Rabu, 31 Agustus 2011

GO TO SHENZEN....

Hari ini rencananya adalah mencoba peruntungan untuk memasuki Shenzen, sebuah area teritory dari People Republic of China yang bersinggungan langsung dengan Hongkong. Tentu saja untuk memasuki daerah tersebut kita perlu kulo nuwun dulu sama yang punya daerah. Masalahnya adalah apakah "minta ijn" kita di restui oleh otorita sana apa ngga. Berbeda dengan Hongkong untuk memasuki negara PRC pemegang paspor Indonesia harus mengantongi visa sebelumnya alias tanda bukti kalau udah di beri ijin memasuki rumahnya walau cuman sebentar. Denger2 info untuk sekarang ini kita2 yang orang Indonesia ini diperbolehkan memasuki Shenzen dengan VOA (visa on arrival) yaitu visa nya minta langsung di perbatasan dan ga usah ngurus dulu di kedutaan PRC di negara asal. Karena ini dasarnya juga "denger2" maka berjalannya rencana ini dengan sukses atau tidak tentu tergantung dari benar atau tidaknya info tersebut. Jadi dari awal rencana kita ini nothing to lose alias coba-coba aja, kalau berhasil sukur kalau ga ya kasihan banget......

Pagi-pagi setelah berkemas dan beli bekel roti dan air minum di swalayan depan hostel kami segera menggendong backpack dengan tujuan pertama meletakan bawaan kita tersebut ke hostel yang baru karena hostel sebelumnya gagal untuk kita perpanjang waktunya dikarenakan sudah full booked. Dari beberapa pilihan yang terbatas akhirnya kami mendapatkan sebuah hostel di areal Chunking Mansion bernama Four Season (keren ya namanya...). Chunking Mansion sebenarnya sama saja dengan gedung hostel-hostel backpacker lainnya di Hongkong, cuman sebelumnya jauh-jauh hari saya selalu menghindari untuk memilih gedung ini dikarenakan info-info yang saya terima bahwa disana rada hussle, banyak calo2 hostel baik orang daratan maupun orang item, dan ada juga cerita salah satu turis yang dah booking salah satu hostel malah diberikan hostel yang lain oleh para calo. Tapi karena keadaan yang mendesak dan tidak banyak pilihan hostel yang available saat itu akhirnya kami booking juga sebuah hostel disana.

Dari Mongkok kami menaiki bus dan turun pas di depan pintu Chunking Mansion, dan setelah sempat tukar duit di money changer seberang jalan ( ga mau yang di dalam Chunking mansion.....) dengan langkah mantap dan cuek dari tatapan mata para calo kami langsung menuju pintu lift yang dijaga seorang satpam yang tampak tegas mengatur antrian yang berderet panjang. Disalah satu lantai kami keluar dan mencari2 papan nama hostel tersebut dan akhirnya disebuah sudut gedung terpampanglah nama hostel Four Season. Setelah memencet bel di pintu akhirnya kami diterima seorang bapak2 yang memeriksa bookingan kami lewat secarik kertas di mejanya. Ada nama kami disana, tapi pagi itu kamar-kamar yang kami pesan belum available dan harus menunggu sampai jam 12. Ok no problem, kami titip tas2 disana kemudian turun keluar gedung dan langsung turun ke stasiun MRT yang pas berada di depan gedung Chunking Mansion. 

Dari stasiun Jordan kami menuju stasiun Prince Edwar, dari sana ambil jalur Tiu Keng Leng berhenti di stasiun Kowloon Tong, trus naik mtr yang menuju LO wu, hati2 lo jangan salah kereta karena ada juga Mtr yang menuju stasiun  Lok Ma Chau dan arahnya sama...

Di Lowu kami turun dan mengikuti arus orang-orang yang menuju loket imigrasi untuk menyeberang ke Shenzen. Dan seperti yang telah di ceritakan di postingan sebelumnya kami sempat adu mulut dulu dengan imigrasi Hongkong ketika akan keluar. Lolos dari sana dengan mengikuti petunjuk yang jelas terpampang kami mengikuti arah untuk pengurusan visa di lantai 2. Disana kami langsung isi form yang tersedia dan kemudian memberikannya beserta paspor ke loket pertama. Di loket tersebut kita diberikan nomer untuk pengambilan dan pembayaran visanya. Lumayan lama menunggu disana karena banyaknya pemohon dan rata-rata adalah orang Indonesia. Ketika nomer kita dipanggil satu persatu kami menyerahkan uang pembayarannya sebesar 160 RMB dan kemudian menunggu lagi untuk dipanggil menerima paspor yang sudah ditempeli visa for Shenzen special area. 

