Sabtu, 24 Juli 2010

DAY 2, TOURING AROUND PHUKET

Pagi pagi dah bangun, namun karena bingung mo ngapain  akhirnya tiduran lagi. Bangun-bangun pas perut teriak-teriak minta diisi, saya keluar berusaha mencari makanan di sekitar penginapan. Ada beberapa gerobak yang menjual semacam bubur dan sup. Tapi karena masih belum yakin kandungan makanannya kaki pun berlabuh di sebuah minimarket bernama familymart untuk membeli beberapa popmie thailand dan sepotong roti plus air mineral.
Sebelum makan coba cek milis di internet dan saya mendapat kontak salah seorang member CS yang juga sedang stay di sekitar sini bernama Joy dari USA, setelah sarapan saya mencoba menghubungi dan kami janjian ketemu d
i suatu tempat, dia meyakinkan saya untuk mencoba menyewa sepeda motor untuk bisa mengexplore Phuket lebih baik. Maka saya pun menyewa skuter Mio dari tempat penginapan seharga 180 bath untuk 24 jam, murah sekali karena sudah termasuk diskon untuk tamu hotel mereka. 
Beberapa saat kemudian kami bertemu dan mulai perjalanan bersama menuju tujuan pertama yaitu pantai Karon dengan skuter masing2. Sebelumnya kami mengisi bensin dulu seharga 30 bath satu liter. Ketika memulai perjalanan lagi saya kok heran meteran bensin di skuter tidak mencapai setengahnya,  padahal saya tadi minta diisi 2 liter, ya udah ntar kalau mau habis diisi lagi. Sebelum sampai di pantai Karon skuter saya mulai ngadat, Joy kembali menghampiri saya. Saya bilang saja hari ini hari Jumat, di pertengahan hari saya harus ke mesjid untuk melaksanakan shalat Jumat dan ga bisa nemanin dia untuk saat ini. Have fun katanya dan dia segera pergi.
Setelah urusan skuter yang ngadat selesai segera saya melanjutkan perjalan menuju pantai Karon, disana mencoba menikmati keindahannya sambil melihat para turis yang asik dengan aktivitasnya, ada yang berenang, tidur2an, baca buku atau cuma berjalan lambat2 sepanjang garis pantai. Suasana di Karon lebih tenang dibanding Patong.


Sehabis dari sana saya mencoba mencari mesjid yang di peta terlihat berada di wilayah Chalong Bay. Tanya beberapa orang Thai disana tidak ada yang tahu, maka saya segera melaju lagi dengan skuter sewaan berbekal peta yang diambil dari bandara kemaren. Di tengah perjalanan saya menemukan sebuah wat yang terlihat sepi dan tidak begitu besar. Ambil beberapa foto disana dan segera melaju lagi. Jalan jalan di phuket termasuk mulus dan lebar, hanya saja banyak belokan beserta tanjakan dan turunan yang tajam, walaupun trafiknya
 kalah jauh ramainya dengan Jakarta saya ekstra hati-hati membawa skuternya, laju nya cuman 20 - 30km/jam. Alasannya karena inilah pertama kali saya membawa skuter :) ( Cara mengemudi yang baik dan benar pun baru saya dapatkan dari Joy secara singkat tadi ). Di tambah kondisi jalur jalan yang naik turun itu.

Setelah melewati jalan yang terasa sangat panjang dan lama akhirnya saya menemukan sebuah mesjid di daerah Chalong. 


Ternyata waktu sholat disana mulainya lebih lama setengah jam dibandingkan dengan waktu Jakarta.
Ceramah di berikan dalam bahasa Thailand, jadilah saya bengang bengong aja di dalam, terlihat beberapa turis India juga ikutan berjamaah disana, tapi kok pakai kaos kaki ya.
Sehabis sholat saya makan siang di sebuah kedai makanan melayu yang bertuliskan halal disamping mesjid. Sewaktu makan lewatlah bapak tua penjual duren yang juga ikutan makan di kedai tersebut. Jadi mumpung ketemu saya pesan juga buah durennya, pertama tawar2an dengan jari2 aja. Berhubung si bapak ga bisa bahasa Inggris dan sayapun ga bisa bahasa thailand, untung  akhirnya si ibu pemilik kedai membantu menterjemahkan dan akhirnya di meja saya terhidang sepiring duren thailand. Mm nikmatnya.....
40 bath untuk makanan dengan lauk ikan dan 40 bath untuk durennya.

Kelar makan siang yang nikmat karena hari ini baru ketemu nasi lagi saya melanjutkan perjalanan untuk mencari Chalong Bay.

Dari Chalong bay terus ke Wat Chalong. Sepertinya Wat ini yang terbesar di Phuket, banyak pengunjung kesana, baik yang memang untuk ibadah maupun hanya melihat-lihat, tidak ada pungutan untuk masuk kesana.




Satu yang membuat nyaman di Phuket ini adalah tidak ada kekhawatiran motor bakal hilang dan juga kita bisa parkir dimana saja dan yang penting ga ada uang parkir, free everywhere.......
Jalan yang bagus, tidak begitu rame, tidak ada tukang parkir, tidak ada pak ogah, juga tidak lihat ada polisi..cihuy.


