Rabu, 28 Juli 2010

DAY 3 : TOUR PHI PHI ISLAND

                                                                Kai island


Jam 5 pagi alarm dari ponsel dah berdering menjalankan tugas nya membangunkan sang tuan. Masih setengah mengantuk saya bangun dan segera kekamar mandi untuk mandi pagi. Hari ini sesuai rencana saya akan mengikuti Phi Phi Tour satu hari penuh. Konfirmasi tadi malam kita akan di jemput jam 7.30 pagi di tempat menginapnya Joy.  Selain itu saya punya rencana lainnya yaitu untuk  menjajal penginapan yang berbeda di Phuket ini. Pilihannya jatuh ke Nirvana Inn, tempat Joy menginap. Dari promosinya saya mendapat info bahwa disana tersedia kamar yang lebih besar dengan harga
yang sama dengan tempat menginap saya sekarang. Jadi setelah nyarap pop mie lagi :) saya segera check out dari penginapan. Ketika FO menanyakan apakah saya check out untuk kembali ke negara asal saya iyakan saja. Dia menyampaikan terima kasih telah menginap di hotelnya dan menanyakan kapan akan kembali lagi ke  Phuket. Saya jawab kalau ada kesempatan pasti saya akan datang lagi.

Jam 7 pagi saya dah standby di lobby Nirvana Inn. Ditunggu-tunggu Joy belum nongol juga, jadi saya ngobrol aja sama FO nya seorang laki-laki yang terlihat masih terkantuk-kantuk juga sehubungan  dia jaga kena shift malam dan terbangun karena kedatangan saya.
Setelah ngobrol beberapa waktu saya coba untuk minta early check in di pagi ini. Dan dia setuju dan memberikan harga 400 bath. Tapi saya konfirmasikan lagi bahwa ada teman yang menginap disini hanya membayar 300 bath permalamnya dan saya minta harga yang sama dan si FO kembali menyetujui. Uang hotel segera saya bayar dan dikasih kunci kamar.
Dan ternyata kamar yang diberikan adalah kamar double bed. Kamarnya luas dengan tempat tidur besar. Fasilitasnya juga sama dengan penginapan sebelumnya, ada TV satelit, lemari besar, bath room lengkap dengan aminities hotel berbintang. Saya pernah lihat disalah satu web, untuk kamar seperti ini paling murah kita harus bayar 1000 bath. Wow.. 
Tapi memang saat saya kesini Phuket sedang dalam masa low season, jadi  isian kamar sedang rendah-rendahnya. Kekurangannya di hotel ini hanya lampu luar selalu dimatikan oleh si pemilik, mungkin dalam rangka menghemat kali ya dan lagian orangnya juga sedikit.

Jam 8 pagi van yang menjemput kami datang termasuk Joy yang baru nongol di lobby dan dia kaget ketika diberitahu bahwa saya dah pindah menginap di sini dan mendapatkan harga sama dengan dirinya. Selain Joy ada juga Kai teman CS dari Germany yang ternyata ikut nginap dihotel ini atas rekomendasi Joy juga.
Di dalam van saya berkenalan dengan teman2 CS lainnya yang tidak sempat ketemu kemaren, ada Noppi dari Batam, dan Erhan dari Turkey. Selain kita di dalam van juga ada dua gadis remaja dari Netherland yang berencana backpackeran mengelilingi Asia Tenggara plus sepasang muda mudi lain dari Indonesia.



Kami diantar menuju Chalong Pier. Disana kita dikumpulkan di suatu pondok bersama dengan puluhan peserta tour lainnya dari perusahaan tour yang kita booking ini. Peserta menunggu beberapa menit disana untuk memberikan waktu pihak tour mempersiapkan speed boat mereka. Sambil menunggu peserta dapat mengambil minuman kopi atau teh yang disediakan sementara seorang Tour Guide yang bertubuh gendut memberikan beberapa pesan yang harus diperhatikan selama perjalanan nantinya, seperti berhati-hati terhadap coral dan bulu babi yang bisa melukai dan menusuk kita kalo lagi berenang, tiap peserta juga harus ingat dengan nomor lambung kapal agar tidak salah naik kapal ketika hopping dari satu pulau ke pulau lainnya. Tiap peserta di tempeli kertas warna ungu sebagai pengenal selama tour, selain itu juga dibagikan semacam obat antimo untuk yang tidak tahan dengan buaian gelombang laut. Disana juga disediakan penyewaan kaki katak untuk berenang seharga 100 bath.

