2014

Bkk-Pty-Chiangmai (3) : "RUSH HOUR"







Abis dari Grand Palace kita iring2an lagi masuk pasar dan nungguin boat berbendera orange di pinggir sungai chao praya, Ketika boat datang kita buru2 lagi masuk, berdasarkan pengalaman tadi kita yakin pasti masuk semua, pokoke nylusup aja ke dalam boat walau boat terlihat penuh, persis naik bus PPD.
Setiap abis mampir dari satu pier ke pier lain saya rewel nanya ke kondektur apakah pier yang kita tuju (shatorn pier namanya kalo ga salah inget ) udah dekat apa belum.
Ternyata pier yang kita tuju kayaknya pier terakhir dari  boat itu sehingga semua penumpang turun semua disana. Setelah turun dari boat kita langsung naik ke terminal kereta BTS, disana pertama bingung cara beli tiketnya yang pake mesin itu, kayaknya harus pakai duit logam deh...lha kita segini banyak gimana nyari duit logamnya? akhirnya tanya ke loket yang buat nukar uang eh si mba nya langsung ngasih tiket keretanya buat kami semua dan bisa langsung bayar di loket. Ok thank mba..............
Kita naik BTS menuju stasiun siam dimana stasiun tersebut dekat dengan Siam Paragon Mall dimana museum Madame Tussaud berada. Lama juga muter2 di dalam nyari museumnya karena begitu luasnya Mall tsb.
Ketika museum ketemu jam udah menunjukan jam 1 siang. Kita janjian cukup satu jam saja di dalam dan segera cabut balik ke hotel karena udah janjian akan dijemput van yang akan membawa kita ke Pattaya jam 3 sore.
Saya sendiri sama beberapa temen nunggu di luar sambil makan di food republic yang makannya pakai kartu itu. Jadi kita harus beli dulu kartu dan diisi dengan nominal yang kita kehendaki, setelah itu baru bisa beli2 di berbagai kounter makanan yang ada disana dengan alat bayar pakai kartu tsb.
Tunggu punya tunggu jam 2 beberapa teman udah keluar dari museum. Tapi mba Fifi dan Dwi belum nongol juga, Jam 2.30 mereka belum ketemu. Saya bolak balik melihat pada pintu keluar yang di lantai atas dan di lantai bawah, juga berupaya mencari mereka sekeliling lantai yang sama dengan pintu keluar, takutnya mereka keluar dan nyasar tetep ga ketemu. Akhirnya pasrah aja dan ketika jam mau mendekati pukul 3 baru mereka berdua keliatan keluar berjalan menuju kita berkumpul di Food Republik itu. Waduh gimana ini kita kan janjian jam 3 pas dengan van jemputannya. Coba telepon ke mba travelnya pertama2 ga nyambung terus. Yang kedengaran malah suara operator otomatis berbahasa thailand. Tapi akhirnya nyambung juga. Setelah kita omongin ke mba nya bahwa kita telat pulangnya dan minta jemputan diundur jadi jam 6 pertamanya si mba travel menyanggupi dan akan menghubungi si mobil van. Eh tapi beberapa menit kemudian si mba nya telepon lagi dan bilang si van nya ga bisa di undur alias tetep akan jalan jam 3 sesuai perjanjian dan kalau telat uang yang kita bayarkan akan hangus karena kita tidak berada di tempat. Waduh lagi.............. aaah padahal udah bayar 5000 baht untuk 2 van.
Setelah kita ngeyel2 an akhirnya dikasih waktu setengah jam harus sampai di hotel karena van-nya udah dateng. Pertama saya udah putus asa aja soale ga bakalan kekejar 30 menit sampai hotel, bayangkan kita harus buru2 ke stasiun BTS lagi, abis itu naik boat orange ke pier kita yang lumayan jauh.. belum nungguin BTs dan boatnya datang. 
Tapi temen2 kasih semangat, yang tadinya ada yang lagi mesen makanan di suruh di bungkus aja atau cancel pesanannya ( padahal ini jam 3 dan baru nyarap pop mie doang di hotel) dan kita buru2 ke stasiun BTS. Kita dah dag dig dug aja, Saya sendiri ngebayangin 5000 bhat melayang dan kita harus bayar van lain karena telat. Di stasiun beli lagi tiket lewat loket penukaran koin. Tiket dapat bergegas ke lantai atas nungguin BTS.
Sampai di stasiun yang berdekatan dengan Shatorn Pier kita turun dan berjalan cepat menuju pier nungguin si boat orange. Hadeuuu.... belum si mba nya nelpon terus kita dah sampai dimana, trus ngasih info lagi 10 menit lagi harus sampai ya......... Iya mbaaaaak..lagi OTW neeh.

