Senin, 12 April 2010

Journey To Kuala Lumpur , Malaysia

Bas meninggalkan Singapore jam 10.30 malam menuju KL di Malaysia, di check point Singapore penumpang turun untuk cek paspor keluar dari Singapore,disini akan diminta sobekan kartu imigrasi Singapore yang kita dapatkan saat pertama masuk ke Singapore.Beberapa saat kemudian turun lagi di checkpoint Malaysia di Johor Bahru untuk cek paspor lagi. Disini kita harus menyerahkan kartu imigrasi Malaysia yang sudah kita isi sebelumnya di dalam bis atau bisa diisi disana dan setelah selesai pemeriksaan kita akan mendapatkan potongan kartunya untuk nanti diserahkan di imigrasi bila kita akan keluar dari Malysia. Untuk checkpoint di Malaysia ini para penumpang harus membawa semua barang bawaannya untuk di periksa disana. Yang memeriksa saya di JB adalah seorang petugas wanita yang tampak tak begitu antusias untuk nanya banyak kepada tamu negaranya ini, mungkin karena udah capek bekerja atau mungkin karna liat wajah saya yang bukan tampang kriminal hehe...
Jadi tak butuh waktu lama pasporpun dicap dan saya pun bilang terima kasih. Sejujurnya sewaktu melihat wajah petugas tersebut termasuk emblem Malaysianya di bawah alam sadar saya ada suatu kelegaan yang sedikit mengendurkan ketegangan di sana. Saya merasa
memasuki suatu daerah yang familiar dan lebih safe. Setidaknya saya memasuki daerah dimana orang2nya sedikit banyak saya ketahui karakternya dan lebih mudah untuk berkomunikasi. Ini mungkin pengaruh kejadian beberapa saat lalu ketika baru pulang dari pulau Sentosa. Setiba di halte Vivo City saya baru sadar kalau tidak ingat nomor bas yang melewati Golden Mile tempat pool bas yang saya booking tadi pagi untuk menuju KL. Ketika menelisik satu persatu jalur bus yang tercantum di halte tersebut tak satupun ada yang melewati Beach Road dimana Golden Mile berada. Panic Attact terjadi disini ketika puluhan orang yang saya tanyain tak ada satupun yang bisa memberikan jawaban meyakinkan berapa nomor bus yang harus saya naikin, walau ada sepasang anak muda India yang berusaha keras membantu dengan membolak balik dan menyusuri jalan-jalan yang ada di peta yang saya bawa tapi akhirnya menyerah and said sorry... sementara jam sudah hampir mendekati waktu check in. Saya juga sudah berkali kali mengelilingi gedung itu untuk mencari petugas yang berkompeten memberikan informasi, hasilnya nihil, telponpun entah kenapa ga nyambung ke nomor pool bis tersebut. Disaat saat terakhir bertemulah dengan seorang tukang parkir di gedung itu, dengan terbata-bata kembali saya menanyakan nomor bus tujuan saya, dan si bapak itu tahu yang saya maksud. " golden mile, right? you take one hundred..", saya masih bengong, sekali lagi dia menegaskan " one..zero..zero" , saya meloncat pergi dengan cepat kembali ke halte, cek nomer 100, ternyata ada, tapi tetap tidak ada beach road, mhh.. mungkin di seberang jalan, tanya lagi sama ibu-ibu muda bagaimana menuju keseberang, ternyata harus turun ke stasiun MRT dan berjalan ke seberang melalui lorongnya, dan sesampai disana kembali cek rute dan thank God saya menemukan tulisan bus 100 melewati road beach disana dan beberapa saat kemudian sang bus itupun muncul dan membawa saya ke golden mile.

Dengan semua kejadian melelahkan tadi sebenarnya saya berharap dapat tidur nyenyak selama perjalanan ke KL, tapi walaupun mata tertutup tetap saya tak terlelap, berulang kali miring kekanan maupun kekiri, nyender maupun membungkuk tetap rasanya tak nyaman. Mungkin status siaga satu di otak saya membuat badan berada dalam kondisi waspada sehingga tak mau diajak untuk beristirahat. Hal yang wajar karena saya akan memasuki daerah yang belum pernah di datangi sebelumnya pada dinihari pula pada kondisi yang saya bayangkan sama dengan di Indonesia. Itu waktu yang gak begitu nyaman bagi saya.