Untuk tour Phi Phi Island sendiri pada umumnya kapal pengangkut di bagi atas 3 jenis. Ada yang berbentuk kapal pesiar besar/ bigboat dengan daya angkut ratusan orang. Kapal jenis ini biasanya hanya mengunjungi beberapa pulau dan di beberapa spot tidak bisa merapat ke pantai karena besarnya kapal. Kapal jenis ini biaya tournya yang paling murah, sekitar 700 - 800 bath.
Jenis kedua adalah kapal ukuran sedang yang bisa memuat 50 - 100 an orang penumpang. Kayaknya jenis yacht yah ( sok teu :) ). 
Ini juga sama hanya mengunjungi beberapa pulau tapi tentu lebih banyak dari pada yang bigboat, beberapa diantaranya bisa mendarat di pantai tapi ada juga yang ga mendarat.  Biayanya dari 800 - 1000 bath.
Jenis yang paling kecil adalah yang kami tumpangi saat ini yaitu jenis speed boat. Kapal kecil dengan muatan paling banyak 50 orang tergantung boatnya. Speedboat ini ada yang bermesin 2 dan bermesin 3, yang bermesin 2 memuat lebih sedikit penumpang dari pada yang bermesin 3. Kami mendapatkan harga 1100 bath, harga termurah yang bisa didapatkan seteleh Joy dan Kai bahu membahu menawarnya ( sstt..baru sekali ini saya liat ada bule jago nawar setega-teganya hehe....cheap,cheap itu prinsip mereka kalo mau beli apa-apa, mereka jadi andalan kami kalo mo tawar2an taxi juga hehe..)
Kalo di brosurnya untuk speedboat ditawarkan dengan harga 2800 bath dan biasanya serendah2nya kita dapat diskon 50%.

Beberapa saat kemudian kami pun memasuki sebuah speedboat yang mempunyai kapasitas 35 - 50 orang, anak-anak dan wanita lebih dahulu masuk. Namun terjadi sedikit hambatan ketika sekelompok bule menolak masuk. Masalahnya karena ketika mereka membeli paket tour mereka dijanjikan akan mendapatkan speedboat sendiri dikarenakan jumlah mereka yang lumayan banyak sekitar 20 orang. Terjadi argumen panjang antara tour guide dengan mereka. Tour guide berkata bahwa mereka hanya menjalankan tour sesuai dengan pesanan dan kalau mau protes dan klaim silahkan ditujukan kepada agen yang menjual tiket.
Dengan janji bahwa mereka bisa klaim tiket kembali ke agen yang menjual maka kelompok bule remaja tersebut baru mau ikut bergabung dengan kami yang sudah menunggu di dalam speedboat. ( kami jadi ngerumpiin sendiri apakah akhirnya mereka benar2 akan klaim dan akan diterima klaimnya  sedangkan mereka sudah ikut menikmati tour...... kayaknya ngga mungkin deh....:)
Perjalanan pun dimulai, untuk rute pertama waktu perjalanan lumayan lama sekitar satu jam lebih. Tujuannya adalah Phi Phi Ley dimana terdapat Maya Bay yang menjadi lokasi shooting filmnya si leornado/ The Beach. Sebelum mendarat di pantainya boat berhenti dulu di depannya untuk memberi kesempatan pada para penumpang berenang dan snorkling. Saya yang sebelumnya ga PD untuk snorkling disana akhirnya nyebur juga atas hasutan si Joy, emang benar bagus disana, ikan-ikan yang berwarna warni mengelilingi kita termasuk koral2 indah di bawahnya.




Sebelumnya tour guide kembali mewanti-wanti untuk berhati-hati dalam berenang termasuk jangan berenang terlalu dekat ke baling2 boat dan jangan terlalu jauh juga dari boat. Apabila penumpang mendengar tanda peluit dari kapal harus segera kembali dan juga kalau mendapat kesulitan ketika berenang harap memberikan tanda khusus untuk meminta pertolongan.

Satu yang ga enak ketika si tour guide gendut yang selalu berkicau sepanjang perjalanan menerangkan tempat2 yang kita kunjungi (walau ga yakin apa semua penumpang mendengarkan atau tidak ) menunjuk sebuah kapal besar/bigboat yang sedang berlabuh di tempat yang sama. Dengan cueknya dia bilang pada para penumpang : " My friend, look that bigboat, there more cheap than our boat, they can't reach beach, not good, many passengger is indonesian and indian "
What the H***  !!!  maksudnya apa ? lo pikir orang indonesia kere semua !!  ga tau dia ada kita2 di speedboatnya yang mahal ini.....beuh.

Setelah puas berenang dan snorkling  kemudian boat segera sandar di pantai Maya Bay nya . Disini para penumpang  tentu kembali main air, berenang, bejemur, dan tentu saja poto-poto.


                                                             Pemandangan dari Maya Bay



40 menit disana kembali pluit si tour guide gendut berbunyi, dan kita pun kembali menuju boat setelah memastikan nomor boat yang benar, ketika semua penumpang sudah masuk ternyata si erhan dari Turkey belon kembali ke kapal, speedboat yang sudah mulai meluncur kita paksa kembali lagi . Ketika kembali ke kapal si turkey ini bilang dia lagi kebelet pipis...


Dari maya bay boat mengelilingi pulau phi phi ley , mengunjungi Loh Samah bay , Pileh lagoon dan Viking Cave. Viking Cave adalah sebuah gua yang terdapat di sebuah tebing dimana infonya didalam ditemukan tulisan tulisan bangsa Viking, sehingga diduga pada zaman dahulu bangsa Viking pernah mampir disana entah dalam perjalanan kemana.

Setelah itu kita langsung menuju Phi Phi Don untuk makan siang (sudah termasuk paket tour), disana tersedia semacam restauran dengan makan ala prasmanan. Dan semua makanannya adalah makanan halal karena penduduk Phi Phi Don sendiri adalah muslim. pelayan2nya semua memakai jilbab. Kabarnya kaburnya dari si tour guide dahulu kalanya mereka juga dari Indonesia.