Berbekal visa tersebut proses di imigrasi China berlangsung lancar, dan ketika keluar dari gedung imigrasi dan juga sebuah mall terpampang di hadapan kami deretan gedung2 tinggi tak ubahnya seperti di Hongkong. Tak berlama-lama menghirup udara Shenzen kami segera memasuki basement lagi menuju stasiun metro, disana antri beli tiket di machine ticket. Tiketnya tidak berupa sepotong kertas tapi sebuah koin dan jangan bingung dengan tulisan china di layarnya karena ada pilihan bahasa Inggris untuk memilih stasiun tujuan.

Sambil mengingat-ingat dimana kami harus berhenti saya mengikuti yang lainnya memasuki metro. Keretanya sama dengan MTR, bersih, baru  . Lupa-lupa ingat di dalam MTR atau metro ada TV nya lagi ( jadi lucu ngebayangin kereta commuter kita pake TV hehe.. ) tapi lupa di metro atau di MTR ya....

Tujuan kunjungan singkat kami saat ini adalah Window of the world, turun di Shijiezhichuang. Ketika keluar dari lorong stasiun metro kita langsung berhadapan dengan gerbang WoW. Berhubung waktu yang ngga banyak buru2 kita menuju loketnya, eh ternyata harga tiket lebih tinggi daripada info yang kita dapat sedangkan yuan kita ngepas banget, langsung nyebar nyari money changer disekitar sana. Seperti biasa saya mendekati pihak yang paling bisa di "pegang" kalau di situasi begini, saya nanya ke serombongan polisi muda siapa tahu mereka punya info dimana money changer terdekat disana. Dan ternyata..... tetep mereka ga satupun yang bisa bahasa Inggris sedangkan saya sendiri juga nol pengetahuan bahasa China nya. Akhirnya  salah satu dari kita ada yang mendatangi kantor agent travel disekitar sana yang punya pegawai bisa english dan dapat info kalau money changer terdekat ya ada di dalam stasiun yang kita lewatin tadi. Gradak gruduk kita kembali masuk ke stasiun bawah tanah untuk mencari money changer. Kelar urusan uang yuan kembali kita ngantri di loketnya dan trus segera masuk ke lokasi.

Mungkin dah pada tau kalau WoW itu isi nya miniatur bangunan-bangunan yang jadi landmark masing-masing negara dari seluruh dunia. Ada piramid, menara eiffel, mesjid biru, big ben,air terjun niagara, menara pisa, museoleum, biara dan juga miniatur borobudur ( tapi monas ga ada...).

Keliling-keliling disana, poto sana poto sini hari pun beranjak sore. Kita segera keluar dan langsung naik metro lagi menuju Lo wu. Disana sewaktu ngisi form imigrasi ketemu mba-mba  pahlawan devisa kita yang minta dengan sangat untuk barengan dengan kita soale dia juga baru pertama kali jalan sendiri di Shenzen ini. Setiba di loket imigrasi ternyata lokasi loket kita dengan mba mba tersebut berbeda. Soale si mba mba udah punya sejenis KTP Hongkong ( ga tau namanya..) sehingga dia ngantri di lokasi Hongkong residence, sedangkan kita harus pindah lokasi yang tempatnya lebih jauh dan muter2 jalannya yang khusus bagi Foreigner. Sesampai di Hongkong maunya sih saya dah mo ngegeletak aja di penginapan, apa daya temen sangat antusias sekali untuk keliling nyari oleh2 di street market berhubung kita besok pagi dah harus nyeberang ke Macau. Keliling jauuuh banget mo nyari tas-tas murah, malah ketemunya butik-butik kecil yang ngejual tas paling murah DHK 3000, bahkan ada sebuah tas yang ngegeletak aja di atas papan dengan bandrol DHK 240.000.

And you know what?  bangsa jam 11 an malam kita balik ke hostel dan ternyata pintu hostel dah ditutup. Setelah mencet2 bel cukup lama akhirnya yang jaga hostel keluar ngebukain pintu sambil terkantuk kantuk gitu. Dan...si penjaga dengan alasan karena telah dibangunkan malam-malam gitu oleh kita maka dia minta tips. Eallaaah...


 


Sabtu, 30 Juli 2011

Ngong Ping 360, Disneyland dan Restauran Sedap Gurih

Yap dengan cable car kita meninggalkan terminal cable car di tung chun dan naik melewati rimbun hutan di bukit-bukit hongkong ini, semakin lama cable car beranjak naik dan dari atas kita bisa melihat kota Hongkong yang penuh dengan gedung-gedung tingginya, kemudian juga terlihat bandara Hongkong dengan banyak pesawat2 yang lagi nongkrong, dan terlihat imut2 dari atas sini. Setiap cable car berisi 6 orang, duduk tiga tiga hadap-hadapan. Dibawah kami membentang hutan namun ditengahnya ada semacam trek pad terbuat dari kayu yang menghubungkan antara satu menara dengan menara lainnya dan beberapa kali terlihat ada beberapa rombongan bule yang menyusuri trek dengan berjalan kaki, ow ceritanya lagi treking naik gunung ya..... ya ok juga sih untuk alternatif menuju Ngong Ping. Kalau udah pernah naik cable car di Genting ya mirip2 itulah cable car sama pemandangannya.