Rasanya belum begitu lama waktu perjalanan ketika saya dikejutkan dengan
teriakan pak sopir di depan saya. " Puduraya..puduraya...yang turun di KL turun disini.." Saya tersentak kaget, hah dah sampai? setelah meyakinkan diri bahwa bis sudah sampai di Puduraya saya segera menyambar ransel yang terletak di bagasi atas dan segera melangkah turun karena bus akan melanjutkan perjalanan ke kota lain yang saya lupa namanya. Begitu turun saya merasa benar2 di Indonesia lagi, beberapa sopir taxi segera berebutan menyambut para penumpang untuk  diajak menaiki mobilnya. Bedanya kalo disini sapir taxinya kebanyakan India dengan seragam putih-putihnya. Secara otomatis saya menggelengkan kepala dan menggoyangkan tangan menolak tawaran mereka. Mata saya mencari-cari kira-kira tempat mana yang bisa saya datangi untuk duduk sejenak menyusun strategi. Beberapa sopir itu masih tetap bertanya kemana saya mau pergi ketika saya melihat sebuah kedai atau buffet curry India di seberang jalan dan dengan langkah mantap menyebrang jalan menuju kesana.
"Teh nya satu pak cik.." kata saya dan kemudian mengambil posisi duduk di kursi yang menghadap ke jalan. Saya liat beberapa orang yang saya yakin sebagiannya adalah turis juga seperti saya menempati meja meja di kedai itu. Kami sama-sama menunggu pagi. Setelah teh datang yang ternyata adalah teh tarik kembali saya memesan roti cane pisang pada si pelayan. Kembali datang seorang sopir taxi menanyakan tujuan saya, saya bilang saya nak ke hotel paginya di bukit bintang.
Jam menunjukan jam 5 ketika saya menanyakan ke pelayan dimana ada mesjid sekitar sini, si pelayan pertama mengaku tidak tahu tapi si pelayan kedua memberitahukan bahwa di dalam gedung terminal Puduraya ada sebuah surau untuk shalat, dan waktu subuh jam 6 pagi ( kayanya dia tahu kalau orang Indo rada keder soal waktu shalat saat pertama kali ke Malay ). Ok lah kalo begitu, jam 6 tepat waktu Malaysia dan hari masih gelap saya menyusuri jalan menuju terminal Puduraya, dari luar bangunan terminal tersebut tampak tak begitu terang, keraguan sempat timbul dalam hati..amankah masuk kedalam sana di pagi buta ini? Namun saya tetapkan hati karena ini dalam rangka mencari rumah ibadah tentu Tuhan akan melindungi kita. Pertama masuk saya nyasar ketempat parkiran taxi di tingkat tiga, kemudian keluar lagi dan masuk ke lantai dua, ternyata di dalamnya sudah ramai dengan calon penumpang dan agen-agen bis yang meneriakan tujuan tujuan perusahaan bis bisnya..
" Malaka..Malaka"

" Pahang..pahang "
"Kedah..Kedah.." begitulah kira-kira teriakan mereka.
Setelah tanya-tanya akhirnya sampailah di surau itu, titip tas dan sepatu disana bayar 30 sen (disini titipan termurah selama saya di KL, soale di tempat lain biaya titipan paling murah adalah 2 ringgit ) setelah sholat perut saya berontak karena kemasukan roti cane tadi dan segera keluar buru-buru cari toilet, dapat toilet sekelas toilet terminal di Indonesia, bayar dulu 50 sen, masuk deh.
Sejam kemudian saya cari informasi bis tujuan Genting dan ditunjukan satu-satunya kaunter bis yang menuju Genting di deretan paling
belakang. Saya mendapatkan bis pertama yang berangkat pagi ini dengan membayar 9 ringgit 50 sen dah termasuk tiket skyway alias kereta gantung. Butuh waktu sekitar 1 jam untuk mencapai Genting Highland.