Dari Wat Chalong perjalanan dilanjutkan mencari Big Budha, letaknya ada di  puncak sebuah bukit dan untuk kesana harus menempuh jarak sekitar 16 km dengan kondisi jalan mendaki dan mendaki. Semakin ke puncak semakin jarang ditemui rumah penduduk dan akhirnya kita hanya akan melalui hutan. Sempat khawatir juga apakah si skuter kuat untuk nanjak terus, gawat kalau ngadat di tengah hutan begini, tapi ternyata si skuter emang kuat. Gas teruuuus.......


Sehabis turun dari Big Budha perjalanan dilanjutkan, tujuan berikutnya adalah  Promteph Cape. Itu adalah sebuah semenanjung paling ujung dari pulau Phuket. 
Sebelum menemukan Promtep Cape saya menemukan Rawai bay.
Di Promteph banyak turis berkumpul di sore itu, kami semua menikmati sore dan sunset disana.


Sempat beli oleh2 di sana, ternyata harganya lebih murah dibandingkan dengan yang dijual di Jungceylon Mall.
Saya baru sadar sehabis mengunjungi Promteph Cape hari sudah mulai malam. Sementara saya tidak tahu jalur pulang. Peta yang dipegang tidak  membantu karena hanya menunjukan jalan utama saja. Disekelilingpun ternyata tidak terlihat petunjuk arah. Dengan berdebar-debar saya melajukan kendaraan menyusuri jalan yang sepi dan kiri kanan hanya terlihat hutan. Untunglah di setiap persimpangan yang membingungkan saya bisa bertemu seseorang yang menunjukan arah jalan yang benar menuju Patong kembali walau harus menunggu beberapa lama. Sore itu toko-toko kecil sudah ditutup, yang terlihat masih buka hanya loby hotel-hotel dan pub. Sepanjang jalan antara Promtep cape sampai Karon kiri kanannya kebanyakan hanya hutan hanya sesekali ditemukan restaurant dan hotel. Sempat saya melihat sebuah sign di kegelapan di pinggir jalan bergambarkan seekor gajah, gak gitu paham maksudnya, apakah di sekitar situ banyak gajah yang nyebrang atau disana terdapat kandang gajah.
Namun untung selepas daerah Promtep itu ada beberapa sign yang menunjukan arah ke Patong. Tapi walau ada sign tetap beberapa kali sempat mau nyasar, tapi untung ketemu beberapa orang yang memberi tahu saya jalan yang benar. Thanks God.

Hampir jam 10 malam saya akhirnya sampai di penginapan, tadi ketika masih di daerah Karon, Joy kembali menelepon menanyakan apakah saya sudah kembali ke hotel dan apakah saya nggak nyasar, saya jawab semua ok. Dia juga memberitahu bahwa teman2 CS lainnya telah membelikan saya tiket untuk tour Phi Phi Island besoknya dan saya berjanji akan membayar biaya tiketnya malam ini juga kalau bisa. Tapi sampai tengah malam Joy belum telpon lagi. 



  

Rabu, 14 Juli 2010

DAY 1, MENUJU ANDAMAN SEA

Untuk pertama kalinya perjalanan dengan pesawat saya mulai bukan dari dini hari lagi. Hari ini dimulai sesuai jam berangkat kantor yaitu jam 6.30 WIB pagi. kali ini isi backpack  hanya berisi setengah saja karena saya berencana mengisinya lagi dengan pakaian yang akan dibeli di Phuket nanti. Ditangan  sudah tergenggam secarik kertas print-print an punyanya Air Asia hasil hunting lebih dari setengah tahun yang lalu, tepatnya 9 bulan yang lalu ketika ada promo penerbangan. Hasil perburuan yang bagus, saya mendapatkan penerbangan gratis untuk berangkatnya, sedangkan untuk penerbangan pulang tetap bayar seperti harga normal hehe... yah lumayanlah.

Direncanakan harus sampai di bandara setidaknya jam 9 pagi dikarenakan penerbangan saya ada pada jam 11.20 WIB. Butuh waktu kurang lebih 2 jam menuju bandara dengan bus Damri. Jadi setidaknya jam 7 saya harus sudah berangkat dari pool damri.

Perjalanan dengan Damri berjalan lancar dengan situasi jalan yang sedikit ngantri khas trafik pagi. Sesuai rencana jam 9 tepat saya menjejakan kaki di terminal 2 bandara Soekarno Hatta. Plengak plengok dulu liat jadwal penerbangan dan nomor counter tempat check in untuk penerbangan menuju Phuket. Sebelum masuk ke ruangan check in saya turun dulu ke lantai kedatangan,soalnya waktu terakhir kesini sempat melihat ada banyak money changer di sana. Saya punya cukup waktu untuk mencek nilai tukar Bath dari setiap kounter yang saya datangin, dan akhirnya menukarkan rupiah saya pada sebuah kounter yang memberikan nilai tukar yang paling rasional. Tak banyak rupiah yang di tukar karena untuk perjalanan ini saya tidak mempunyai cukup dana berlebih.