Karena keterbatasan waktu kami tidak bisa mengexplore pulau ini jadi hanya stay di pantai saja, menurut info yang saya baca dari teman2 milis yang pernah nginap di pulau ini bahwa disini mempunyai akomodasi yang lengkap dan ada spot di puncak pulau dimana kita bisa melihat pantai nya dari dua sisi, yaitu sisi kanan dan sisi kiri. Si tour guide sempat juga memperlihatkan sebuah foto ketika pantai yang sebelah kanan terlihat hancur kena stunami dan pantai sebelah kirinya tetap terlihat indah. Oh ya setiap akan memasuki sebuah spot yang dikunjungi si guide selalu menulis nama tempat dan lama waktu kita stay disana pada sebuah papan kecil, mungkin berjaga-jaga untuk para penumpang yang tidak memperhatikan penjelasannya atau yang kurang paham dengan thai english yang dia ucapkan.


Dari sana perjalanan kembali dilanjutkan dengan mengunjungi monkey beach, boat tidak berlabuh disana karena tidak begitu banyak monkey yang berkeliaran. Monyet2 ini asli binatang liar sehingga para pengunjung harus berhati2 ketika mendekatinya karena bisa saja mood si monyet tidak selalu bagus. Dan lagi-lagi si guide bilang kalau asal monkey2 ini dulunya datang dari Indonesia  ( kok indonesia lagi? Phuket - Sumatera aja jauh lo )

Dari monkey beach boat melakukan perjalanan panjang lagi ke Kai Island. Semua penumpang terkantuk-kantuk di dalam boat karena capek dengan aktivitas dari pagi tadi plus makan siang sepuasnya.
Kai island juga dihuni penduduk muslim. Sepertinya pendapatan mereka hanya berasal dari hasil melaut dan pariwisata. Di pantainya terlihat banyak kursi2 pantai dengan payungnya yang berwarna warni. Sebelum mendarat guide gendut yang "sangat informatif" itu memberitahukan penumpang bahwa kursi kursi itu is not free, kita harus bayar kalau mau pakai.
Disana ada restaurant, cottage, hut, lapangan volley dan toilet yang semuanya harus bayar kalau mau dipakai. Beberapa penduduk tampak hilir mudik menawari es krim kepada para pengunjung. Ketika saya melintasi lapangan volley yang berpasir lembut menuju toilet seorang pemuda penjual es yang sedang duduk kelelahan sehabis ngider menyapa saya dengan mengucapkan salam untuk sesama muslim, saya balas salamnya sambil sedikit terkejut di dalam hati kok dia tahu saya muslim, kan dia tidak tahu kalau saya dari indonesia dan kalaupun dia pikir saya orang Thai kan tidak semua Thai adalah muslim.

Sehabis dari toilet saya mencari sebuah ceruk pantai yang sepi untuk berenang sendirian, enak juga berendam di sana jauh dari keramaian pantai menikmati suara laut Andaman ini. Yuhuuu..you are in little island far from home....

Sekitar jam setengah 4 speedboat kami bergerak kembali kembali menuju pier di Chalong bay. 45 menit perjalanan kami sampai disana dan kembali menaiki mobil van yang menjemput kami tadi pagi dengan sopir yang sama. Jam 5 Joy, Kai dan saya sampai kembali di Nirvana Inn. Selesailah tour Phi Phi island hari itu, saya sendiri langsung ke kamar untuk membersihkan diri karena udah gerah dengan air laut yang menempel sedari tadi.

Sabtu, 24 Juli 2010

DAY 2, TOURING AROUND PHUKET

Pagi pagi dah bangun, namun karena bingung mo ngapain  akhirnya tiduran lagi. Bangun-bangun pas perut teriak-teriak minta diisi, saya keluar berusaha mencari makanan di sekitar penginapan. Ada beberapa gerobak yang menjual semacam bubur dan sup. Tapi karena masih belum yakin kandungan makanannya kaki pun berlabuh di sebuah minimarket bernama familymart untuk membeli beberapa popmie thailand dan sepotong roti plus air mineral.
Sebelum makan coba cek milis di internet dan saya mendapat kontak salah seorang member CS yang juga sedang stay di sekitar sini bernama Joy dari USA, setelah sarapan saya mencoba menghubungi dan kami janjian ketemu d
i suatu tempat, dia meyakinkan saya untuk mencoba menyewa sepeda motor untuk bisa mengexplore Phuket lebih baik. Maka saya pun menyewa skuter Mio dari tempat penginapan seharga 180 bath untuk 24 jam, murah sekali karena sudah termasuk diskon untuk tamu hotel mereka. 
Beberapa saat kemudian kami bertemu dan mulai perjalanan bersama menuju tujuan pertama yaitu pantai Karon dengan skuter masing2. Sebelumnya kami mengisi bensin dulu seharga 30 bath satu liter. Ketika memulai perjalanan lagi saya kok heran meteran bensin di skuter tidak mencapai setengahnya,  padahal saya tadi minta diisi 2 liter, ya udah ntar kalau mau habis diisi lagi. Sebelum sampai di pantai Karon skuter saya mulai ngadat, Joy kembali menghampiri saya. Saya bilang saja hari ini hari Jumat, di pertengahan hari saya harus ke mesjid untuk melaksanakan shalat Jumat dan ga bisa nemanin dia untuk saat ini. Have fun katanya dan dia segera pergi.
Setelah urusan skuter yang ngadat selesai segera saya melanjutkan perjalan menuju pantai Karon, disana mencoba menikmati keindahannya sambil melihat para turis yang asik dengan aktivitasnya, ada yang berenang, tidur2an, baca buku atau cuma berjalan lambat2 sepanjang garis pantai. Suasana di Karon lebih tenang dibanding Patong.