Genting Higland




Genting higland merupakan daerah ketinggian dimana udaranya cukup dingin dan selalu terlihat diliputi kabut seperti di Puncak, disana tersedia sarana hiburan indoor maupun outdoor yang mirip kaya dufan di Indonesia, cuman kayanya disini ada beberapa permainan yang belum ada di dufan. Waktu kesana ada iklan tentang beberapa permainan yang baru datang disana, Salah satu diantaranya adalah crazy coaster dan saya mencoba permainan ini dengan membayar 12 ringgit dan 2 ringgit untuk jasa penyimpanan backpack. Lumayan seru cuman saya merasa lebih seruan Halilintar kali ya.Sebetulnya di sini dijual juga tiket terusan namun berhubung saya lagi irit pengeluaran maka hanya beli yang single entry aja.  Setelah keliling keliling disana Jam 12 tepat saya kembali pulang menggunakan skyway setelah untuk kesekian kalinya ngabisin waktu muter2 lagi mencari jalan keluar yang ga ketemu2. Jam 1 siang dah sampai di Puduraya lagi dan dengan berjalan kaki mencoba mencari Jl. Tengkat Tongshin di daerah Bukit Bintang dimana infonya banyak terdapat hostel-hostel murah buat para backpackeran.

Rencana semula saya akan menginap di Green Hut Lodge, tapi jadi tertarik dengan sebuah guest house di sebelahnya yang bernama Comfort Lodge, dari segi tampak luar GH ini lebih tampak menarik dibandingkan Green Hut tetangganya. Disini saya ditawari single room dengan harga RM 45, sedangkan di Green Hut single roomnya RM50,  dan dorm 10 bed dengan harga RM28. Akhirnya chek in di Comfort Lodge yang bersebelahan langsung dengan Radius Hotel itu walaupun harus nunggu sampe jam 3 sore untuk memastikan kamar yang kosong. Pertimbangannya selain single room nya lebih murah RM5 juga tampilan lobby nya yang lebih comfort bagi saya dibandingkan Green Hut.

Young girl yang menerima reservasi saya berbicara dengan fulln English yang fasih menerangkan fasilitas lodge ini yaitu sama dengan yang di Sing tapi tanpa breakfast dan deposit RM20. (http://www.hotelcomfort.biz/html/comfort-lodge.htm).  Jam 4 setelah mandi dan beberes saya langsung
turun ke jalan untuk mulai mengexplore   kota Kuala Lumpur  , pertama masih bingung mau kemana karena ternyata tak cukup tersedia brosur dan peta wisata di tempat penginapan. Tujuan utama ke Menara Petronas/KLCC , tapi harus jalan kemana ya ? Pelan-pelan menyusuri Bukitbintang Walk dan akhirnya ambil keputusan untuk mengambil tur dengan bis Hop in Hop out disebuah agent travel. Harganya  RM38 . Menimbang dari pada keseringan nyasar lagi seperti di  Singapore  , dengan menaiki bis ini tentu lebih menghemat tenaga dan waktu karena rutenya melalui lebih dari 40 spot wisata KL. Sore itu perjalanan di mulai dari depan plaza BB dan kembali menyelusuri Jl. tengkat tong shin, kemudian sampai di Petaling Street. Di istana Raja sempat turun sebentar untuk mengambil beberapa foto bersama sekelompok turis Jepang atau China gitu. Saling tuker tukeran ngambil foto dengan bahasa isyarat.
Abis dari sana kemudian menuju Museum Nasional, ga berenti disana cuman lewat doang bus kembali melewati Daratan  Merdeka, Bird Park dan akhirnya melewati  KLCC yang menjadi tujuan utama saya. Turun disana mengikuti arus wisatawan menuju sebuah taman yang tepat berada di depan  menara, ambil foto sana sini dengan berbagai gaya. Ternyata semua pengunjung
mengalami persoalan yang sama yaitu sangat susah untuk mengambil gambar  Menara kembar itu secara keseluruhan, paling yang dapat hanya separo keatas atau separo keatas,  dan akhirnya harus rela berfoto diri dengan background kaki kaki menara.
Abis sesi pemotretan saya langsung masuk ke Suria KLCC, ini mall pada umumnya hanya di lantai bawahnya terdapat tempat pendaftaran bagi pengunjung yang ingin menaiki menara  kembar Petronas ( sayang kaunter tiket dah tutup ) dan semacam tempat pamer  bagaimana Menara ini dibuat. Setelah puas disana dan bengong sebentar di sebuah kolam air mancur
saya segera beringsut ke halte bus Hop on Hop out lagi, hari sudah menunjukan jam 7 malam ketika bus itu datang, isinya penuh dengan ibu-ibu dan bapak-bapak bule yang dengan ketertarikan yang besar mengagumi Menara  kembar Petronas dan juga Menara KL yang termasuk menara tertinggi di dunia, rute bus selanjutnya adalah   KL sentral, abis dari sana setiap penumpang ditanyain tujuan akhirnya dikarenakan ini adalah bus hip hop yang terakhir beroperasi. Dan sejam kemudian saya diturunkan di BW kembali. Saat itu adalah Sabtu malam, daerah BB menggeliat meriah, anak anak muda tumpah ruah disana, di setiap perempatan jalan terdengar musik baik dari band cafe maupun band bikinan sendiri, orang-orang yang berlalu lalang berasal dari bermacam macam negara dengan pakaian yang paling chic saat itu. Cafe dan restoran penuh dengan pengunjung. Karna waktu yang masih sore saya mencoba memasuki sebuah mall yang bernama Sungei Wang, disana dijual berbagai macam barang dagangan termasuk souvenir.Gak ada yang dibeli disana karena keburu perut udah minta diisi. Saya kembali melangkahkan kaki menuju Jl Alor dimana dikiri kanan jalan padat oleh restoran dan rumah makan China, saya mencoba mencari-cari siapa tau ada terselip rumah makan padang atau melayu disana namun saya lagi kurang beruntung. Setengah putus asa akhirnya saya melangkah kembali ke penginapan dan berencana membeli Pop Mie aja, eh gak taunya ternyata tepat di seberang jalan penginapan penuh dengan rumah makan curry India, wah mantap nih, setidaknya saya yakin disini makanan halal semua. Rumah makan yang saya masuki memakai sistem self service, abis makan baru bayar, kebetulan disana juga dipenuhi oleh pengunjung yang sedang asik menonton siaran langsung sepak bola. Jadilah malam itu saya makan gule ikan ditemani pengunjung yang bersorak-sorak gembira ketika tim jagoannya berhasil menceploskan bola ke gawang lawannya. Mm hommy... ( kali ini ga pesen teh...takut dikasih teh tarik lagi hehe..).
Kenyang dari sana kembali ke penginapan ,tekan bel dan dibukain pintu oleh bapak2 yang ramah menyambut dan mau sedikit berbasa basi berbahasa Malay dengan saya. Abis mandi langsung tidur.