Boat orange pun datang dan kita masuk buru2 lagi.

Foto : dari flickklirt dari google





Di dalam boat karena buru2 gitu sebagian temen2 rombongan ngga ngeh kalo kita sebenarnya melewati Wat Arun sehingga pas pulang nanya2 wat Arun dimana ya ? kok ga kelihatan.



Di tengah perjalanan si mbanya nelpon lagi, saya bilang aja dah sampai pier dan mau menuju ke hotel padahal sebenarnya masih jauh sih, mungkin ada  6 pier lagi yang harus dilewatin. Eh si mbanya bilang : Ok..we wait 5 minute more, if not come, van go..." .. Hayyaaaa..........

Aduh perasaan ni lama amat boatnya jalan ya.........hehe..
Pas udah 2 pier lagi, telpon kring2 lagi dari si mba travel tapi saya diemin aja, pas kita sampai di pier tujuan saya langsung lari terbirit2 menuju hotel dan............... si mbah travelnya dah nunggu di depan gang.
Begitu melihat saya langsung dia panggil si koordinator van sewaan, yah....saya mau bilang apalagi kalau ga 'Sorry...sorry sir...traffic jam anywhere (halah..)
Tapi yang pasti mereka masih nungguin kita lah, dan dengan buru2 kita masukin tas2 kita menuju 2 van yang sudah menunggu di tepi jalan. Kata mereka kalau parkir kelamaan di pinggir jalan itu takut di tilang polisi .

Van-nya kaya gini nih


Photo from google. keburu2 ga sempet moto



Ok deh semua lengkap ga ada yang ketinggalan kita segera menuju PATTAYA..............
Membutuhkan waktu lebih dari 3 jam kesana karena ketika mau keluar dari Bangkoknya lalu lintas sore itu rame banget termasuk di tolnya. Dan di dalam van yang belum sempat makan tadi akhirnya makan dari pesanan yang di bungkus dari Food Republik.



Selasa, 25 Februari 2014

Trip Bangkok-Pattaya-Chiangmi (2)

Pagi2 sesuai dengan janjian kita semua anggota rombongan udah duduk manis di lobby hotel, rencana kita hari ini akan jalan-jalan ke Grand Palace dan Wat Arun. Tadinya ketika masih di tanah air (jiaah kesannya jauh banget yak....) temen2 berencana mau ke Madame Tussaud dan belanja-belanji di MBK ( maklum sebagian besar anggota rombongan adalah ibu2). Namun setelah ada berita2 demonstrasi yang meledak di Bangkok di tambah bumbu2 peristiwa lainnya maka kita jadi skip ke MBK dan MT dan nginap di bangkok pun dipangkas dari dua hari jadi satu hari saja.
Pagi itu saya dan Dian menanyakan ke mba travel yang ada di depan lobby hotel apakah ada mobil yang bisa kita sewa untuk muter2 Bangkok,maklum anggota rombongan ga sedikit. Si mba nya bilang kita harus sewa 2 van karena kalau satu saja ngga bakalan muat. Okelaah......... si mba nya pun nelpon sana sini nyari mobil, dan akhirnya si mba bilang ngga ada mobil yang ready pagi ini, kalau mau nunggu ntar jam 10 an sih ada katanya.
Yah opsi itu kita tolak karena kelamaan kalau nunggu jam 10 mending naik transportasi umum aja ah. Trus Dian sempat nanya2 situasi di sekitaran MBK, eh si mba nya bilang no problem with demo, no demo now kaatnya, kyaaak..... wah aman dong, info ini segera di lanjutin ke ibu2 yang lagi ngumpul di depan, mereka dengan antusias setuju banget kalau kita ke madame tussaud soale  awalnya memang niat mau kesana walau udah di bilangin kalau nanti beli tiketnya disana bakalan lebih mahal daripada booking lewat internet.

Jadi hari ini selain ke GP dan Wat Arun kita tambahin acaranya ke Madame tussaud dan kalau masih ada waktu mau mampir ke MBK mall. Karena perubahan rencana itu akhirnya kita putuskan cek out pagi ini dan menitipkan tas2 kita ke hotel karena di pastikan kita akan kembali ke hotel lewat dari waktu cek out. Habis itu kita juga langsung pesen 2 mobil van lewat mba travel itu untuk mengantarkan kita ke Pattaya, disepakati jam 3 sore kita dah di jemput sama mobilnya.