Sehabis dari sana saya mencoba mencari mesjid yang di peta terlihat berada di wilayah Chalong Bay. Tanya beberapa orang Thai disana tidak ada yang tahu, maka saya segera melaju lagi dengan skuter sewaan berbekal peta yang diambil dari bandara kemaren. Di tengah perjalanan saya menemukan sebuah wat yang terlihat sepi dan tidak begitu besar. Ambil beberapa foto disana dan segera melaju lagi. Jalan jalan di phuket termasuk mulus dan lebar, hanya saja banyak belokan beserta tanjakan dan turunan yang tajam, walaupun trafiknya
 kalah jauh ramainya dengan Jakarta saya ekstra hati-hati membawa skuternya, laju nya cuman 20 - 30km/jam. Alasannya karena inilah pertama kali saya membawa skuter :) ( Cara mengemudi yang baik dan benar pun baru saya dapatkan dari Joy secara singkat tadi ). Di tambah kondisi jalur jalan yang naik turun itu.

Setelah melewati jalan yang terasa sangat panjang dan lama akhirnya saya menemukan sebuah mesjid di daerah Chalong. 


Ternyata waktu sholat disana mulainya lebih lama setengah jam dibandingkan dengan waktu Jakarta.
Ceramah di berikan dalam bahasa Thailand, jadilah saya bengang bengong aja di dalam, terlihat beberapa turis India juga ikutan berjamaah disana, tapi kok pakai kaos kaki ya.
Sehabis sholat saya makan siang di sebuah kedai makanan melayu yang bertuliskan halal disamping mesjid. Sewaktu makan lewatlah bapak tua penjual duren yang juga ikutan makan di kedai tersebut. Jadi mumpung ketemu saya pesan juga buah durennya, pertama tawar2an dengan jari2 aja. Berhubung si bapak ga bisa bahasa Inggris dan sayapun ga bisa bahasa thailand, untung  akhirnya si ibu pemilik kedai membantu menterjemahkan dan akhirnya di meja saya terhidang sepiring duren thailand. Mm nikmatnya.....
40 bath untuk makanan dengan lauk ikan dan 40 bath untuk durennya.

Kelar makan siang yang nikmat karena hari ini baru ketemu nasi lagi saya melanjutkan perjalanan untuk mencari Chalong Bay.

Dari Chalong bay terus ke Wat Chalong. Sepertinya Wat ini yang terbesar di Phuket, banyak pengunjung kesana, baik yang memang untuk ibadah maupun hanya melihat-lihat, tidak ada pungutan untuk masuk kesana.




Satu yang membuat nyaman di Phuket ini adalah tidak ada kekhawatiran motor bakal hilang dan juga kita bisa parkir dimana saja dan yang penting ga ada uang parkir, free everywhere.......
Jalan yang bagus, tidak begitu rame, tidak ada tukang parkir, tidak ada pak ogah, juga tidak lihat ada polisi..cihuy.


Dari Wat Chalong perjalanan dilanjutkan mencari Big Budha, letaknya ada di  puncak sebuah bukit dan untuk kesana harus menempuh jarak sekitar 16 km dengan kondisi jalan mendaki dan mendaki. Semakin ke puncak semakin jarang ditemui rumah penduduk dan akhirnya kita hanya akan melalui hutan. Sempat khawatir juga apakah si skuter kuat untuk nanjak terus, gawat kalau ngadat di tengah hutan begini, tapi ternyata si skuter emang kuat. Gas teruuuus.......


Sehabis turun dari Big Budha perjalanan dilanjutkan, tujuan berikutnya adalah  Promteph Cape. Itu adalah sebuah semenanjung paling ujung dari pulau Phuket. 
Sebelum menemukan Promtep Cape saya menemukan Rawai bay.
Di Promteph banyak turis berkumpul di sore itu, kami semua menikmati sore dan sunset disana.