Paginya setelah breakfast dengan martabak telor India dan lagi-lagi dikasih teh tarik pas mesen teh walau dah nerangin dari awal saya maunya teh biasa kayak teh lipton gitu. ( akhirnya baru tau kalau mesen teh biasa nyebutnya hari teh O ) saya segera beberes dan check out. Tujuan hari ini adalah Batu cave.



Sebenarnya tiket bus hop in hop out saya masih bisa berlaku
sampai jam 4 sorenya untuk keliling KL lagi namun seteleh diitung-itung waktu yang tersisa akhirnya saya memilih melepaskan kesempatan itu dan ambil tujuan ke batu cave. Info yang saya baca dimilis kalau mau menuju kesana kita bisa mengambil rute monorail dari BB ke Titiwangsa dan dari sana nyambung bus yang menuju Batu cave. Sayapun mengikuti info itu, beli tiket di kaunter monorail bayar 2 ringgit sekian sen dan melaju menuju stesen akhri Titiwangsa. Pas di bawah stesen itu ada halte bis, segera saya nongkrong disana nungguin bis yang ada tulisan batu cave nya. Tunggu punya tunggu sang bas yang ditunggu gak kunjung datang. Di halte yang sama kaya di Indonesia itu tidak terdapat sama sekali info tentang rute bis. Capek nunggu saya coba tanya2 sama seorang gadis pake english, dia hanya geleng2 pala.
Ok, saya tanya lagi gadis lain yang terlihat sangat melayu pake bahasa Indo, dia juga geleng2 pala. Waduh..selain mereka berdua yang terlihat hanya para supir taxi, kalau nanya supir taxi ntar malah ditawarin kesana ya, padahal ringgit saya terbatas nih. Nongkrong lagi disana nungguin orang lain yang mungkin bisa ditanyain. lama disana ga ada juga yang datang datang, sedangkan waktu terus berjalan . Setelah berapa lama eh
akhirnya gadis pertama yang saya tanyain pake english tadi datang mendekat. " Kamu nak ke batukev ? " tanyanya pake bahasa Malay, terang aja saya ngangguk angguk kuat. Dan intinya dia ngasih tahu kalau bus yang ke batu cav tidak melewati halte itu kemungkinan di jalan lain dan saya dianjurkan bertanya kepada petugas bis yang kebetulan poolnya ada dibelakang halte itu.
"Thank you" kata saya berulang-ulang karena lega akhirnya mendapatkan petunjuk. Saya segera tanya sama petugas disana dan ditunjukan arah untuk menunggu bis nomor U6. Jadi saya harus berjalan sekitar setengah kilo lagi dari sana menuju sebuah jalan dimana bis U6 lewat.