Setelah selesai urusan cek out dan titip tas kita jalan ke luar hotel menuju jalan besar, nyebrang dan kemudian memasuki gang kecil menuju pier di pinggiran sungai Chao Praya dimana kita akan menunggu boat berbendera orange yang akan mengantarkan kita ke pier terdekat dengan Grand Palace.
Setiba di pier sambil menunggu boat datang teman2 pada hebok mengambil foto dengan berbagai gaya, baik sendiri2 ataupun rame2. Cukup heboh dan bikin tatapan para turis yang lain memandang aneh pada kita. Tapi cueklah bahkan salah satu bule ikutan foto bareng di belakang kami.
Ketika boat dengan bendera orange tiba kami pun masuk dengan tergesa2, yah miriplah kalau kita lagi naik metro mini dijakarta, harus buru-buru, takutnya si boat segera berangkat dan kita belum masuk semua.
Di dalam boat penumpangnya padat sekali, semua anggota rombongan pada terpencar mencari tempat berdiri yang enak. Sementara ibu-ibu si kondektur boat selalu berteriak kencang supaya penumpang bergeser terus ke dalam.  Mungkin arti teriakan ibu itu kurang lebih begini " ayo masuk masuk lagi, ayo masuk lagi....yang mau turun masih jauh kedalam aja, kasih jalan- kasih jalan.....ooooooooooooi dengar kagak...masuk lagi....kasih jalan , jangan ngalangin orang dong.....masih kosong di dalam...masih kosong..."
Yah setelah 3 pier dilewatin kami bersama yang lain2 turun di pier yang deket Grand Palace itu. (lupa namanya, bahasa thai seeh.... kalau pengent tahu cari aja di google yak)
Disana kita harus masuk ke sebuah pasar yang merupakan jalan keluar dari pier menuju Grand Palace, sambil lewat kita beli minuman botolan juz buah. Seger panas panas gini.
Setelah keluar pasar langsung dihadapan kita berdiri tembok Grand Palace yang dimaksud, tinggal nyebrang jalan trus menyusuri trotoar menuju pintu masuk Grand Palace.

Ketika memasuki gerbang Grand Palace ada petugas yang memperhatikan kita dan tiba-tiba salah seorang dari mereka mengatakan pada saya kalau saya tidak diperkenankan masuk karena hanya memakai celana sedengkul. Jadi setiap pengunjung yang memakai baju atau celana yang tidak tertutup penuh ( apalagi kalau pakai hot pats) tidak diperkenankan masuk , kalaupun mau masuk harus melapor ke sebuah pos dimana nanatinya kita akan dipersilahkan untuk menyewa celana atau baju seharga 200 bath.
Karena saya sebelumnya sudah pernah masuk maka saya menolak untuk menyewa pakaian tersebut dan hanya mengantarkan teman2 lainnya ke pintu masuk setelah membeli tiket masuk seharga 500 bath. Saya dan seorang teman lainnya hanya menunggu di luar.
Sejam setelah itu satu persatu terlihat teman2 yang sudah masuk tadi kembali ke tempat kami menunggu sambil menyeriangai kepanasan, karena saat itu udara Bangkok lumayan panas walau matahari tidak terlampau terang sinarnya. Setelah semua berkumpul kembali Bu uci meminta untuk kita dapat foto bersama-sama tapi dengan memakai spanduk yang bertuliskan Grand Palace.Spanduk ini kami lihat banyak di pakai oleh beberapa rombongan lainnya untuk berfoto bersama. Namun ketika saya dan Pak Zahri coba untuk meminjamnya petugasnya tidak memberikan respon, mungkin itu hanya khusus untuk rombongan travel tertentu saja walau sebenarnya kita bersedia membayar untuk itu.
Ya udin lah...akhirnya kita tetep foto bareng setelah ada seorang wisatawan dari Malaysia yang mau menolong untuk memfoto kami.

Jam sudah menunjukan pukul 12 siang, segera kami keluar dari lingkungan Grand Palace dan kembali memasuki pasar tadi menuju pier. Dari sana kami kembali harus menunggu boat berbendera orange tadi untuk menuju pier terakhir.