Sesampai di terminal akhir cable car kita dah sampai langsung di kawasan Ngong Ping 360,  sekeluarnya dari terminal itu kami langsung ketemu Ngongping Village, sebuah tempat dengan tema desa China dimana disana bertebaran resto dan tempat shopping. Disana ada venue bernama Walking with Budha , sebuah pertunjukan multi media yang menceritakan perjalanan Siddhartha Gautama dari lelaki biasa menjadi Budha. Trus ada Monkey tale theatre yang mempertunjukan secara charming dan comical cerita yang terinspirasi dari cerita terkenal jataka budha.

Disana kami hanya liat2, masuk satu dua toko tapi ga jadi beli apa2, kemudian turun hujan sebentar dan kita neduh di depan toilet...............

Keluar dari Ngongping Village kami menuju Tian Tan Budha, patung budha besar yang merupakan pusat utama Budhisme di Hongkong. Jalanan menuju kesana dihiasi patung2 China (ga ngerti juga itu patung dewa atau pahlawan2 ) di sisi kiri dan kanan jalan, satu dua juga terlihat tenda-tenda yang menjual souvenir. Untuk menuju Tian Tan Budha seperti biasa kita harus menaiki ratusan anak tangga untuk mencapainya. Sesampai diatas kembali kita foto2 dan menikmati hijaunya hutan Hongkong. Ternyata Hongkong bukan hanya berisi hutan beton tapi juga ada hutan beneran. Suatu hal yang mengagumkan juga bagaimana hongkong dengan tanahnya yang terbatas masih bisa mengatur perkembangan kota sehingga tidak mengekspansi hutan dan spot-spot budaya mereka dengan jalan memelihara sekaligus menjadikannya sebagai sumber uang untuk perputaran ekonomi. Yap enggak harus menebang hutan dan menghancurkan bangunan tua untuk mendapatkan uang, dengan memeliharanyapun bisa dapat uang.

Puas mejeng diatas kamipun turun kembali dan sekarang saatnya untuk mengunjungi Po Lin Monastery, alias biara Po Lin, di belakang  biara tersebut terdapat restaurant vegetarian. Jadi setelah puas melihat2 biara kami sempatkan ke restauran tsb karena perut yang sudah minta diisi. Liat2 menu yang murah meriah dapatlah sepiring mie tepung beras. Sekilas seperti mihun goreng dan soal rasa ya gitu deh hehe...pada ga gitu cocok alias ga pada diabisin,apalagi seorang teman yang tadinya dengan semangat ngasih saos sambel ke dalam mi ee...malah rasanya jadi asem..( saya sendiri atas nama menjaga fisik tetap kuat akhirnya menghabiskan mienya selain yang udah di kasih saus sambel....)

















Puas di Ngong Ping 360 kami segera kembali ke Tung Chung untuk melanjutkan perjalanan ke tempat selanjutnya. Kali ini kita naik bus untuk turun dengan bus bernomor 23 dengan harga tiket kalo ga salah HKD27 (pakai octopus card soale) yang melewati jalan turun berbelok-belok persis seperti waktu naik bus yang dari the Peak kemaren dan kami diantar menuju terminal akhir Tung Chung.

Tujuan kami selanjutya adalah Disneyland.................
Dari stasiun Tung Chung kami naik MTR menuju Sunny Bay, dari sana ambil lagi MTR yang menuju Disneyland station. Pas yang dari Sunny bay MTR yang menuju Disney terlihat beda dari yang biasanya, jendela2 MTR nya berbentuk Mickey Mouse, trus didalamnya tempat duduk penumpang juga seperti sofa di rumah yang ada belokannya hehe...  selain itu pegangannya juga berbentuk mickey. Di setiap pojokan terdapat patung2 ikon dari Disney seperti patung donal duck, mickey, mini, gufi, pluto dan laennya.

Stasiun Disney memang khusus dibuat untuk penumpang calon pengunjung taman tersebut sehingga ketika MTR tiba distasiun kita langsung berada di dalam kawasan Disney. Setelah melewati gerbangnya ada jalan yang panjang menuju tempat penjualan tiket untuk masuk ke Disneyland, harga tiket HKD350. 