Bis U6 adalah bis Rapid KL yang membawa saya ke batukev dengan biaya hanya 2 ringgit.
" dari mana ? " tanya sopir sambil nyetir.
" Ee..Jakarta "
" Nak melancong?"
" Iya pak cik "

Setengah jam kemudian bis pun melewati persimpangan dimana batukev berada, keberadaannya sangant mencolok dengan gerbang besar dan patung budha besar di dalamnya.
 
 

 

 

Kamis, 25 Maret 2010

Lost in Singapore 3

Day 2

Pas bangun keesokan harinya masih ga ngeh kalo jam disini lebih cepat 1 jam, sehigga saya rada heran kok jam 6 di luaran masih gelap baget. Jadilah pagi itu ngenet dulu sambil nungguin breakfast buka. Saya nge net nyari2 lokasi pemberangkatan bus dari Sing ke KL yang deket dari penginapan plus ongkosnya, trus juga nyari lokasi penginapan nantinya di KL sana. Hasil  searching dapatlah lokasi pemberangkatan bus yang deket ada di daerah Golden Mile di Beach Road, ini gak terlalu jauh dari daerah Arab St sini, bisa jalan kaki. Trus search penginapan di KL dapatlah lokasi di daerah Bukit Bintang, disana pusat turisme dan terdapat banyak sekali penginapan dari kelas bintang tujuh sampai yang kelas minus tujuh. Saya sengaja ga book dulu via internet karna mo survei lebih dahulu, karena ada temen milis bilang foto penginapan yang ada di internet kadang bisa beda ama aslinya. Jadi biar ga kecewa ntar saya survey aja disana dan tidak khawatir bakalan ga dapat secara disana buanyak banget penginapannya. Inceran saya yaitu jalan tengkat tong shin di daerah Bukit Bintang. 
Setelah breakfast, mandi dan sempat chit chat dengan sekelompok cewek Indo ABG yang juga lagi traveling di Sing sebentar kemudian saya segera berkemas untuk chek out dari hotel. Hari ini saya berencana mau book bis ke KL kemudian mengunjungi China Garden dan MacRithie Resorvoir. Terus terang saya kurang suka dengan wisata belanja dan lebih suka dengan wisata alam, jadi jauh-jauh kesini ya tetep aja saya nyari wisata alamnya.
Setelah mengembalikan handuk, selimut dan kunci si mba yang jaga mengembalikan uang deposit kemaren sebesar $10 dan saya segera meluncur menuju Golden Mile dengan peta singapore di tangan ( ini pemandangan biasa di sing : banyak orang yang bawa bag besar di punggung dan peta ditangan sambil kepala plengak plongok melihat kesekelilingnya ).
Saya melewati kampung Glam dan juga mesjid Hajjah Fatimah, kemudian setelah melewati jembatan penyeberangan terlihatlah jejeran biro travel dengan bis bis nya yang bagus di pelataran Golden Mile Complex itu. Saya memasuki sebuah travel biro yang sedang direnovasi dan memperhatikan seorang calon penumpang yang sedang book bis dengan CC nya, Mhh... harga yang tertera adalah $30, harga yang reasonable bagi saya karena sebelumnya di internet saya liat rata2 tarif bus semacam nice dan orange bus adalah sekitaran $70, sepertinya bis yang ditawarkan ini yang kelas menengahnya. Beberapa saat kemudian saya di sapa sama CC nya dan saya segera ikutan book tiket untuk pemberangkatan jam 10 malam dan diberitahu bahwa nanti bis akan berhenti di Puduraya jam 4.30 dini hari.