Sabtu, 22 Februari 2014

TRIP BANGKOK - PATTAYA - CHIANGMAI

TRIP BANGKOK - PATTAYA - CHIANGMAI



Day 1
Pagi dari rumah seperti biasa ke kantor dulu. Tapi karna semua isi kantor udah tau kalau saya dan yang lainnya mau nge trip hari ini maka dengan yakin saya langsung memakai baju bebas dari rumah dan ga pakai seragam lagi. Karena mikir2 kan kalau pakai seragam juga cuman dipakai setengah hari.
Sampai di kantor cek lagi bookingan2 hotel dan lainnya , ternyata dua orang temen kami Debi dan Sendi lagi dinas luar pagi ini. Tanya2 sama teman yang lain mereka katanya akan kembali ke kantor secepatnya paling lambat sebelum waktu sholat zuhur.
Sehabis sholat zuhur tunggu punya tunggu Sendi belum juga kembali ke kantor sedangkan Debi udah standby.  Teman2 rombongan lain yang kebetulan ada jadwal rapat hari ini malah sudah siap2 berangkat ke airport sesudah minta izin meninggalkan rapat. Waktu zuhur pun udah lewat, kita masih nungguin Sendi yang sedang on the way menuju kantor sekalian juga nunggu nasi bungkus yang dipesan ke Ohim yang juga belum datang2.
Waktu berjalan dan nasi bungkus pun sudah datang tapi Sendi masih terjebak macet, sedangkan rombongan pertama yang terdiri dari teman2 dari PKSE, UKLW dan wilker sudah berangkat duluan. Akhirnya diambil keputusan untuk menunggu Sendi di jalan Ancol saja daripada menunggu terlalu lama di kantor yang akan membuang waktu lagi. Sampai di Ancol ternyata Sendi udah nunggu dan siap dengan gembolannya, segeralah kita capcus ke bandara Soetta.
Di bandara soetta sempat muter2 dulu karena kesalahpahaman membaca petunjuk arah. Pesawat kita berangkat dari terminal 3 Soetta namun berhubung petunjuk arahnya berbunyi " Terminal 3 khusus motor " makan jalan itu kita lewatin yang ternyata memang itu jalan yang betul. Namun pada akhirnya kami dengan sehat sentosa sampai juga kita di Terminal 3.
Di terminal udah ada rombongan dari Wilker Kali baru yaitu Zahri dan Ita namun rombongan mobil pertama yang sudah duluan tadi ternyata belum datang juga. Jadilah kita nunggu dulu di selasar depan pintu masuk pengunjung. Beberapa menit kemudian baru mobil pertama tadi datang, ternyata mereka sempat berhenti dulu untuk belanja2 buat bekel di Indomart. Sesudah sms an ternyata 2 orang temen lagi masih di jalan yaitu bu uci dan mba fifi. Ya sudah kita masuk dulu melewati pintu pengunjung karena pengennya nanti setelah semua anggota rombongan lengkap baru kita cek in lewat pintu keberangkatan.
Tunggu punya tunggu satu-satu anggota rombongan datang dan berkumpul di lantai 2 Terminal 3 Soetta. Waktupun berjalan namun bu uci belum juga datang. Okelah... akhirnya tanpa paspor bu uci saya dan 2 orang teman lainnya turun ke lantai 1 trus keluar dari pintu pengunjung setelah itu masuk lagi ke pintu keberangkatan. Sebelum masuk tiket dan paspor kita di cek sama petugas. Di dalam ternyata kalau mau cek in tanpa bagasi sekarang harus melalui mesin cek in sendiri , khusus untuk pesawat Air Asia. Cukup masukan kode booking dan ikuti perintahnya maka boarding pass kita sudah keluar. Setelah itu saya minta bantuan petugas cek in untuk dapat menerima pembayaran airport tax di tempatnya karena kalau dilakukan di saat memasuki ruangan boarding mungkin akan menghambat alur masuk penumpang lain karena jumlah rombongan kita yang hampir mencapai 20 orang.
Selesai urusan cek in kami segera kembali naik ke lantai 2 dan membagikan paspor beserta bording pass ke teman2 yang lainnya. Waktu itu sempat saya bersama teman2 cowok lainnya mau ngopi2 di lounge tapi berhubung loungenya hanya terima kartu kredit BNI dan Mandiri ( kalo ga salah inget) akhirnya kita beli2 roti dan minuman di semacam mini market di lantai 1. Debi juga sempet beli beberapa barang untuk dibawa disana. Dan ternyata setelah itu Debi lupa membawa barang2 belanjaannya itu keatas sewaktu boarding dan ingetnya juga setelah kita berada di ruang boarding!. 
Lanjut ceritanya Setelah menunggu lagi kedatangan bu Suci dan bu ucinya sudah datan barulah kami bersama2 memasuki ruangan boarding. Untuk memasuki ruang boarding di terminal 3 ini kita akan melalui cek desk petugas Air asia yang akan memeriksa boarding pass dan pembayaran airport tax, setelah itu kita akan antri lagi menuju pemeriksaan imigrasi. Setelah melewati imi kita akan melalui mesin detektor lagi, kali ini semua bawaan termasuk ikat pinggang, hp, kamera dll harus di lepas dan masuk ke mesin detektor.
Setelah semua melewati pemeriksaan tadi kita kumpul sebentar untuk briefing menjelaskan rencana perjalanan kita supaya teman2 rombongan punya bayangan tentang alur waktu perjalanan ini.