Pertama masuk ke ruangan check in seperti biasa saya mencoba mencari kios kounter Air Asia untuk melakukan self check in. Tapi setelah sekian lama mencarinya dari ujung ke ujung tidak saya ketemukan benda tersebut dan akhirnya  pasrah ikutan mengantri di kounter penerbangan itu. Di depan saya sudah ada puluhan orang dengan bagasinya yang segede
gaban ikut mengantri, pasti butuh waktu lama untuk melakukan proses check in dengan segitu banyak bagasi.Saya berharap agar tidak telat aja sampai di depan kounternya. Sambil ngantri kepala saya tetap berputar melihat lihat suasana sekeliling terminal dan oh thank ternyata terlihat ada satu kios yang  memang hanya "satu-satunya" di sana dengan dua orang petugas sedang melayani mencetakan boarding pass calon penumpang yang mengerubuti mereka. Letaknya berada persis di belakang antrian kounter . Cuman tadi memang tidak terlihat karena ketutupan dengan orang-orang yang mengerubunginya. Saya pun segera keluar dari antrian dan segera ikut ke antrian self check in itu. Tindakan saya juga diikuti oleh beberapa orang yang juga tidak membawa bagasi sehingga semakin banyaklah antrian untuk self check in ini sehingga membuat petugas turun tangan untuk mengatur antrian supaya tidak saling mendahului, tertib dan tidak mengganggu arus lalu lintas penumpang di depan kounter itu.

Setelah mendapatkan boarding pas segera saya mencari loket bebas fiskal. Cukup tunjukan paspor, boarding pass dan foto kopian NPWP petugasnya langsung memberi cap bebas fiskal di boarding pass.
Sehabis dari sana  sempatkan dulu untuk mengisi kartu imigrasi di bangku yang tersedia. Urusan dengan imigrasi berjalan lancar dan belum ada antrian panjang, dari sana  segera mencari gate keberangkatan, setelah dapat saya tidak langsung masuk tapi duduk dulu di bangku selasar dan mulai mengeluarkan bekel roti dari rumah, lumayan untuk ganjel perut karena masih ada 3 sampai 4 jam lagi ke depan sebelum sampai di Phuket. Saat menikmati breakfast pagi itu datang seorang bule yang ikutan gabung duduk dan juga mengeluarkan bekal nya. Sepotong roti dan sebotol minuman. Kami menikmati bekal masing masing dalam diam, larut dalam pikiran masing-masing, terlihat di tangannya sebuah tiket dengan logo Singapore Airlines.
Kelar nyarap dan ngabisin air di botol saya segera menuju tempat pemeriksaan terakhir, dimana semua cairan yang lebih dari 100 ml tidak diperbolehkan dibawa. Saya berulang kali mencek gate yang harus di masuki, takut salah gate seperti perjalanan terakhir .

Lewat 10 menit dari waktu boarding yang ditetapkan baru terlihat pesawat yang akan mengangkut kami menuju Phuket terlihat mendekati garbarata, si burung merah itu baru saja mendarat. Beberapa saat kemudian petugas meneriakan perintah untuk para pemegang Hot Seat supaya lebih dahulu memasuki lorong keberangkatan. Setelah itu baru disusul para penumpang lainnya memasuki pintu keberangkatan . Pesawat yang kami naiki ini adalah AirAsia thailand dengan kode FD, jadi kru pesawat semuanya adalah orang Thailand. Yang melayani kami kali ini adalah 2 orang pramugara yang terlihat melambai sekali dan seorang wanita. Pengumuman di umumkan dalam 3 bahasa yaitu bahasa Thailand, Inggris dan Indonesia. Kali ini saya dapat kursi yang bukan window seat. Disamping saya duduk sepasang penumpang Indonesia, sepertinya mereka sedang dalam perjalanan untuk honeymoon. Males jadi kambing cengok disana ketika pesawat sudah terbang beberapa saat saya segera pindah ke sebuah window seat yang ada di belakang. Untuk penerbangan kali ini terlihat tidak semua seat terisi.

Penerbangan memakan waktu 2 jam 40 menit. Beberapa saat sebelum mendarat pesawat melintasi beberapa pulau yang terlihat menarik dari ketinggian.Saya gak tahu nama-nama pulau tersebut.