Untuk ke China Garden karena harus beberapa kali tuker bis untuk kesana akhirnya saya memilih naik MRT lagi yaitu di MRT Bugis, cukup jauh dari sana tapi dengan semangat jalan-jalan yang beneran jalan akhirnya saya sampai juga disana. Di MRT Bugis saya ambil tiket single trip di mesin tiketnya, pencet stasiun tujuan dan masukan 2 biji koin $1 dan tiketpun keluar. Senangnya ketika turun di stasiun MRT China Garden kita akan langsung dihadapkan dengan jalur yang menuju gerbang China Garden dan sepertinya stasiun MRT ini memang dibikin dalam rangka memudahkan pengunjung menuju China Garden ini. 
China Garden satu area dengan Jepang Garden, tapi karena keterbatasan waktu saya ga sempat mengexplore yang Jepang nya. Di China garden sesuai dengan namanya merupakan sebentuk taman bernuansa China, disana bertebaran patung-patung tokoh2 dari negeri china termasuk berbagai macam pagoda dan replika kapal China, disana juga ada semacam tempat penangkaran turtle yang di sucikan, tapi ane waktu kesana ga liat turtle nya tuh, yang ada mah sekelompok anak2 TK yang lagi darmawisata disana. Disini ga perlu bayar kalau masuk dan terasa sekali nuansa tamannya alias ga banyak orang dan kita bisa leyeh2. Karena itu disini saya puas2in lagi buat fot-foto an disini sendirian mumpung ga banyak orang yang liat.
 
Sehabis dari sana saya langsung cabut ke stasin MRT China Garden dan kembali membeli tiket single trip menuju MRT Marymouth, karena berdasarkan info yang saya peroleh itu adalah MRT terdekat menuju MacRitchie Reservoir. Tiketnya seharga $2,30.

Hanya satu stasiun yang saya lewatin karena saya harus turun dan di MRT Jurong East dan menyambung dengan MRT jalur merah yang melewati Stasiun MRT Bishan, disana saya turun lagi dan sekali lagi harus menyambung train menuju stasiun MRT Marymouth.
Dan begitu keluar dari sta MRT, holaaaaa.................  terbentanglah pemandangan deretan gedung2 rumah susun dan jalan jalan yang besar, cuma yang bikin bingung adalah ga ada seorangpun yang lalu lalang disana. No pedestrian jam segini, trotoar tampak lengang bahkan tukang sapupun ga ada, saya coba mencari papan petunjuk atau apapun bentuknya yang menunjukan arah menuju reservoir itu, ga ada satu pun. Yang ada hanya nama-nama jalan. Ada satu anak sekolah yang lagi nunggu temennya disana yang saya tanyain, dia cuman bilang sorry.
Waduh bagaimana ini, saya coba menyusuri jalan itu dan kembali mematut-matut peta yang dibawa tapi memang ga ada dijelaskan secara rinci tempat tersebut kecuali terlihat dekat dengan MRT Marymouth. Setelah berjalan sekitar 1 km ke arah utara, tiba2 saya merasa itu jalur yang salah dan kembali balik arah menuju stasiun lagi. Dari sana kemudian mencoba lagi menyusuri jalan yang menuju Upper apaaa gitu.... ketemu bangunan pemadam kebakaran, abis itu setelah 2 km berjalan baru ketemu sebuah halte dengan orang2 yang menunggu disana. Seseorang disana memberitahukan bahwa saya telah salah jalan dan harus kembali ke suatu simpang dimana saya memulai perjalanan tadi dan kemudian melanjutkannya ke arah timur. Lumayan panas siang itu dan keringatpun sudah bercucuran. Sambil jalan saya membuka bekal yang di bungkus dari penginapan tadi, soalnya selama perjalanan itu saya ga menemukan McD atau warung India dan semacamya.

Setelah berputar putar sekitar hampir 2 jaman akhirnya MacRitchie Reservoir itupun saya temukan, lega rasanya ketika melihat papan petunjuknya terpampang didepan saya. Disana ada sebuah danau yang lumayan besar, beberapa anak muda tampak sedang asik menenteng perahu untuk berkano ria, disana terlihat sepi soalnya memang bukan di akhir minggu, semilir angin dari hutan hujan akan menyapa kita disana. Disana juga terdapat tempat-tempat duduk untuk istirahat dan juga sebuah jalur yang dibuat dari susunan papan kayu yang biasanya digunakan untuk jogging. Selain itu disana juga ada trek untuk hiking menuju sebuah jembatan gantung dibagian lain reservoir itu yang berjarak sekitar 2-3 jam perjalanan dari sana. Saya cukup beristirahat disana sebentar menikmati suasananya plus mengambil beberapa foto.

 



Pulau Sentosa




Chinese Garden & MacRitchie Reservoir




Tempat-tempat teduh dimana Singaporean melarikan diri sejenak dari kesibukan kota.