Sempat beli oleh2 di sana, ternyata harganya lebih murah dibandingkan dengan yang dijual di Jungceylon Mall.
Saya baru sadar sehabis mengunjungi Promteph Cape hari sudah mulai malam. Sementara saya tidak tahu jalur pulang. Peta yang dipegang tidak  membantu karena hanya menunjukan jalan utama saja. Disekelilingpun ternyata tidak terlihat petunjuk arah. Dengan berdebar-debar saya melajukan kendaraan menyusuri jalan yang sepi dan kiri kanan hanya terlihat hutan. Untunglah di setiap persimpangan yang membingungkan saya bisa bertemu seseorang yang menunjukan arah jalan yang benar menuju Patong kembali walau harus menunggu beberapa lama. Sore itu toko-toko kecil sudah ditutup, yang terlihat masih buka hanya loby hotel-hotel dan pub. Sepanjang jalan antara Promtep cape sampai Karon kiri kanannya kebanyakan hanya hutan hanya sesekali ditemukan restaurant dan hotel. Sempat saya melihat sebuah sign di kegelapan di pinggir jalan bergambarkan seekor gajah, gak gitu paham maksudnya, apakah di sekitar situ banyak gajah yang nyebrang atau disana terdapat kandang gajah.
Namun untung selepas daerah Promtep itu ada beberapa sign yang menunjukan arah ke Patong. Tapi walau ada sign tetap beberapa kali sempat mau nyasar, tapi untung ketemu beberapa orang yang memberi tahu saya jalan yang benar. Thanks God.

Hampir jam 10 malam saya akhirnya sampai di penginapan, tadi ketika masih di daerah Karon, Joy kembali menelepon menanyakan apakah saya sudah kembali ke hotel dan apakah saya nggak nyasar, saya jawab semua ok. Dia juga memberitahu bahwa teman2 CS lainnya telah membelikan saya tiket untuk tour Phi Phi Island besoknya dan saya berjanji akan membayar biaya tiketnya malam ini juga kalau bisa. Tapi sampai tengah malam Joy belum telpon lagi. 



  

Rabu, 14 Juli 2010

DAY 1, MENUJU ANDAMAN SEA

Untuk pertama kalinya perjalanan dengan pesawat saya mulai bukan dari dini hari lagi. Hari ini dimulai sesuai jam berangkat kantor yaitu jam 6.30 WIB pagi. kali ini isi backpack  hanya berisi setengah saja karena saya berencana mengisinya lagi dengan pakaian yang akan dibeli di Phuket nanti. Ditangan  sudah tergenggam secarik kertas print-print an punyanya Air Asia hasil hunting lebih dari setengah tahun yang lalu, tepatnya 9 bulan yang lalu ketika ada promo penerbangan. Hasil perburuan yang bagus, saya mendapatkan penerbangan gratis untuk berangkatnya, sedangkan untuk penerbangan pulang tetap bayar seperti harga normal hehe... yah lumayanlah.

Direncanakan harus sampai di bandara setidaknya jam 9 pagi dikarenakan penerbangan saya ada pada jam 11.20 WIB. Butuh waktu kurang lebih 2 jam menuju bandara dengan bus Damri. Jadi setidaknya jam 7 saya harus sudah berangkat dari pool damri.

Perjalanan dengan Damri berjalan lancar dengan situasi jalan yang sedikit ngantri khas trafik pagi. Sesuai rencana jam 9 tepat saya menjejakan kaki di terminal 2 bandara Soekarno Hatta. Plengak plengok dulu liat jadwal penerbangan dan nomor counter tempat check in untuk penerbangan menuju Phuket. Sebelum masuk ke ruangan check in saya turun dulu ke lantai kedatangan,soalnya waktu terakhir kesini sempat melihat ada banyak money changer di sana. Saya punya cukup waktu untuk mencek nilai tukar Bath dari setiap kounter yang saya datangin, dan akhirnya menukarkan rupiah saya pada sebuah kounter yang memberikan nilai tukar yang paling rasional. Tak banyak rupiah yang di tukar karena untuk perjalanan ini saya tidak mempunyai cukup dana berlebih.

Pertama masuk ke ruangan check in seperti biasa saya mencoba mencari kios kounter Air Asia untuk melakukan self check in. Tapi setelah sekian lama mencarinya dari ujung ke ujung tidak saya ketemukan benda tersebut dan akhirnya  pasrah ikutan mengantri di kounter penerbangan itu. Di depan saya sudah ada puluhan orang dengan bagasinya yang segede
gaban ikut mengantri, pasti butuh waktu lama untuk melakukan proses check in dengan segitu banyak bagasi.Saya berharap agar tidak telat aja sampai di depan kounternya. Sambil ngantri kepala saya tetap berputar melihat lihat suasana sekeliling terminal dan oh thank ternyata terlihat ada satu kios yang  memang hanya "satu-satunya" di sana dengan dua orang petugas sedang melayani mencetakan boarding pass calon penumpang yang mengerubuti mereka. Letaknya berada persis di belakang antrian kounter . Cuman tadi memang tidak terlihat karena ketutupan dengan orang-orang yang mengerubunginya. Saya pun segera keluar dari antrian dan segera ikut ke antrian self check in itu. Tindakan saya juga diikuti oleh beberapa orang yang juga tidak membawa bagasi sehingga semakin banyaklah antrian untuk self check in ini sehingga membuat petugas turun tangan untuk mengatur antrian supaya tidak saling mendahului, tertib dan tidak mengganggu arus lalu lintas penumpang di depan kounter itu.