Pesawat mendarat dengan smooth dan parkir disalah satu sisi terminal. Disisi lain terlihat beberapa pesawat ukuran kecil berpenumpang 4 atau 6 orang. Mungkin pesawat pribadi atau pesawat reguler untuk penerbangan ke pulau-pulau lainnya disekitaran laut Andaman ini.
Penumpang segera keluar dari pesawat dan kemudian mengantri di depat loket imigrasi. Jalur loket dibagi dua, ada loket biasa dan ada jalur untuk visitor yang membawa keluarga dan anak-anak. Lumayan lama ngantri disana. Setiap orang yang diperiksa paspornya harus berdiri di depan sebuah kamera yang terletak di depan loket, mungkin maksudnya untuk di foto dan dicocokan wajahnya dengan foto di paspor.
Ketika lepas dari pemeriksaan imigrasi para penumpang segera mengambil bagasinya dan sewaktu keluar tidak lupa mengambil brosur2
yang beberapa diantaranya sudah tersedia dalam bentuk kantong yang berisi beberapa macam brosur. Begitupun saya setelah menyambar beberapa brosur kemudian mendekati sebuah booth kartu perdana yang tampak rame dikerubuti para penumpang yang kebanyakan dari Indonesia. Ternyata provider kartu tersebut sedang membagikan kartu perdana gratis kepada setiap penumpang yang berminat, promosinya dengan kartu itu kita akan lebih hemat biaya kalau mau melakukan pembicaraan ke negara asal, begitu juga bila mau sms-an. Nama providernya adalah TRUE. Namun kartu perdana ini belum berisi pulsa, jadi harus di top up dulu kalau mau dipake. Kalau mau isi disana kita bisa top up dengan harga minimal 100 bath, tapi kalau mau top up di tempat lain yaitu disemua jaringan 7 eleven maka minimum top up nya adalah 300 bath, tentu saja saya milih top up di both ini. Kami di layani beberapa SPG dan dua orang SPB yang cara berbicaranya agak melambai juga :)
Kelar dari sana ruang kedatangan telah sepi karena saya penumpang terakhir yang baru selesai dengan urusan kartu-kartu an ini.  Phuket International Airport memang tidak begitu besar seperti Soeta Airport, ya mirip2 airport2 di daerah lah. Jadi ramenya hanya ketika ada kedatangan penerbangan. Sekeluar dari terminal seperti petunjuk dari milis milis yang
saya baca maka saya segera berbelok arah kanan dari pintu keluar untuk mendapatkan loket taximeter. Benar saja di sana ada semacam loket dengan tulisan besar di depan mejanya menginformasikan biaya pesan kendaraan ke tempat tujuan. 
Yang tertulis kira2 sbb :
Taxi    600 bath,
 Van  Patong  150 bath
          Karon    200 Bath
          Phuket Town  100 Bath
         dll.

Saya memesan pemberangkatan dengan van dan membayar sebanyak 150 bath. Si petugas memberikan secarik kertas sebagai tiket dan mempersilahkan saya untuk menunggu di ujung terminal dimana tampak jejeran beberapa mobil van parkir di depan sebuah kantor cabang Bank Thailand.

Walaupun van sudah tersedia namun karena penumpang belum mencukupi 10 orang sesuai dengan kapasitas kursinya maka kita harus menunggu di luar sambil berdiri ( memang ga disediakan kursi buat menunggu disana, cuman tersedia semacam pagar untuk nyender doang ). Cukup lama saya disana karena pas saya mesan ternyata saya merupakan penumpang terakhir yang datang sehingga sepertinya saya harus menunggu penumpang lainnya yang berasal dari penerbangan berikutnya yang akan mendarat.
Dari sini sudah mulai saya sadari bahwa perawakan orang Indonesia tidak
bisa dibedakan langsung dengan orang Thailand, kecuali dengan bahasanya. Beberapa calo pertama kali mencoba menyapa dengan bahasa Thai, tapi karena melihat saya bengang bengong akhirnya ketahuan kalau saya bukan orang Thai. Calo2 disana juga membawa karton bertuliskan harga2 taxi mereka, rata2 menawarkan 600 bath, tapi sebenarnya ini bisa ditawar, kecuali yang van ini, harga untuk van sudah fix 150 bath, bahkan kalau tujuannya lebih jauh biaya bisa bertambah. Namun kalau menggunakan van ini kita harus menunggu ke 10 seat terisi penuh dulu baru bisa jalan dan diantar langsung ke hotel atau rumah masing2.
Selain taxi dan van pilihan transportasi lainnya bisa menggunakan bus bandara dengan tujuan Phuket town, nanti kita akan diturunkan di terminal bis. Biayanya hanya 85 bath. Dari sana bisa menaiki bis lainnya sesuai tujuan kita. Saya sendiri tujuannya adalah pantai Patong.
Di phuket sendiri banyak sekali pantai pantai yang menjadi spot wisata. Pantai - pantainya terkenal indah dan didukung infrastruktur yang bagus. Hotel dan hostel bertaburan di sepanjang pantai. Pantai-Pantai yang terkenal itu selain Patong Beach sebagai pusat turisme yang happening,
antara lain ada pantai Kemala, Pantai karon, Pantai Kata, Pantai Rawai, Pantai Chalong. dll

Setelah lama menunggu sampai pegal berdiri akhirnya van kami pun berangkat, isinya satu orang melayu alias saya sendiri, satu orang thai ( dua orang sama sopir), dan sisanya bule2 dari berbagai negara.

Sepanjang perjalanan saya melihat daerah Phuket ini sangat mirip dengan wilayah di Indonesia, Semuanya, baik orangnya, daerahnya,
bangunannya, toko-tokonya sehingga kita akan merasa sedang di salah satu daerah di Indonesia. Yang membuat beda dan menyadarkan kita bahwa kita bukan di Indonesia hanyalah tulisan tulisan cacing/palawa di setiap tempat.

Sepanjang perjalanan para bule itu sibuk ngobrol membicarakan tempat tujuan dan aktivitas mereka nanti di Phuket dan Patong. Beberapa saat kemudian sopir memberhentikan mobil di sebuah trravel agent. Kami diminta turun disana dan menyerahkan tiket ke petugas travel agent di dalam. Ini merupakan trik mereka dan sudah merupakan SOP transportasi
dari bandara ke tempat tujuan. Didalam kita akan ditawari penginapan dan berbagai macam jenis tour. Dan ternyata bule2 teman seperjalanan saya itu sudah jago dalam menolak dengan halus tawaran 2 itu. Saya sendiri karena ga gitu ahli jadi terlibat pembicaraan panjang dengan salah seorang petugas di sana karena dia terlihat ngotot menawarkan paket tournya . Namun karena harganya belum cocok akhirnya saya diperbolehkan kembali ke van dan kembali saya menjadi orang terakhir yang masuk ke van itu.