Selepas dari Disneyland hari sudah malam, bergegas kami naik MTR lagi langsung menuju stasiun Central di Hongkong Island. Misi kami malam ini adalah mencari rumah makan Indonesia yang menurut infonya ada di sekitaran Victoria Park atau Wan Chai. Kami sudah dalam kondisi lapar masakan rumah yang akut. Ada teman yang sudah ga makan dari siang demi menyongsong masakan Indonesia apapun yang dapat di kunjungi. Kami sudah ga konek lagi dengan makanan yang biasa kami makan dari kemaren. Dari Central kami naik tram dan bayar HKD2 , selama perjalanan mata kami melototin semua toko yang bisa terlihat dari dalam tram, penumpang tram naik dan turun selama perjalanan kecuali kami. dan akhirnya ketika tram sampai ke perhentian terakhir restauran Indonesia yang dicari ga ketemu juga. Dengan bingung kami turun dari tram dan coba cari petunjuk dimana posisi kami sekarang. Bengang bengong beberapa lama di nowhere place itu akhirnya kembali tanya ke supir tram apakah tram mereka melewati wan chai dn dijawab iya, ya udah dengan setengah pesimis untuk dapat menemukan restauran Indo kami kembali naik tram dan kembali melototi keramaian jalan-jalan Hongkong yang dipenuhi toko2. Kembali saya ngakur ngakurin jalan yang ditempuh dengan gambar di peta. Tempat nya dah keliatan di peta tapi kok ga keliatan ya dari jalan?  Beberapa saat kemudian salah seorang teman berteriak apakah restauran di maksud dekat dengan sebuah plaza terkenal dan   saya jawab iya. Akhirnya kamipun turun di depan plaza Sogo tersebut dan sesaat kemudian restauran itupun terlihat dari kejauhan. Horeeee akhirnya ketemu nasi dan sambal balado lagi.................

Nama restaurannya adalah Sedap Gurih. Restauran ini di kelola oleh seorang ibu dari Indonesia dibantu beberapa pelayan yang juga berasal dari Indonesia. Menu yang ditawarkan di sana 100% indonesia asli, soal rasanya pun asli seperti masakan di Indonesia , ga ada beda sedikitpun. Ada menu ketoprak, telur dan kentang balado, pecel lele, rendang, rawon, ikan goreng dan ikan teri plus kacang goreng. Cumaaaaaan........... soal harga memang maknyus untuk ukuran backpacker ini hehe.......... harga disana untuk satu porsi lauk tidak termasuk nasi paling murah HKD50 alias sekitar 60 ribu, belum kalau pesan air "rasa-rasa", sayur, nasi tambah dll.. saya sendiri akhirnya pilih menu pecel ikan (yang termasuk murah dan juga dah ada sayurannya) plus air putih (yang ini gratis hehe...). Dan memang saat itu kami merasa berada di food heaven....dan baru menyadari bahwa betapa nikmatnya terong balado itu padahal sewaktu di tanah air menu tersebut jarang2 kami lirik....

Disana kami juga ketemu serombongan bapak2 dan ibu2 Indonesia yang sepertinya merupakan rombongan pejabat yang lagi "studi banding" ikut makan disana. Kami memandang iri melihat menu makanan mereka yang berlimpah dan sebagian malah ga diabisin sedangkan kita sendiri..............(halah lupakan...hahaha........)

Perut kenyang , mata mengantuk, kaki pegel,  badan remek, finally kita tertatih-tatih mencari stasiun MTR terdekat untuk kembali pulang menuju hostel. Tidak lupa kami mampir di Warung Chandra yang menjual keperluan dan makanan sehari2 produk Indonesia. Saya beli sebungkus Indomie goreng dan sekotak coffe mix disana. Sayang pemilik toko Chandra yang juga orang Indonesia ga terima uang koin Hongkong, padahal kita punya banyak nih hasil dari kembalian belanja.

 


Rabu, 20 Juli 2011

Mc D , The Peak dan Ladys Market

Setelah selesai dengan urusan kamar, kami segera bersiap2 untuk menjelajahi kota (atau negara ya...) kamar mandi ada di luar kamar, jadi pada gantian mandi, sama seperti kamar hostel yang kecil, kamar mandinya apalagi, kueeeecil amir sehingga buat bergerak aja susyah alias kalau dah masuk ya kaki anteng aja disitu, ga bisa bergerak kemana2 lagi  haha..........