Setelah mendapatkan boarding pas segera saya mencari loket bebas fiskal. Cukup tunjukan paspor, boarding pass dan foto kopian NPWP petugasnya langsung memberi cap bebas fiskal di boarding pass.
Sehabis dari sana  sempatkan dulu untuk mengisi kartu imigrasi di bangku yang tersedia. Urusan dengan imigrasi berjalan lancar dan belum ada antrian panjang, dari sana  segera mencari gate keberangkatan, setelah dapat saya tidak langsung masuk tapi duduk dulu di bangku selasar dan mulai mengeluarkan bekel roti dari rumah, lumayan untuk ganjel perut karena masih ada 3 sampai 4 jam lagi ke depan sebelum sampai di Phuket. Saat menikmati breakfast pagi itu datang seorang bule yang ikutan gabung duduk dan juga mengeluarkan bekal nya. Sepotong roti dan sebotol minuman. Kami menikmati bekal masing masing dalam diam, larut dalam pikiran masing-masing, terlihat di tangannya sebuah tiket dengan logo Singapore Airlines.
Kelar nyarap dan ngabisin air di botol saya segera menuju tempat pemeriksaan terakhir, dimana semua cairan yang lebih dari 100 ml tidak diperbolehkan dibawa. Saya berulang kali mencek gate yang harus di masuki, takut salah gate seperti perjalanan terakhir .

Lewat 10 menit dari waktu boarding yang ditetapkan baru terlihat pesawat yang akan mengangkut kami menuju Phuket terlihat mendekati garbarata, si burung merah itu baru saja mendarat. Beberapa saat kemudian petugas meneriakan perintah untuk para pemegang Hot Seat supaya lebih dahulu memasuki lorong keberangkatan. Setelah itu baru disusul para penumpang lainnya memasuki pintu keberangkatan . Pesawat yang kami naiki ini adalah AirAsia thailand dengan kode FD, jadi kru pesawat semuanya adalah orang Thailand. Yang melayani kami kali ini adalah 2 orang pramugara yang terlihat melambai sekali dan seorang wanita. Pengumuman di umumkan dalam 3 bahasa yaitu bahasa Thailand, Inggris dan Indonesia. Kali ini saya dapat kursi yang bukan window seat. Disamping saya duduk sepasang penumpang Indonesia, sepertinya mereka sedang dalam perjalanan untuk honeymoon. Males jadi kambing cengok disana ketika pesawat sudah terbang beberapa saat saya segera pindah ke sebuah window seat yang ada di belakang. Untuk penerbangan kali ini terlihat tidak semua seat terisi.

Penerbangan memakan waktu 2 jam 40 menit. Beberapa saat sebelum mendarat pesawat melintasi beberapa pulau yang terlihat menarik dari ketinggian.Saya gak tahu nama-nama pulau tersebut.

Pesawat mendarat dengan smooth dan parkir disalah satu sisi terminal. Disisi lain terlihat beberapa pesawat ukuran kecil berpenumpang 4 atau 6 orang. Mungkin pesawat pribadi atau pesawat reguler untuk penerbangan ke pulau-pulau lainnya disekitaran laut Andaman ini.
Penumpang segera keluar dari pesawat dan kemudian mengantri di depat loket imigrasi. Jalur loket dibagi dua, ada loket biasa dan ada jalur untuk visitor yang membawa keluarga dan anak-anak. Lumayan lama ngantri disana. Setiap orang yang diperiksa paspornya harus berdiri di depan sebuah kamera yang terletak di depan loket, mungkin maksudnya untuk di foto dan dicocokan wajahnya dengan foto di paspor.
Ketika lepas dari pemeriksaan imigrasi para penumpang segera mengambil bagasinya dan sewaktu keluar tidak lupa mengambil brosur2
yang beberapa diantaranya sudah tersedia dalam bentuk kantong yang berisi beberapa macam brosur. Begitupun saya setelah menyambar beberapa brosur kemudian mendekati sebuah booth kartu perdana yang tampak rame dikerubuti para penumpang yang kebanyakan dari Indonesia. Ternyata provider kartu tersebut sedang membagikan kartu perdana gratis kepada setiap penumpang yang berminat, promosinya dengan kartu itu kita akan lebih hemat biaya kalau mau melakukan pembicaraan ke negara asal, begitu juga bila mau sms-an. Nama providernya adalah TRUE. Namun kartu perdana ini belum berisi pulsa, jadi harus di top up dulu kalau mau dipake. Kalau mau isi disana kita bisa top up dengan harga minimal 100 bath, tapi kalau mau top up di tempat lain yaitu disemua jaringan 7 eleven maka minimum top up nya adalah 300 bath, tentu saja saya milih top up di both ini. Kami di layani beberapa SPG dan dua orang SPB yang cara berbicaranya agak melambai juga :)
Kelar dari sana ruang kedatangan telah sepi karena saya penumpang terakhir yang baru selesai dengan urusan kartu-kartu an ini.  Phuket International Airport memang tidak begitu besar seperti Soeta Airport, ya mirip2 airport2 di daerah lah. Jadi ramenya hanya ketika ada kedatangan penerbangan. Sekeluar dari terminal seperti petunjuk dari milis milis yang
saya baca maka saya segera berbelok arah kanan dari pintu keluar untuk mendapatkan loket taximeter. Benar saja di sana ada semacam loket dengan tulisan besar di depan mejanya menginformasikan biaya pesan kendaraan ke tempat tujuan. 
Yang tertulis kira2 sbb :
Taxi    600 bath,
 Van  Patong  150 bath
          Karon    200 Bath
          Phuket Town  100 Bath
         dll.