Tujuan saya di pantai Patong adalah Lamai Guesthouse yang sudah  di booking dari Indonesia. Dan pada suatu tempat sopir menurunkan saya dan menunjuk sebuah gedung yang menurutnya adalah tempat penginapan saya itu. Ketika van sudah berangkat dan saya memasuki lobby hotel ternyata hotel itu bernama Lamai Apartment. Sama sama bernama Lamai tapi yang pasti itu bukan penginapan yang saya booking dan sudah bayar penuh itu. FO menunjukan saya tempat yang sebenarnya melalui peta yang ada di meja, dan itu cukup jauh.  Diantara kebingungan si FO menawarkan saya untuk mengantarkan ke Lamai Guesthouse dan itu free.. ah tengkiu banget.

Di Lamai Guesthouse saya memesan sebuah single room untuk 2 hari. Saya cukup menyerahkan print voucher ke petugasnya dan kemudian dikasih konci kamar . Ketika memasuki kamarnya sedikit suprise karena merasa fasilitas yang disediakan Guesthouse ini setara dengan fasilitas kamar hotel. Ini penginapan terbagus selama perjalanan backpackeran saya. Dengan harga sewa ala backpakcer tapi mendapatkan kamar fasilitas hotel walau dengan ukuran single room. Jadi di kamar tersedia sebuah single bed, kamar lumayan lega,ada AC, TV kabel, DVD, lemari es, toilet bagus
dan rapi ala hotel lengkap dengan shower air panas/dingin dan handuk bersih serta tebal. Great. Termasuk teras dengan kursi plastiknya, walau pemandangan di depan hanya bangunan ruko :)

Setelah beristirahat dan menata barang bawaan di kamar akhirnya saya keluar untuk memulai explorasi Patong beach ini, selain tujuan utama yang urgent saat ini adalah mencari makan.
Berpedoman peta saya menyusuri Jl. Rat u thit, di sepanjang jalan itu banyak terlihat penginapan dari jenis hotel sampai hostel, massage shop dengan menu Thai massagge yang terkenal itu, toko lukisan, restorant dan sebuah pasar rakyat bernama Patong market. Restaurant2 yang ada di sepanjang jalan itu terlihat sangat mewah bagi saya dan pasti bukan diperuntukan untuk seorang backpacker . Ada juga beberapa gerobak yang menjual berbagai makanan yang ditusuk seperti sate, bakso, bakpao dll, cuman saya masih ragu untuk mencobanya karena takut dengan kandungan makanannya yang kemungkinan besar bercampur dengan pork, dan menu pork ini memang mudah ditemukan dimana2 disini.
Akhirnya kaki saya menyentuh juga pantai patong yang terkenal itu, hari sudah mulai meredup, matahari sudah mulai surut ke peraduannya, dan pantai patong pun mulai gelap, saya kembali menyusuri beach road mencari tempat untuk mengganjel perut, sasaran saya warung india, karena menurut saya disana pasti punya menu halal. Terlihat ada Mc D disana, selintas terlihat harga yang terpampang antara 150 -250 bath. Mmm sekitaran 60 rb sekali makan... ah cari yang lebih hemat lagi ah, sapa tau ada, saat ini belum rela ngeluarin bath segitu untuk sekali makan hehe....
Ternyata sepanjang beach road itu ga ada ketemu warung makan, yang ada hanya restaurant2 besar.
Akhirnya langkah saya berhenti di sebuah persimpangan, salah satu jalannya terlihat ramai karena kendaraan ternyata tidak boleh melewatinya. Dentuman musik terdengar di ujung jalan menarik hati untuk menyusurinya. Dan di sepanjang jalan tersebut terlihat pub pub dan night club yang berlomba lomba menarik pengunjung. Gemerlap lampu, dentuman musik dan wanita2 yang menari diatas meja terlihat di sepanjang jalan. Banyak bule2 yang berjalan dan nongkrong di pub pub tersebut, sebagian diantaranya juga terlihat mengabadikan keramaian itu dengan kameranya. Melihat itu saya juga ikut2 an mengeluarkan kamera untuk mengambil beberapa foto keramaian itu, tapi bukan penari dan pubnya lo, cuman jalannya aja, takut nanti disamperin hehe...
Jalan ini bernama Bangla Road, dan keramaian ini hanya terjadi pada malam hari, kalau siang hari jalan ini sama saja dengan jalan2 lainnya di Patong. Sepanjang jalan juga dipenuhi wanita2 yang menjual berbagai bentuk permainan sedangkan para prianya sibuk menawari para turis untuk masuk ke club/pub untuk melihat pertunjukan khusus, dan anehnya 2 kali saya bolak balik di jalan itu tak seorangpun pria dan wanita itu menawari saya dagangannya. Ini pasti dikarenakan tampang saya yang melayu sehingga dianggap sebagai penduduk lokal.