Ketika pengumuman boarding berbunyi kami setelah melewati petugas boarding turun kebawah dan menaiki bus yang mengantarkan kita ke pesawat. Kali ini saya satu row tempat duduk dengan Debi,Debi di pintu dan saya di asley (maksudnya deket jalan ), sedangkan di tengah2 kosong, kemungkinan itu tempat duduk  teman kita yang tidak jadi ikut.
Perjalanan memakan waktu 3 jam 15 menit. Saat di pesawat kami dibagikan kartu imigrasi untuk diisi. Saya berusaha membagikan kartu saya untuk dapat menjadi contoh bagi teman2 lainnya bagaimana mengisinya, namun hanya beberapa orang yang merespon , ya udah saya berpikir mereka sudah mengerti cara pengisiannya. Jam setengah sembilan pesawat mendarat di Don Mueng Airport. Kekisruhan pertama terjadi. Ternyata tidak semua teman mengisi imigration card dengan benar. Terutama dengan kolom nomor penerbangan dan hotel tempat kita menginap. Beberapa teman ditanyain petugas imi dengan muka kesel dan saya harus pergi kesana kemari untuk memberikan penjelasan pada teman atau petugas imigrasi tentang kedua hal tersebut dan yang penting memberi kesan kepada petugasnya bahwa kami ada dalam satu rombongan. Duh..kok kesannya jadi seperti rombongan TKW ya........xixixi...
Kelar urusan imigrasi dan kami sudah berkumpul semua maka saya mulai mencari2 dirver yang sudah saya kontak sebelumnya sejak dari Jakarta untuk menjemput kami di bandara. Ternyata untuk urusan ini berjalan
lancar. sopir yang di maksud yaitu Mr Tan sudah menunggu di pintu keluar sambil memegang kertas bertuliskan nama saya. Sang driver ini sepertinya masih muda dan bisa bahasa Inggris. Mr Tan kemudian mengarahkan kami untuk menunggu di depan bangunan airport, dan beberapa saat kemudian ia datang dengan dua buah van, satu dikemudikan sendiri oleh Mr Tan sedangkan yang lain oleh bapak2 yang sepertinya tidak bisa berbahasa Inggris. Rombongan pun di bagi 2 , satu dengan van Mr Tan, satu lagi termasuk saya masuk van yang dikemudikan oleh Bapak2 itu. Sampai disini semua aman terkendali.
Persoalan muncul karena ternyata Mr Tan tidak tau tempat pasti hotel yang telah kami booking. Van kami berputar2 di sekitar kawasan monumen nasional. Saya yang sudah pernah ke hotel itu sebelumnya coba berkomunikasi dengan si bapak driver kami, tapi ga nyambung. Si bapak hanya sibuk berbantahan dengan Mr Tan tentang jalan mana yang sebaiknya diambil. Mr Tan sendiri tidak begitu peduli dengan suara saya, mungkin mereka mengira saya baru pertama kali kesini dan situasi di malam hari juga sehingga pengetahuan saya tentang posisi hotel diragukan. 
Beberapa lama kami berputar2 di sekitar jalan khaosan dan Banglapoo, dan di suatu tempat Mr Tan memberhentikan van nya dan meminta kami keluar karena mengira hotel yang dimaksud sudah dekat dan tinggal jalan kaki beberapa saat. Saya yang tidak mengenal daerah itu segera menolak keras. Saya meneriakan lagi jalan tempat hotel yang kami booking. Saya tidak mau turun kalau tidak di jalan itu. Karena kalau sudah ketemu jalan tsb barulah saya bisa membayangkan kemana kami harus berjalan masuk dikarenakan memang hotel itu ada disebuah gang atau alley.
Mr Tan kembali menjalankan vannya dan si bapak driver kami kali ini mendahului van Mr Tan sampai ke ujung jalan, ketika bertemu pertigaan kami berbelok ke arah kiri karena ini jalur satu arah. Tiba2 di depannya saya melihat gedung sebuah bank di bangkok yang saya ingat gang disampingnya adalah jalur belakang menuju hotel kami. Saya segera memberitahu si bapak untuk masuk ke gang tersebut. Dan seperti saya duga gang tersebut sudah dipenuhi pejalan kaki sedangkan di kiri kanannya juga sudah dipenuhi lapak2 penjual cenderamata, penjual gorengan, penjual minuman, kursi2 cafe dan kursi2 pijat !!! Namun si bapak karena mungkin sudah kadung kesel tetap memasukan van nya ke gang tersebut sampai ke ujung jalan dan bahkan sampai tepat di depan hotel kami yang jalan di depannya cuman cukup buat 1 mobil saja.
Saya segera meminta teman2 untuk turun beserta bawaannya dan menunggu di lobby hotel sedangkan saya segera menyelesaikan pembayaran kendaraan ke Mr Tan yang masih gugup karena sepertinya di marah2in sama si driver bapak yang tua dan segera meninggalkannya......hehe.