Saya memesan pemberangkatan dengan van dan membayar sebanyak 150 bath. Si petugas memberikan secarik kertas sebagai tiket dan mempersilahkan saya untuk menunggu di ujung terminal dimana tampak jejeran beberapa mobil van parkir di depan sebuah kantor cabang Bank Thailand.

Walaupun van sudah tersedia namun karena penumpang belum mencukupi 10 orang sesuai dengan kapasitas kursinya maka kita harus menunggu di luar sambil berdiri ( memang ga disediakan kursi buat menunggu disana, cuman tersedia semacam pagar untuk nyender doang ). Cukup lama saya disana karena pas saya mesan ternyata saya merupakan penumpang terakhir yang datang sehingga sepertinya saya harus menunggu penumpang lainnya yang berasal dari penerbangan berikutnya yang akan mendarat.
Dari sini sudah mulai saya sadari bahwa perawakan orang Indonesia tidak
bisa dibedakan langsung dengan orang Thailand, kecuali dengan bahasanya. Beberapa calo pertama kali mencoba menyapa dengan bahasa Thai, tapi karena melihat saya bengang bengong akhirnya ketahuan kalau saya bukan orang Thai. Calo2 disana juga membawa karton bertuliskan harga2 taxi mereka, rata2 menawarkan 600 bath, tapi sebenarnya ini bisa ditawar, kecuali yang van ini, harga untuk van sudah fix 150 bath, bahkan kalau tujuannya lebih jauh biaya bisa bertambah. Namun kalau menggunakan van ini kita harus menunggu ke 10 seat terisi penuh dulu baru bisa jalan dan diantar langsung ke hotel atau rumah masing2.
Selain taxi dan van pilihan transportasi lainnya bisa menggunakan bus bandara dengan tujuan Phuket town, nanti kita akan diturunkan di terminal bis. Biayanya hanya 85 bath. Dari sana bisa menaiki bis lainnya sesuai tujuan kita. Saya sendiri tujuannya adalah pantai Patong.
Di phuket sendiri banyak sekali pantai pantai yang menjadi spot wisata. Pantai - pantainya terkenal indah dan didukung infrastruktur yang bagus. Hotel dan hostel bertaburan di sepanjang pantai. Pantai-Pantai yang terkenal itu selain Patong Beach sebagai pusat turisme yang happening,
antara lain ada pantai Kemala, Pantai karon, Pantai Kata, Pantai Rawai, Pantai Chalong. dll

Setelah lama menunggu sampai pegal berdiri akhirnya van kami pun berangkat, isinya satu orang melayu alias saya sendiri, satu orang thai ( dua orang sama sopir), dan sisanya bule2 dari berbagai negara.

Sepanjang perjalanan saya melihat daerah Phuket ini sangat mirip dengan wilayah di Indonesia, Semuanya, baik orangnya, daerahnya,
bangunannya, toko-tokonya sehingga kita akan merasa sedang di salah satu daerah di Indonesia. Yang membuat beda dan menyadarkan kita bahwa kita bukan di Indonesia hanyalah tulisan tulisan cacing/palawa di setiap tempat.

Sepanjang perjalanan para bule itu sibuk ngobrol membicarakan tempat tujuan dan aktivitas mereka nanti di Phuket dan Patong. Beberapa saat kemudian sopir memberhentikan mobil di sebuah trravel agent. Kami diminta turun disana dan menyerahkan tiket ke petugas travel agent di dalam. Ini merupakan trik mereka dan sudah merupakan SOP transportasi
dari bandara ke tempat tujuan. Didalam kita akan ditawari penginapan dan berbagai macam jenis tour. Dan ternyata bule2 teman seperjalanan saya itu sudah jago dalam menolak dengan halus tawaran 2 itu. Saya sendiri karena ga gitu ahli jadi terlibat pembicaraan panjang dengan salah seorang petugas di sana karena dia terlihat ngotot menawarkan paket tournya . Namun karena harganya belum cocok akhirnya saya diperbolehkan kembali ke van dan kembali saya menjadi orang terakhir yang masuk ke van itu.

Tujuan saya di pantai Patong adalah Lamai Guesthouse yang sudah  di booking dari Indonesia. Dan pada suatu tempat sopir menurunkan saya dan menunjuk sebuah gedung yang menurutnya adalah tempat penginapan saya itu. Ketika van sudah berangkat dan saya memasuki lobby hotel ternyata hotel itu bernama Lamai Apartment. Sama sama bernama Lamai tapi yang pasti itu bukan penginapan yang saya booking dan sudah bayar penuh itu. FO menunjukan saya tempat yang sebenarnya melalui peta yang ada di meja, dan itu cukup jauh.  Diantara kebingungan si FO menawarkan saya untuk mengantarkan ke Lamai Guesthouse dan itu free.. ah tengkiu banget.