Akhirnya di ujung jalan bangla tersebut terlihatlah sebuah mall yang kalau ukuran Jakarta termasuk mall kelas menengah alias kecil aja.  Tapi terlihat orang ramai memasukinya. Saya pun melangkahkan kaki kedalam dengan harapan ada semacam food court disana. Dan harapan saya terkabul, di lantai dasar bersebelahan dengan lantai penjual kerajinan tangan atau oleh-oleh bertemulah sebuah food court. Sistem disana beli dulu kartu yang kita isi dengan nominal tertentu di kasir, barulah nanti kita membeli berbagai macam makanan di area itu yang terdiri dari beberapa kaunter dengan menggesekan kartu. Bila kartu masih ada isinya akan dikembalikan ke kita kalau dah habis makan si penjual akan menyimpannya. Disana terlihat ada makanan India, Thailand semacam bakso, tom yum dll. Ada juga mi goreng dengan berbagai macam lauk. Disana ada 2 kaunter yang bertuliskan huruf arab halal untuk pengunjung yang muslim.

Saya mencoba pesan sepiring risol thailand dan telur dadar ala thailand, Risolnya berisi sayur2 an di temani dengan secuil saus manis dan saus pedas (tapi ga pedes ). Sedangkan telor dadarnya berupa telor dadar biasa yang dicampur dengan cacahan wortel. Semua seharga 80 bath ditambah 15 bath untuk air botolan. Yap itulah sarapan pertama di Phuket.


 



Senin, 28 Juni 2010

Hostel Backpacker di Kuala Lumpur

Sewaktu " melancong " ke KL, Malaysia beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan menginap di sebuah hostel di area backpacker di KL yaitu di daerah Bukit Bintang. Untuk kali ini saya mendapatkan sebuah single room yang tergolong murah, saya tidak mengambil jenis dorm lagi dikarenakan pertimbangan harganya yang tidak berbeda jauh dengan single room ini. Walaupun di sepanjang daerah tersebut banyak juga yang menawarkan kamar jenis dorm.  

Nama Hostel     : Comfort Lodge
Alamat               : Jl. Tengkat Tongshin Bukit Bintang ,KL
Rate                   : Standar room with fan  : RM 40
                             Standar room with AC  : RM 45
                             Double room                : RM 60

Fasilitas           :

- lobby dengan TV besar,
  lobby nya ga terlalu besar tapi nyaman dengan sofa besarnya,( disini ga
  boleh brisik, kalo  mo becanda2 sambil cekikikan di luar aja )
- Di setiap kamar disediakan lemari tanpa pintu, meja dan basin buat cuci
  muka.
- Ngidupin AC dan lampu pake sistem konci kamar yang di colokin ke plat
  kayak di hotel  berbintang gitu.
- Sharing kamar mandi / pake shower  ( penampakan kamar mandinya jauuuh
  dari yang di Singapore, jadi serasa mandi di kos-kos an mahasiswa :) )   .
- Ada komputer sebiji buat internetan , jadi kudu ngantri.
- Pintu depan di konci, kalo mo masuk pencet bel dulu dan tunjukan kunci
  kamar sebagai pertanda kita tamu disana.
- English please.......!  FO nya cuman mau pake english.
- No Breakfast, tapi kalo mo rebus mie ato ngopi, air panas tersedia di dapur,
  disana juga disediakan tempat nyetrika baju.

Deposit                 :  RM 20
 
Petunjuk Arah :

Dari Bandara :

Bila mendarat di LCCT Air Asia Sepang maka di pintu kedatangan tersedia bus bandara baik yang ber merk AirAsia atau merk lainnya. Untuk bus Air Asia ongkosnya RM9 , untuk bus lainnya ada yang RM8 dan RM10 . Sistem naiknya sama seperti di Indonesia, jadi temans liat aja mobil yang paling depan trus langsung aja masuk, ga perlu beli karcis dulu karena nanti akan ditagih sama knek nya saat bus mulai melaju. Kecuali temans sudah book lewat webnya Air Asia maka temans harus naik bis yang punya AirAsia dan tunjukan bookingan tiketnya. 
Setahu saya semua bus itu bertujuan ke KL Sentral, sebuah terminal dengan bangunan yang buesar dimana semua moda transportasi yang ada di KL ngetem disana (monorail,LRT,Rapid KL, airport bus, KLIA Express etc). Lama tempuh kurang lebih 1,5 jam.

Dari gedung KL Sentral berjalanlah menyebrang jalan menuju stasiun monorail KL Sentral, jadi stasiun ini berada di sebrang jalan gedung KL Sentral alias ga satu gedung ( kalo mau naik LRT putra atau STAR atau KLIA express harus masuk ke gedungnya), ikuti saja arus pejalan kaki sesuai dengan petunjuk yang ada, atau kalau masih bingung tanya sama knek bus yang kita tumpangi, pasti dia tau ( kalo ga tau berarti perlu di sentil tuh telinganya hehe...)