Setelah mandi, siapkan alat tempur (kamera, duit n octopus card plus peta Hongkong hasil jarahan sewaktu di bandara) kami segera keluar dari penginapan dan ketika keluar dari gedung tersebut keramaian manusia dengan kerlap kerlip lampunya plus tulisan2 China yang gede2 di Mongkok menyambut kami. Tujuan pertama adalah mencari makanan dulu soale makan kami yang terakhir adalah makan tadi malam sedangkan sekarang dah mulai sore lagi......... Keliling2 coba cari makanan dengan tulisan halal hasilnya nihil dan setelah keliling sekitar 2 blok akhirnya diputuskan makan di Mc D. Didalam kita telateni setiap menu yang ada disana, takut ada campur2 nya hehe... dan kemudian semua memilih menu rice + chicken, ini adalah pilihan paling aman. Cuman disini ga ada saus sambel, ketika saya minta petugasnya cuman geleng2 doang, waktu minta saus tomat juga dijawab geleng2... yah terpaksa deh makan tanpa ada rasa pedes2nya, padahal kan saya paling males makan kalo ga ada sambel. ( sewaktu makan kedua kalinya di Mc D akhirnya kita kebagian saus tomat ,tapi itu juga ga dapat sebelumnya gara2 sayanya minta sauce tomato, padahal harusnya " ketchup tomato " )
Tujuan pertama kita sore ini adalah The Peak karena salah seorang teman udah kebelet pengen ketemu Shah Rur Khan di Madame Tussaud. Jadi kita turun menuju stasiun MTR  Mongkok dan naik kereta tujuan Central, dari sana dengan mengikuti petunjuk dipeta kami menyusuri jalan mendaki menuju stasiun peak tram yaitu tram yang akan membawa kita menuju The Peak, keunikan tram ini selain karena umurnya yang dah uzur juga trek rel tram ini yang mendaki 45 derjat karena memang The Peak sendiri adanya di bukit. Tram ini mempunyai tempat duduk yang menghadap ke depan semua dan berbeda dengan tram biasa yang mengelilingi Hongkong Island yang tempat duduknya hadap2 an.

Setiba di The Peak kemudian kita mengunjungi Madame Tussaud, tiket masuknya HKD 140. Kemudian saya sendiri mencoba naik ke lantai /sky terrace dimana kita bisa melihat gedung2 Hongkong dari ketinggian namun berhubung kabut yang turun banyak sekali sehingga penglihatan kita terhalang, bahkan bisa dibilang ga liat apa2, wong semuanya putih. Udara disana lumayan dingin..... Spot kunjungan disana selain Madame tussaud dan terras pandangnya ya...poto2 di depan gedung The Peak, di tram tua, ada taman kecil dibawahnya plus ada mall disana kalau mo shopping2 :) Sempat terlihat banyak juga pengunjung yang foto2 di depan sebuah rumah batu bergaya england gitu yang dihiasi lampu2...tapi kita ga tau rumah apaan itu.

Puas disana kami kembali menuju Central (tepatnya pelabuhan ferry) dengan naik bus, biayanya sekitar HKD 5 (kalo ga salah inget...), dan berhenti pas di depan pier 7 ( atau 8 ya..) dimana kita numpang kapal kayu (ferry)  menyeberang menuju Kowloon, cuman bayar HKD 2 dan kita menikmati perjalanan melewati selat ini sambil menikmati gemerlap lampu2 gedung di Hongkong Island campur kabut :) 

Di Kowloon kita memutuskan naik bis ke Mongkok karena terminal bis nya langsung ada di depan pelabuhan dibandingkan naik MTR karena harus jalan lagi beberapa ratus meter. Namun setelah menunggu 1 jam lebih ternyata bus dengan no. yang kita ingini ga muncul2, kata petugasnya karena ada masalah tekhnis gitu...akhirnya kitapun bingung mo kemana. Tapi ada ibu2 yang kasihan melihat wajah2 kampungan kita ini yang kebingungan ngasih tahu kalau kita bisa naik bis dengan nomor yang lain namun tetap lewat Mongkok. Ya udah kita pun langsung naik bis tsb yang dari tadi dah berseliweran di depan kita dan cuman 15 menit kita sampai kembali di kawasan Mongkok.

Badan dah capek, mata dah mengantuk dan perut  juga minta diisi tapi ternyata hal itu masih kalah dibandingkan dengan keinginan untuk mengunjungi street market yang dah terkenal itu, jadi ketika kaki dah mau sampai ke penginapan kita sepakat untuk membelokan langkah mencari street market yang bernama Ladys Market. Sesuai petunjuk yang kami dapat kami menyusuri jalan yang ada di depan gedung hostel kami, jaraknya lumayan jauh sampai di sebuah perempatan kami belok kanan , tapi kok pasarnya dah mulai tutup? padahal infonya ladys market buka sampai dini hari. Ternyata salah tempat, ini bukan ladys market, pantesan tutup. Kami segera kembali mencari2 tempat tersebut dan akhirnya menemukan pasar dimaksud, dan tau nggak? ternyata pasarnya ada diseberang jalan gedung tempat hostel kami berada !!! ye elah...

Disana dijual macam2 barang, dari sepatu, kaus, patung ,gelang, tas, dll, pokoke pernak pernik ibu-ibu deh plus souvenir2 buat para pelancong. Tempat jualannya model kayak tenda2 gitu, yang didiriin di sebuah jalan yang sengaja ditutup. Disini kami ketemu beberapa orang Indonesia lagi yang asyik tawar2-an. Di tempat pertama kami lihat nawarin baju 3 biji HKD 100, tempat berikutnya 5 biji HKD 100, sikaaaat....  gantungan kunci lebih mahal dari Sing, harganya paling murah sebiji HKD 10, bahkan ada yang nawarin 5 biji HKD 80 ga mau kurang. Kalo tas banyak yang nawarin dengan deal harga HKD 100, gak tau deh kualitas gimana, ga ngerti soale...