Selasa, 23 Maret 2010

LOST IN SINGAPORE 2

Setiba di Changi Airport saya segera mengikuti arus penumpang yang berjalan keluar, beberapa saat kemudian bertemu dengan pintu imigrasi dimana banyak orang-orang terlihat antri. Saya memilih antrian dimana petugas imi nya seorang ibu2 ( siapa tau lebih lancar hehe...) dan benar saja ketika dia teriak " next !" saya pun segera menyerahkan pasor beserta formulir imigrasi yang sudah saya isi sewaktu di pesawat dengan jantung berdebar takut ditanya macam2. Si Ibu cuman melihat selintas ke wajah saya untuk mencocokan foto setelah itu langsung memberikan cap nya. Saya segera menyambut paspor yang disodorkan dan segera beranjak dari sana setelah bilang terima kasih dalam bahasa indonesia, eh dia juga balik bilang terima kasih dengan fasihnya.  Fiuuh...
Sebuah jalan berjalan ( bukan tangga berjalan lo ) yang panjang mengantar para penumpang menuju pintu kedatangan. Disini sempat melihat seorang cewek dengan daypack nya keliatan celingak celinguk mencari jalan keluar dan bingung ketika melihat ada jalan keluar yang tanpa pemeriksaan dan ada satu lagi jalan keluar tapi kok ya penumpangnya pada di bongkar2 isi tasnya, dari gaya terlihat kebingungannya dan saya tau persis itu karena sama dengan gaya saya sekarang yang plangak plongok kebingungan dan kadang2 lama mlototin papan petunjuk melihat arah jalan hehe.... Saya mo ngasih tau tu cewek kalau kita tidak membawa barang-barang yang perlu di laporkan ya langsung saja memilih pintu yang tanpa pemeriksaan tapi rada sungkan, bisa saja tebakan saya salah atau dianggap SKSD, malah takut dianya. Saya langsung aja keluar, di depan pintu terlihat beberapa  orang yang menjemput dengan kertas karton bertuliskan nama seseorang di dadanya dan beberapa sopir taksi.
Sesuai dengan petunjuk yang saya liat dan informasi yang saya terima dari teman-teman di milis saya langsung menuju lokasi skytrain untuk menuju terminal 2, dari sana baru bisa ketemu MRT yang akan membawa kepusat kota.
Setiba di stasiun MRT di terminal 2 kami ( saole bukan saya aja ternyata ) yang plengak plengok dan langsung ketauan kalau baru datang dari Kampung ini segera di tolong oleh seorang petugas bagaimana caranya membeli tiket MRT dengan menggunakan alat yang banyak berjejer disana. Dengan ramah si mbak itu yang langsung tau saya dari Indonesia dari tampang saya memberitahukan cara kerja alat tersebut dengan bahasa Malay campur English. OK, dengan modal kata tengkiu saya segera mendapatkan tiket dan dengan norak nya foto-foto sendiri di depan loket MRT untuk merayakan kedatangan saya di negeri asing ini ( ceilee....).