Distasiun monorail temans harus beli tiket dulu di loketnya dengan menyebutkan stasiun tujuan yaitu stasiun Bukit Bintang. Setelah membayar kita akan di berikan sejenis kartu yang harus kita masukan ke lubang pintu masuk yang akan membuka portal, setelah kita masuk maka portal akan menutup kembali dan kita harus ambil lagi kartu kita tadi yang akan muncul kemudian di sisi lainnya. Setiap akan memasuki sebuah stasiun akan ada pengumuman dari monorailnya nama stasiun yang akan di masuki, jadi pasang telinga baik baik untuk mendengarkan pengumuman tentang stasiun Bukit Bintang.

Setelah turun dari stasiun Bukit Bintang maka berjalanlah ke arah perstigaan dimana terlihat BB Plaza, kemudian belok ke kanan melewati Jl Alor ( kalo malam dipenuhi pedagang makanan chinese ) dan kemudian jl. Tengkat Tongshin.  Di sepanjang jalan ini bertaburan hostel-hostel backpacker diselingi beberapa hotel2 berbintang. Pada dasarnya daerah sekitaran BB memang "Jl jaksa" nya KL. Salah satunya adalah Comfort Lodge.

Dari Terminal Bus

Pertama ambilah moda transportasi yang menuju Puduraya
Dari Terminal Bus Puduraya
Bisa di tempuh dengan berjalan kaki dari terminal ke pertigaan Jl. Bukit Bintang bila memungkinkan , sekitar 1 kilo saja.
Bisa juga menggunakan taxi dengan biaya paling tinggi RM10, lebih dari itu berarti ngasih sedekah sama pak sopirnya hehe....

Interest place terdekat :

1. Bukit Bintang Walk 
2. Mall - Mall ( Lot 10, BB Plaza, Sungei Wang, etc )
3. Aquarium KL
4. Menara Petronas  ( jalan santai bisa sampe, cuman kalo buru2 ya naik bus :)
5. Jl. Alor, pusat makanan

 

Beberapa hostel di sekitaran BB
Red Palm
Green Hut
Eight
Attapsana Guesthouse
Serai Inn
Anjung KL guesthouse
Rainforest B&B
Paradiso B&B

Bisa di cek di www.hostelworld.com





 

Jumat, 25 Juni 2010

JANGAN LUPA BAWA PULPEN

Dulu sewaktu pertama kali searching info untuk backpackeran ke luar negri saya ketemu beberapa tulisan yang mengingatkan supaya jangan lupa bawa pulpen..... Dan tentu saja anjuran ini saya laksanakan sebagaimana ada juga anjuran membawa segala macam kartu dari kantor yang juga saya laksanakan.

Kenapa harus bawa pulpen? kan pulpen pasti banyak di mana mana, dan kalo ga ada ya tinggal minjem........pasti mikirnya seperti itu hehe...
Guna pulpen itu yang utama adalah untuk :   NGISI form IMIGRASI

Dan untuk diingat dan seingat saya di bandara ga ada menyediakan pulpen bareng2 kayak yang disediakan di bank2 gitu. Jadi setelah dapat form imigrasi para penumpang sibuk dah ngisi masing masing di tempat duduk masing-masing ( bahkan sambil berdiri ), bisa aja sih minjem tapi pasti ga enak ati karena kalo dibandara kan semua penumpang kondisi nya pada buru2 semua, masa nungguin kita....

Begitu juga ketika akan memasuki suatu negara kita akan dibagikan lagi kartu imigrasi dan harus diisi lagi, ga di bandara, ga di pesawat, ga di bus, ga di kapal. Jadi begitu terus, kita akan selalu berhubungan dengan kegiatan tulis menulis ini. Sehingga akan sangat memudahkan bila kita punya pulpen yang siap sedia di kantong.

Untuk saya sendiri pas pulang ke jakarta kemaren malah kehilangan pulpen, jadilah pas di pesawat minjem-minjem lagi.................

Minggu, 13 Juni 2010

Hostel Backpacker di Singapore


Ada beberapa temans yang menanyakan dimana saya menginap kalau lagi jalan ke singapura, atau yang meminta penginapan yang rekomend untuk ukuran bagi seorang backpakcker. Menurut saya semua hostel yang ada di singapore rata2 memberikan fasilitas yang cukup nyaman bagi seorang pelancong khususnya yang punya budget minim. Fasilitas yang standar biasanya adalah ruang tamu, internet, breakfast, loker dan TV umum. Kamar yang disediakan biasanya tipe dorm isi dari 12 bed sampai dengan 4 bed, selain itu juga ada beberapa room dengan isi untuk 2 orang. Beberapa dorm ada yang campuran dan ada juga yang khusus untuk cewek.
Saat ini saya ingin menceritakan sebuah hostel untuk para backpacker yang pernah saya inapi.

Nama       : ABC Backpacker.