Kelar dari sana dengan mengantongi kaus dan gantungan kunci (oleh2 langganan kwkwk.....) kami segera pulang ke hostel dan ga lupa beli mie instant untuk ngeganjel perut.

Sebelum tidur kita sempat diskusi dulu tentang penginapan, inti masalahnya kita hanya booking dua malam di hostel ini, dan untuk malam ketiganya di rundingkan apakah akan menambah satu malam lagi di penginapan ini atau kita akan seaching lagi yang lain dikarenakan kita ada rencana juga akan mengunjungi Shenzen ( ini rencana untung an soale kita juga gak begitu yakin apakah akan bisa lolos memasuki perbatasan atau tidak ). Hasil diskusi diputuskan bahwa kita akan extend satu malam lagi di hostel ini. Rencananya besok baru kita akan konfirmasi ulang dengan pemilik hostel.

Hari Ke Dua di Hongkong

Bangun pagi yang udah menjelang siang karena kecapean semalam kita mandi tanpa sarapan , kemudian kembali bersiap2 untuk explore Hongkong lagi. Tujuan pertama kali ini adalah ke Gian Budha di Ngongping 360. Namun sebelumnya saya konfirmasi dulu ke ruangan FO hostel untuk memberitahukan bahwa kami akan extend satu hari lagi. Namun ternyata encik2 yang punya hostel bilang untuk hari kami extend kamar udah full alias kamar yang kami tempati sekarang ini untuk lusanya udah ada yang booking. Ya sudahlah akhirnya pagi itu kita isi dengan keliling naik lift turun lift mengunjungi setiap hostel yang kami temui di setiap lantai untuk mencari kamar, dan memang lagi apes semua hostel di setiap lantai gedung ini untuk lusa sudah full booking semua. Semua FO nya bisa no room, dari yang fasih berbahasa Inggris sampai yang cuma bisa bahasa isyarat bilang no room. Huahh.... pegimane ini...

Temen ngajak untuk survey ke gedung laen..wah ini aja udah abis waktu setengah hari, belum capenya..huhu..kapan jalan2nya?  Akhirnya kita kembali ke FO hostel kita dan minjem internetnya untuk searching room untuk lusa, bayanginbooking sekarang untuk lusa...apa masih ada ya...

Hasil searching di dapat beberapa kamar yang masih available di penjuru Hongkong ini, harganya dah pasti agak mahal, pilihannya terbatas dan lokasinya.......... ini yang bikin saya rada grogi dari kemaren2, room yang available hanya ada di Chunking Mansion !!! .. tapi apa boleh buat, dari pada tidur di jalan akhirnya kita booking room yang menawarkan harga paling reasonable di sebuah hostel bernama FOUR SEASON hostel..................... ( kalau ga liat tulisan "hostel" dibelakangnya mungkin udah bikin kita teriak kegirangan, room hotel bintang 4 harganya murah banget hehe......).

Kelar urusan penginapan tadi yang bikin pagi cerah kita hilang begitu saja rombongan segera bergerak sesuai rencana awal, tapi sebelumnya kita singgah di sebuah mini market untuk beli roti dan minuman ( belum nyarap bro dari pagi.......), saya memilih sebuah roti isi susu setelah baca2 ingredientnya satu persatu dan mengambil satu sachet yang tampilan bungkusnya seperti susu Milo. Pas makan rotinya sih ok ok aja, tapi pas minum susunya kok kayaknya beda ya, rasanya rasa susu Milo tapi kok ada tambahan rasa berminyak gitu ya........

Ya sudahlah soale kita harus buru2 menuju MTR lagi, tujuannya sekarang ke stasiun Tung Chung, lokasi nya sama dengan bandara Hongkong kemaren. Sekeluarnya dari stasiun Tung Chun dengan mengikuti petunjuk arah sampailah kami di stasiun Cable car Ngongping 360. Saat itu antrian menuju loket cable car sangat panjang sampai ke tangga berjalan di gerbang masuk terminal. Untuk yang udah booking on line di beri jalur khusus sehingga mereka lebiha cepat sampai di loket sedangkan kita yang belum beli tiket terpaksa berjalan pelan2 seperti mobil di jalan tol yang lagi macet.

Di loket di jual tiket untuk single trip atau yang pulang pergi, trus ada juga dua pilihan kabin: cabin standar atau crystal cabin. Beda keduanya adalah kalau Crystal cabin lantainya dibuat dari kaca sehingga penumpang bisa melihat pemandangan di bawah cale car melalui lantai, sedngkan standar cabin lantainya seperti lantai biasa.