Di lobby ternyata mba2 resepsionis udah siap dengan catatannya sehingga saya tidak perlu mengeluarkan kertas bookingan dari ransel. Saya segera membagikan kunci2 kamar setelah sebelumnya mengumpulkan paspor semua anggota rombongan untu di data oleh si mba itu. Kamar kami tersebar dari lantai 1 sampai lantai 3.
Setelah kelar istirahat dan juga urusan pembayaran kamar ,mba fifi di kamar sebelah dan bu neng yang sama2 di lantai 1 mengajak untuk keluar mencari makan walau jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Okelaaah kita pun sepakat untuk keluar namun sebelumnya saya sempatkan menelepon kamar2 teman lainnya untuk mengajak keluar bareng. Ternyata hanya kamar bu manur yang menjawab bahwa beliau dan bu hotmian sudah terlalu capek untuk keluar dan berniat untuk istirahat saja. Okelah saya berasumsi yang lain mungkin sudah terlelap tidur dan tidak bisa mengangkat telepon, kecuali pak Zahri tentunya karena saya yakin dia pasti sudah cabut duluan ke pasar malam yang ada di belakang hotel ini.
Saya, pak agus, mba fifi, dwi,yulia ,bu neng dan bu uci segera menyelusuri pasar malam yang meriah di jalan banglapoo dan jalan khaosan ini. Penjual makanan dan souvenir banyak tersebar di sepanjang jalan, juga cafe2 dengan suara berisiknya plus tukang pijit jalanan. Dan ternyata oh ternyata temen2 yang kita sangka sudah terlelap tidur itu bertemu dengan kami di sepanjang jalan sedang memilih milih souvenir. Akhirnya setelah bertemu kembali kita berpisah kembali karena masing2 mempunyai agenda yang berbeda-beda. Di ujung jalan kami bertemu sebuah resturand india dengan tulisan halal di depan pintunya. Walau dengan sedikit rasa enggan tapi karena itu satu-satunya restauran dengan tulisan halal yang kita temui akhirnya berlabuhlah kami disana. Mba fifi memesan nasi goreng dan ternyata rasanya not too bad lah......... dan akhirnya teman2 yang lainnya datang menyusul dan memesan makanan juga. Alhasil pemilik restauran yang hanya berdua itu kerepotan memenuhi pesanan kami. Si koki udah bolak balik dari dapur ke depan mengantarkan pesanan karena sepertinya makanan di masak per order sementara si bos ngider2 sekeliling meja karena restaurannya yang tadi bergaya "fine dining" sudah jadi "lapo tuak " aja gara kedatangan kami.
Jam setengah dua malam saya dan pak agus kembali ke hotel sementara yang lainnya tidak diketahui keberadaanya mungkin sudah di kamar masing2 atau mungkin juga masih beredar di khaosan road tadi.