Alamat     : Jl. Kubor no. 3
Web         : www.backpackershostel.com

Petunjuk Arah :

Dari Bandara  :

MRT
Dari terminal kedatangan setelah melewati imigrasi segera menuju terminal 2 dengan menggunakan monorail yang berada di lantai atas. Di terminal 2 berjalanlah mengikuti petunjuk
di mana MRT berada yaitu di lantai dasar. Di stasiun MRT Changi itu belilah tiket yang menuju stasiun MRT Bugis, disana ada petugas yang akan menerangkan bagaimana membeli tiket melalui tiket machine. Setelah menaiki MRT turunlah di stasiun MRT Tanah Merah


Di stasiun ini ganti kereta, cukup pindah ke kereta yang berada disebelahnya yang melewati MRT Bugis. Di dalam MRT setiap akan mencapai suatu stasiun maka akan ada pengumuman nama stasiun yang menjadi perhentian kita. Jadi pasang kuping baik baik. Dan untuk rute kereta sendiri di setiap pintu masuknya terpampang dengan jelas jalur stasiun yang akan di lalui.
Setelah kita turun di MRT Bugis keluarlah melalui exit B. Begitu tiba di pintu keluar/masuk MRT maka ambil jalan sebelah kanan yang menyusuri Jl Victoria. Berjalanlah sekitar 500 m lurus, nanti kita akan melewati Rafles Hospital, nyebrang jalan Rochor road, trus ketemu Golden Shoping Center, trus nyebrangin Arab Street, nyebrang lagi jl. pinang trus jl pisang, abis itu baru ketemu Jl Kubor.

TAXI
Dari terminal kedatangan banyak taxi tersedia, dengan taxi tentu saja lebih gampang, tinggal duduk dan berikan alamat hostel ke pak sopir dan bablas ke tempat kejadian perkara. Standar biaya dari bandara ke hostel sekitar S$15 - S$20.

BUS
Hostel bisa di capai dengan bus yang melewati jl victoria atau jl north bridge.
Bus yang lewat Jl. Victoria           : No 7, 32,63,80,145, 197,175
                           Jl. North bridge   : No. 2,12,33,133A

 HOSTEL

Hostel ini menyediakan beberapa jenis room dan dorm dengan beberapa tingkatan harga .
Untuk tipe dorm yaitu :

4 female dorm  : S$21
4 mix dorm      : S$21
6 mix dorm      : S$18
8 mix dorm      : S$16

Selain itu ada single room untuk 2 orang juga.

Sebelum check in kita harus kasih deposit dulu sebesar S$10 . untuk jaminan handuk, selimut dan konci kamar yang diserahkan ke kita.

Untuk tipe dorm ini disetiap room dikasih loker, cuman....... gak dikasih konci, jadi kalo mo make ya beli atau bawa gembok dulu dari rumah.
Trus kita dikasih konci roomnya juga, jadi kalau isi dorm ada 6 orang berarti ada 6 orang yang punya konci room itu.

BOOKING

Ni hostel bisa  kita booking lewat beberapa web yang ngurusin bookingan penginapan, misalnya lewat www.hostels.com. Tapi saya kemaren langsung booking lewat email atau webnya dan saya ga ngasih DP. Jadi cuman ngasih tahu nama, kapan mo nginap, berapa hari nginap dan jenis kamar yang dipesan yang saya tujukan sama si Kenix , orang FO sana, trus dia balas dengan email konfirmasi kesediaan kamar trus dikasih tau kalau sampai 2 jam lewat dari rencana check in di hostel kitanya belon nongol juga maka bookingan akan dihapus alias ga dijamin tentang ketersediaan kamarnya. Dan gak usah bayar DP dulu, ntar aja sesampai disana.

Jadi temans kalo mau go show kesana juga bisa, cuman ga dijamin ada kamar tersedia.

Waktu nginap disana saya ngambil dorm 6 bed dan kamar mandi sharing. Kamar mandinya ada air dingin ama panas pake shower aja. Kalo WC nya beda kamar lagi alias ga gabung dengan ruangan mandi. Tapi emang karena disana namanya sharing bath room ya, ya kalau kita mandi udah merupakan orang yang kesekian ya keadaan bathroom nya ya.............gitu deh. Kadang kertas toilet berserakan hehe... . Tapi infonya  yang banyak nginap disana orang Indo juga sih, jadi ga tau tuh sapa yang punya kebiasaan buang2 sembarangan, yang pasti sih bukan saya wkwk.... 

Disana di FO nya tersedia banyak brosur dan map singapore, FO nya helpfull banget kalo kita tanya2 tentang wisata singapore. Ada satu orang mba2 yang bisa bahasa malay untuk komunikasi sama orang orang seperti saya yang englishnya parah abis. FO lainnya ada bisa bahasa Chinese, jadi kalau temans bisa chinese yang monggo aja ngomong disana.
Trus di ruang depannya tersedia internet dengan kecepatan yang lumayan.
Kalo mo beli pop mie disana juga tersedia lo, harganya S$2 kalo ga salah.


LOKASI TERDEKAT

- Dekat dengan Pasar Bugis, tinggal jalan kaki.   ( ketika kita keluar dari MRT Bugis, di seberang jalannya itu pasar Bugis )
- Dekat dengan Mustafa Center, tinggal jalan kaki
- Dekat dengan Bugis Junction, tinggal jalan kaki
- Dekat dengan Arab Street, tinggal jalan kaki

Tapi kalau mau ke ORchad ya agak jauhan ya, mending naik bus atau MRT
.


Selain abc backpacker hostel tentu saja di singapore banyak hostel2 backpacker lainnya seperti :

City Backpackers
Feel at home
Betel Box backpacker hostel
Hostel one66
InnCrowd backpacker hostel
Bugis backpacker hostel
The Hive
Footprints hostel