Di Lamai Guesthouse saya memesan sebuah single room untuk 2 hari. Saya cukup menyerahkan print voucher ke petugasnya dan kemudian dikasih konci kamar . Ketika memasuki kamarnya sedikit suprise karena merasa fasilitas yang disediakan Guesthouse ini setara dengan fasilitas kamar hotel. Ini penginapan terbagus selama perjalanan backpackeran saya. Dengan harga sewa ala backpakcer tapi mendapatkan kamar fasilitas hotel walau dengan ukuran single room. Jadi di kamar tersedia sebuah single bed, kamar lumayan lega,ada AC, TV kabel, DVD, lemari es, toilet bagus
dan rapi ala hotel lengkap dengan shower air panas/dingin dan handuk bersih serta tebal. Great. Termasuk teras dengan kursi plastiknya, walau pemandangan di depan hanya bangunan ruko :)

Setelah beristirahat dan menata barang bawaan di kamar akhirnya saya keluar untuk memulai explorasi Patong beach ini, selain tujuan utama yang urgent saat ini adalah mencari makan.
Berpedoman peta saya menyusuri Jl. Rat u thit, di sepanjang jalan itu banyak terlihat penginapan dari jenis hotel sampai hostel, massage shop dengan menu Thai massagge yang terkenal itu, toko lukisan, restorant dan sebuah pasar rakyat bernama Patong market. Restaurant2 yang ada di sepanjang jalan itu terlihat sangat mewah bagi saya dan pasti bukan diperuntukan untuk seorang backpacker . Ada juga beberapa gerobak yang menjual berbagai makanan yang ditusuk seperti sate, bakso, bakpao dll, cuman saya masih ragu untuk mencobanya karena takut dengan kandungan makanannya yang kemungkinan besar bercampur dengan pork, dan menu pork ini memang mudah ditemukan dimana2 disini.
Akhirnya kaki saya menyentuh juga pantai patong yang terkenal itu, hari sudah mulai meredup, matahari sudah mulai surut ke peraduannya, dan pantai patong pun mulai gelap, saya kembali menyusuri beach road mencari tempat untuk mengganjel perut, sasaran saya warung india, karena menurut saya disana pasti punya menu halal. Terlihat ada Mc D disana, selintas terlihat harga yang terpampang antara 150 -250 bath. Mmm sekitaran 60 rb sekali makan... ah cari yang lebih hemat lagi ah, sapa tau ada, saat ini belum rela ngeluarin bath segitu untuk sekali makan hehe....
Ternyata sepanjang beach road itu ga ada ketemu warung makan, yang ada hanya restaurant2 besar.
Akhirnya langkah saya berhenti di sebuah persimpangan, salah satu jalannya terlihat ramai karena kendaraan ternyata tidak boleh melewatinya. Dentuman musik terdengar di ujung jalan menarik hati untuk menyusurinya. Dan di sepanjang jalan tersebut terlihat pub pub dan night club yang berlomba lomba menarik pengunjung. Gemerlap lampu, dentuman musik dan wanita2 yang menari diatas meja terlihat di sepanjang jalan. Banyak bule2 yang berjalan dan nongkrong di pub pub tersebut, sebagian diantaranya juga terlihat mengabadikan keramaian itu dengan kameranya. Melihat itu saya juga ikut2 an mengeluarkan kamera untuk mengambil beberapa foto keramaian itu, tapi bukan penari dan pubnya lo, cuman jalannya aja, takut nanti disamperin hehe...
Jalan ini bernama Bangla Road, dan keramaian ini hanya terjadi pada malam hari, kalau siang hari jalan ini sama saja dengan jalan2 lainnya di Patong. Sepanjang jalan juga dipenuhi wanita2 yang menjual berbagai bentuk permainan sedangkan para prianya sibuk menawari para turis untuk masuk ke club/pub untuk melihat pertunjukan khusus, dan anehnya 2 kali saya bolak balik di jalan itu tak seorangpun pria dan wanita itu menawari saya dagangannya. Ini pasti dikarenakan tampang saya yang melayu sehingga dianggap sebagai penduduk lokal.


Akhirnya di ujung jalan bangla tersebut terlihatlah sebuah mall yang kalau ukuran Jakarta termasuk mall kelas menengah alias kecil aja.  Tapi terlihat orang ramai memasukinya. Saya pun melangkahkan kaki kedalam dengan harapan ada semacam food court disana. Dan harapan saya terkabul, di lantai dasar bersebelahan dengan lantai penjual kerajinan tangan atau oleh-oleh bertemulah sebuah food court. Sistem disana beli dulu kartu yang kita isi dengan nominal tertentu di kasir, barulah nanti kita membeli berbagai macam makanan di area itu yang terdiri dari beberapa kaunter dengan menggesekan kartu. Bila kartu masih ada isinya akan dikembalikan ke kita kalau dah habis makan si penjual akan menyimpannya. Disana terlihat ada makanan India, Thailand semacam bakso, tom yum dll. Ada juga mi goreng dengan berbagai macam lauk. Disana ada 2 kaunter yang bertuliskan huruf arab halal untuk pengunjung yang muslim.

Saya mencoba pesan sepiring risol thailand dan telur dadar ala thailand, Risolnya berisi sayur2 an di temani dengan secuil saus manis dan saus pedas (tapi ga pedes ). Sedangkan telor dadarnya berupa telor dadar biasa yang dicampur dengan cacahan wortel. Semua seharga 80 bath ditambah 15 bath untuk air botolan. Yap itulah sarapan pertama di Phuket.