Harga tiket nya sbb :

Standar Cabin          Adult               children(3-11)               Senior(>65)

Round Trip              115                       58                               91
Single Trip                80                       41                               65

Crystal cabin

Round Trip               169                     112                              145
Single Trip               118                      79                               103




 



Kamis, 16 Juni 2011

Travelogue 4 Negara





Persisnya trip ini sudah direncanakan persis...sekali lagi..persis! setahun yang lalu, ketika secara iseng2 mendapatkan tiket murah dari Jakarta ke Kuala Lumpur, setelah dapat tiket itu jadi bingung mo kemana lagi, akhirnya terpilihlah Hongkong dan kawan kawannya yang menjadi destinasi  lanjutan.
Karena penerbangan yang saya ambil adalah penerbangan terakhir yaitu jam 20.30 maka saya berangkat dari kantor sore hari jam 4 an, dengan perhitungan setidaknya perjalanan membutuhkan waktu 2 jam plus 2 waktu yang dialokasikan unutk mengurus segala sesuatunya di bandara nanti. Bis Damri Bandara yang saya tumpangi berjalan lancar tanpa halangan yang berarti walau terlihat jalur dari bandara kendaraan berjalan padat merayap. Jam 6 sore saya turun diterminal 2 pemberangkatan internasional dan sesuai dengan janji bertemu dengan para travemate di depan Hoka Hoka Bento. Setelah meet & greet itu kami segera masuk untuk check in melalui self check in AA itu, bayar airport tax dan bergegas ke loket imigrasi. Sesuai dengan dugaan saya sebelumnya antrian di depan loket imigrasi mengular panjang sekali, kebanyakan dari para pengantri adalah bapak2 dan ibu2 yang mau umrah, dan yang pasti memang penerbangan malam dari terminal ini selalu di penuhi para calon penumpang.

Karena kita check in lebih awal dari waktu departure maka ketika mau masuk ke ruangan boarding kita di tolak dan disuruh menunggu di luar karena saat itu ternyata boarding gate digunakan untuk pesawat tujuan Singapore. Ini pengalaman pertama saya ditolak masuk boarding gate, biasanya mah boleh aja masuk biar nyampur juga dengan penunpang untuk tujuan yang berbeda karena yang penting kita menunggu di ruang boarding yang sesuai dengan yang ada di boarding pass. Ya sudahlah, jadi waktu menunggu itu kita gunakan untuk ngabisin air yang tersisa, tukar baju kantor dengan baju yang lebih nyaman dan melaksanakan sholat.

Jam 20.30 tepat pesawat mulai bergerak untuk lepas landas, bye bye jakarta,. dan jam 23.30 waktu KL pesawat mendarat dengan selamat di LCCT Kuala Lumpur.

Setelah urusan imigrasi yang juga diiringi antrian panjang kami segera menuju ke bagian departure dimana terdapat banyak restauran2 yang masih buka sampai tengah malam dan bahkan sebahagian buka 24 jam. Saya lihat Mc D sudah penuh dengan orang, diseberangnya ada restaurant taste of Asia, akhirnya pilihan ke jatuhkan kesana. Karena selain disana ada kursi sofanya yang empuk harga makanannya berdasarkan list yang terlihat lumayan bersahabat, rangenya sekitar 10 - 12 ringgit per menu. Tapi ternyata disana sebahagian besar menunya sudah habis tinggal menu mee hon plus telur dadar, yah sekali lagi yah sudahlah..... berhubung perut kami lapar sekali maka kami pesan menu yang tersisa itu dan duduk di kursi sofanya. Dan seperti biasa setelah makan kami masih bertahan duduk duduk sambil chicken2 sleep di sana menunggu pagi karena kami harus check in jam 4 untuk penerbangan lanjutan ke Hongkong.

Beberapa orang  yang juga seperti kami (nunggu pesawat pagi) terlihat disudut-sudut restaurant. Sekitar jam 2 dinihari datang serombongan keluarga  bersama anak2nya dan langsung ambil posisi di sebelah kami duduk, anak-anaknya segera pules tidur di kursi sofa itu dengan posisi memanjang, melihat itu saya juga ikut2 an tiduran berbantalkan ransel dengan menaikan kaki ke atas sofa buat ngelurusin badan dari semula posisi duduk. Sempat pulas beberapa saat sebelum dibangunkan teman yang lain untuk segera check in dan dengan setengah ngantuk kami melakukan check in melalui kios self check in, ternyata sekarang selain menggunakan kios check in disediakan juga sebuah alat ntuk check in menggunakan handphone.

Semua teman sukses mendapatkan boarding pass nya namun ketika saya mencoba ternyata boarding pass gak keluar. Setelah beberpa kali dicoba akhirnya petugas AA yang lewat menyarankan check in langsung ke counternya. disana  dinyatakan bahwa boarding pass ga keluar karena ada transaksi bookingan saya untuk pilihan seat belom "done", walaupun di kartu kredit saya sudah dinyatakan terbayar dan sudah ditagih. Namun saya ga  mau banyak berdebat dan akhirnya membayar kembali beberapa ringgit untuk pemesanan seat tersebut dan boarding pass pun didapat, sementara itu ransel saya harus juga ditimbang dan sukurlah beratnya pas 7 kg sesuai ketentuan AA max berat bag yang boleh di bawa masuk kabin, soale kalau lebih kan harus masuk bagasi dan itu berari harus bayar lagi kan.