Di MRT di setiap pintu terpampang jelas rute stasiun yang akan kita lalui, disamping itu juga akan ada pemberitahuan bila kita akan mendekati setiap stasiun plus ada tulisan berjalan di dalamnya yang berisi nama stasiun untuk pemberhentian berikutnya. Dengan segala petunjuk itu dengan mudah saya bisa berhenti dan keluar dari stasiun MRT Bugis.
Nah dari sini dimulailah kebingungan itu, berdasarkan petunjuk yang saya dapat saya harus menyusuri Victoria Street untuk menuju ABC hostel, di depan saya segera terpampang tulisan victoria street di perempatan jalan itu. Disalah satu sisi jalan terlihat tulisan Bugis Market. Dalam anggapan saya bila ada plang nama jalan terpampang di depan kita maka itu menunjukan bahwa jalan dibelakang nama jalan itu adalah jalan yang diinformasikan. Maka saya segera menyusurinya. tapi lo kok malah masuk pasar, belum lagi disana sedang ada pembangunan yang membuat pedestrian harus memasuki lorong2 yang diapit oleh seng saja, tambah bingung aja. Trus kok ketemu Bugis Junction? wah ini pasti salah jalan. Abis itu saya muter2 lagi, capek muter akhirnya coba tanya ke seorang kakek-kakek penjual es, Eh si kakek cuman geleng2 bahkan tanpa menoleh ke saya. Wah selamat..... saya dah ketemu dengan karakter Singaporean nih..Ok ga papa, selanjutnya saya coba tanya kesepasang muda mudi yang lagi asik pacaran, eh di gratisin juga. Buset, akhirnya saya balik lagi ngiderin tu pasar Bugis, dan kembali ke stasiun MRT Bugis lagi. Dari sana saya  coba tanya Raffles Hospital, siapa tau mereka lebih tau karena itu kan bangunan besar. Dan..... tetep ga ada yang tau. Akhirnya jalan lagi muter2 akhirnya ketemu si Raffles Hospital. Dan setelah itu ada titik cerah setelah bertanya-tanya kepada seorang ibu-ibu India di mana keberadaan jalan hostel yang saya booking itu berada.  Berjalan 300 m lagi akhirnya hostel itu terlihat jelas.
Saya masuk dan tanpa banyak kata langsung nyerahin print-an bookingan, pertama siy saya nanya pake English, tapi si mbak resepsionisnya pas ngejawab saya nya malah ga ngerti haha.. akhirnya si mba ngomong pake bahasa Malay baru deh ane ngerti.
Jadi disana ada banyak macam2 kamar dan saya pilih yang dorm isi 6 bed seharga $18 semalam, trus kita akan mendapatkan satu kunci, satu selimut dan satu towel. Kemudian juga harus deposit $10 yang bisa kita ambil ketika check out.  Ruangannya Ok lah sesuai dengan harganya, ada lokernya tapi ga ada gemboknya ya udah ga saya gunain. Dapat breakfast dengan roti selai dan free internet.
Setelah dapat kunci saya segera online dulu sebentar , bersih2 dan segera cabut untuk mengexplore Singapore. Bermodalkan peta yang disediakan di hostel saya melangkahkan kaki keluar. Tujuan pertama saya adalah cari makan dulu !
Saya memasuki Arab street dan suprise !!! disana ada restoran Padang, O My God ada juga restoran Pariaman wkwkw..... segeralah makan disana dan makan dengan telor dan gulai nangka cuman abis $2, murah banget..
Cuman kayaknya sore ini langit Singapore ga gitu bersahabat dengan saya. Sore itu Hujan deras !!  Setengah jam bengong aja di emperan Arab St. Nyari2 payung ga ada yang jual. Akhirnya ketika ujan dah sedikit mereda saya nekad jalan menyusuri Kampung Glam, melintasi Mesjid Sultan dan masuk ke Bugis Market. Disana ada penawaran menarik gantungan kunci 18 biji seharga $10. Beli.
Dari sana rutenya adalah sbb :

- Kuil Sri Krisnan
- Goddes of mercy

Nyasar lagi di Bencoolen St bolak balik disana nanya2 ama orang, ada yang ngasih info tapi salah ada juga yang ngasih info tapi cuman sepotong, setelah jadi anak hilang di princeen street beberapa lama akhirnya ketemu jalurnya lagi,

- National  Museum 
- Singapore management University
- Raffles Hotel
- Sigapore Flyer
- Esplanade
- Merlion Park
- The Fullerton
 
Sampai disini hari udah gelap, Singaporean pada dah pulang kantor dan saya trus menyusuri Raffles Quay, udah mulai jarang ketemu orang selama perjalanan. Sekarang tujuannya adalah ke Stasiun Kereta di Tanjong Pagar untuk memesan tiket menuju KL buat besok malam.

Setelah gempor menyusuri Shenton Way akhirnya ketemu Keppel Road, dah makin dekat nih. Setelah 2 sampai 3 kali nanya lagi ( kali ini sama Singaporean kantoran yang sangat informatif sekali dan.. juga pada modis ) sampailah saya di Tanjong Pagar setelah nyasar ke gudang barang milik orang disebelahnya ( terang aja di teriakin )hehe........

Dan keterangan pak cik di kaunter kereta bikin saya terduduk lemes, katanya sampai tgl 21 besok alias sampai hari minggu kereta dah full book.

Akhinya setelah foto-foto tu stasiun saya segera mencari stasiun MRT terdekat untuk kembali ke penginapan secara jam udah menunjukan jam 9 malam. Tanya2 lagi ketemu MRT Tanjung Pagar dan segera meluncur ke MRT Bugis balik ke hostel. Sampai disana mandi trus cari2 info lewat internet alternatif transport menuju KL.