Sehabis sholat subuh buru2 kami masuk ke gate karena waktu boarding tinggal setengah jam lagi dan jam tujuh lewat 10 menit  pesawat kami terbang menuju Hongkong. Perjalanan 4 jam itu rencananya akan saya pakai buat tidur saja sehubungan tadi malam nyaris ga tidur karena itu pas pesawa mengudara dan ga hanya saya saja pada tidur pules (kayaknya semua penumpang deh hehe.....terlihat dari banyaknya pintu jendela yang ditutup ), namun saya sendiri hanya sempat tertidur beberapa saat, selain karena rasa excited mungkin juga dikarenakan tempat duduk di kabin yang ga begitu enak, pertama karena ruang buat kaki yang sempit sehingga lutut jadi sakit karena kegencet seat di depannya, kedua juga sandaran seat yang tegak lurus dan ga bisa di rendahkan. Akhirnya waktu diisi dengan ngisi imigration card yang dibagikan oleh pramugari. Imigration card Hongkong terlihat lebih kecil dari imigration card kita atau punya malaysia dan Thailand yang mempunyai 2 sisi yang harus kita isi kedua-duanya dengan isi yang sama. Ukurannya hanya separoh karena hanya mengisi satu sisi saja, sedang sisi satu lagi langsung terisi karena terletak dibawah sisi  yang kita tulisi dan ada kertas copiannya, sehinggga ketika kita mengisi otomastis sisi yang dibawah juga dah terisi.

Sesuai jadwal 4 jam kemudian pesawat mendarat di Bandara Internasional Hongkong di pulau Lantau,  rada kedere juga ketika keluar pesawat dah ketemu huruf-huruf kanji yang ga ngerti maksudnya, jangan2 ga ada petunjuk englishnya, tapi ternyata kekhawatiran saya ga terbukti, di bandara tertulis petunjuk dengan tulisan China plus english, sehingga dengan mudah kita mengikuti petunjuk untuk keluar bandara. Sempat bingung sebentar karena petunjuk menuju loket imigrasi malah mengarahkan kita ke lokasi kereta, dan ternyata memang kita harus naik kereta itu dulu utuk sampai ke loket imigrasi, mungkin letaknya berada di terminal lain (mungkin ya, ga tau pasti juga sih...), setelah ketemu lokat imigrasinya ternyata dah banyak penummpang yang mengantre , kebanyakan yang mau masuk adalah keluarga dengan anak-anak nya, mungkin lagi musm liburan kali ya.

Sejam lebih kayaknya ngantri disana sebelum akhirnya kita lolos memasuki negara Hongkong. Kami segera menuju terminal bis di ujung lorong bandara, namun ketika telah sampai di terminal bis baru ingat kalau kita belom beli Octopus Card buat bayar bis nya. Akhirnya balik lagi ke dalam bandara untuk mencari loket yang menjualnya. Ketemunya di loket yang menjual tiket kereta. Walaupun ke downtown kita bisa juga menggunakan kereta namun karena tiket bis lebih murah maka kami tetap memutuskan naik bis, biayanya hanya HKD 33.

Perjalanan dari bandara ke Mongkok tempat tujuan kita lumayan lama sekitaran 1 jam, sempat deg2an juga karena sesuai petunjuk kita harus berhenti di perhentian ke 6, namun baru 3 atau 4 kali berhenti petunjuk di dalam bis menyatakan kita sudah mau berhenti di perhentian ke 6. Lha ada yang salah ga ya?  Namun kami memutuskan segera turun walaupun hitungan kita baru perhentian ke 5 dan ternyata dimana kita berhenti memang tempat yang kita tuju, mungkin bis tersebut tidak berhenti di tiap halte tergantung dari ada atau tidak adanya penumpang yang mau naik atau turun sehingga melewati beberapa halte dimana seharusnya bis itu berhenti.

kami memasuki jalan Aegryl dan menemukan bangunan besar dimana didalamnya ada lah lokasi penginapan kami. Di dalam gedung tersebut banyak terdapat hostel2 dan hostel yang telah kami pesan berada di lantai 14. Tidak banyak orang di lobi gedung ketika kami tiba dan begitu sampai di lantai 14 ternyata sudah banyak juga orang yang akan melakukan check ini dan sebahagian besar adalah orang dari Indonesia !!

Hostel kami menyediakan tempat tidur tingkat dalam setiap kamarnya dengan kamar mandi di luar. elain itu disediakan air panas dan air galon di luar kamar plus banyak tisue.... gak tau buat apa :)